Renungan Harian Youth, Senin 01 Februari 2021

Syalom …semangat pagi buat rekan-rekan Youth semuanya ….

Rekan-rekan jika ditanya tentang tujuan kehidupan … ternyata tidak semua kita bisa menjawabnya dengan mudah … terlepas dari semua situasi yang ada sebagai anak Tuhan seharusnya kita memahami tujuan kehidupan kita.

Apakah Visi kehidupan itu?

Visi merupakan sesuatu yang didambakan untuk dimiliki dimasa depan (what do they want to have). Visi menggambarkan aspirasi masa depan tanpa menspesifikasi cara-cara untuk mencapainya, visi yang efektif adalah visi yang mampu membangkitkan inspirasi. Proses perwujudan visi merupakan proses perwujudan rencana Allah. Jadi, yang terutama adalah Rancangan Allah dalam kehidupan kita.

Namun disisi yang lain, ada yang namanya Ambisi … seringkali Ambisi dikonotasikan negatif … namun Ambisi ternyata hal yang positif jika dikerjakan dengan motivasi hati yang benar. Ambisi menurut The Webstera’s Dictionary adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan. Berambisi adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu.

Belajar dari Kejadian 11:1-9 mencatat mengenai Kisah Nimrod. Nimrod adalah orang yang mula-mula memiliki ambisi untuk menyatukan umat manusia yang ada di muka bumi, dan mengumpulkannya pada sebuah kota dengan sebuah menara yang tingginya sampai ke langit. Namun, sebelum dia berhasil sepenuhnya, Tuhan menggagalkan usahanya untuk membangun menara yang tingginya hingga mencapai langit. Mengapa Tuhan menggagalkan usaha Nimrod? Karena dia membangun menara yang puncaknya sampai ke langit demi memenuhi ambisi pribadinya dan untuk ”cari nama” (ay. 3-4). Apabila proyeknya ini sampai berhasil, maka seluruh manusia di dunia pada masa itu akan menjadikan Nimrod sebagai “Allah.” Tentu saja sebagian besar umat manusia akan mencondongkan hatinya kepada “Nimrod” yang dianggap sebagai Allah yang terlihat dan nyata pekerjaannya. Allah sangat membenci kesombongan, oleh karena itu maka digagalkanlah rencana tersebut. Allah mengacaubalaukan bahasa mereka, sehingga masing-masing orang tidak mengerti bahasa yang diucapkan di antara sesama mereka sendiri. Ambisi Nimrod untuk mendirikan menara yang tingginya sampai ke langit gagal, karena itu bukan kehendak Allah.

Seringkali, kita terjebak dengan apa yang kita pikirkan baik, namun belum tentu selaras dengan apa yang Tuhan mau. Terkadang juga, kita terjebak dengan pemikiran bahwa “hal yang akan aku kerjakan ini punya tujuan besar untuk kemuliaan nama Tuhan” padahal ada maksud lain yang kita sembunyikan dibalik kata “untuk kemuliaan nama Tuhan”. Kita juga sering sekali terjebak, sampai akhirnya hal itu gagal kita capai dan berujung pada kekecewaan kepada Tuhan dengan berkata “Loh, bukannya baik maksutnya itu. Loh, kan niatnya baik?” Tahan, baik buat siapa dulu? Pertanyaan itu yang harusnya mulai kita jawab terlebih dulu. Baik untuk aku atau untuk Tuhan? Membawa kemuliaan bagi namaNya atau supaya aku terkenal dan di puja?

Berambisi sebenarnya sah-sah saja, berambisi mustinya adalah hal yang baik karena itu sebagai tanda ketertarikan kita untuk mengerjakan sesuatu hal. Namun, perlu kita ingat bahwa ambisi berujung petaka jika ambisi itu adalah ambisi yang salah. Tentu saja, ambisi yang salah adalah ambisi yang tidak selaras dengan Visi Tuhan dalam hidup kita.

Mengerjakan Visi Tuhan dengan ambisi kita, salah dong? TIDAK. Kembali lagi, ambisi adalah bentuk tanda ketertarikan kita mengerjakan sesuatu hal. Artinya, mengerjakan Visi Tuhan dengan disertai ambisi yang benar adalah yang Tuhan kehendaki bagi kita semua. Perbedaan antara ambisi yang benar dan yang salah terletak pada tujuan dan motivasi kita —apakah itu untuk kemuliaan Allah atau untuk kemuliaan diri sendiri.

Perlu diingat jika ambisi itu sudah terlalu besar dibandingkan visi kita sehingga kita mencari dan mempergunakan segala cara untuk mencapai visi itu, pada saat itulah kita mulai kehilangan fokus dari yang awalnya selfless menjadi selfish.

“Dalam niat mengejar kebesaran, kita justru menjadi kerdil.” —

Eli Stanley Jones, Misionaris

Bagaimana dapat mengetahui apa yang kita rencanakan itu merupakan visi Allah atau hanya ambisi diri yang salah?

Pertama, Berdoa kepada Tuhan

Apakah sewaktu membuat perencanaan menjabarkan visi kita terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan? Apabila belum mendoakannya, apalagi memang sengaja tidak mendoakannya dahulu, maka apa yang semula dianggap sebagai visi dari Tuhan, ternyata hanya ambisi pribadi saja.

Kedua, Mengandalkan dan Melibatkan Tuhan

Apakah sewaktu menjalanakan visi tersebut hanya mengandalkan kekuatan manusia atau melibatkan Tuhan untuk menjalankan visi yang katanya dari Tuhan? Bila hanya mengandalkan kekuatan sendiri, tentu saja akan gagal di tengah jalan.

Ketiga, Mengikuti Waktu Tuhan

Menjalankan visi Tuhan tanpa tergesa-gesa dan harus mengetahui secara rinci apa yang harus dikerjakan dan Tuhan pasti akan membuka jalan untuk mencapai visi yang Tuhan berikan kepada kita. Percayalah Waktu Tuhan selalu tepat dan terbaik. Tugas kita adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk siap dengan rencanaNya Tuhan dikerjakan dalam kehidupan kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.” Yesaya 55:8 TB

Komitmenku hari ini

Aku mau terus mempersiapkan diriku dengan baik, apa yang bisa aku kerjakan sekarang akan aku kerjakan dengan baik, karena Tuhan terus berkaya untuk mengerjakan rencanaNya dalam hidupku

ER300121 – KPH