Renungan Harian Youth, Selasa 07 Juli 2020

Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengertahui, apakah semuanya itu benar demikian. Kisah Para Rasul 17:11

Kisah pertobatan seseorang yang menyerahkan hidupnya kepada Kristus selalu mebuat hati kita tergetar. Salah satunya adalah kesaksian Charles Spurgeon (1834-1892) seorang pengkotbah besar dari Inggris yang memenangkan ribuan jiwa bagi Kristus. Pertobatannya terjadi ketika dia menghadiri sebuah kebaktian saat hujan salju yang dashyat. Kebaktian yang sebenarnya akan dibatalkan karena pendeta yang akan melayani terjebak oleh salju yang tebal. Namun, seorang pengerja yang juga berprofesi sebagai tukang sepatu naik ke mimbar dan mulai berkotbah.

Dia menyampaikan Yesaya 45:22.dalam kotbahnya. “Berpalinglah  kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Berpalinglah kepada-Ku dan kamu akan diselamatkan, hai seluruh ujung bumi!” Charles Spurgeon sebenarnya memiliki kesan yang sangat tidak mengesankan tentang pengkotbah yang saat itu berbicara, tapi firman Tuhan berbicara dengan sangat kuat dalam hidupnya dan membuatnya memutuskan untuk menyerahkan hidupnya pada Tuhan sejak hari itu.

Kisah Para Rasul 17 mencatat sebuah kontradiksi tentang respon orang-orang Tesalonika dan Berea ketika mereka menerima pemberitaan Firman Allah. Saat Paulus dan Silas memberitakan Kitab Suci di Tesalonika, orang-orang Yahudi di Tesalonika mengadakan keributan dan kekacauan yang pada intinya menggambarkan penolakan mereka (Kisah Para Rasul 17: 5). Bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Berea. Orang-orang Yahudi di Berea menerima firman Tuhan dengan segala kerelaan hati, dan mereka menyelidiki Kitab Suci setiap hari. Dalam terjemahan lain dikatakan Orang -orang Yahudi di Berea lebih terbuka pemikirannya, lebih terbuka hatinya.

Alkitab versi NIV menuliskan bahwa orang-orang Yahudi di Berea memiliki “noble characters” yaitu jujur, berani, dan tidak egois.

Mereka menerima firman Tuhan dengan sangat antusias. Ayat 12 mencatat bahwa banyak dari antara laki-laki dan perempuan Yunani yang terkemuka yang menjadi percaya lewat pemberitahuan Kitab Suci oleh Paulus dan Silas.

Hari-hari ini, kita mendapatkan akses yang sangat luas untuk pemberitaan Firman Tuhan. Ada renungan harian yang dibagikan untuk kita untuk dibaca atau didengarkan versi audionya, banyak rekaman-rekaman ibadah atau kotbah yang tersedia secara bebas, sebut saja siapa nama pengkotbahnya, dari aliran apapun, hamba Tuhan setenar apapun, dari manapun.

Rekan-rekan pemuda remaja, adakah hati kita, pikiran kita kita sediakan untuk terbuka menerima pemberitaan Firman Tuhan itu. Apakah kita menerima Firman Tuhan itu dengan jujur melihat diri kita, berani mengambil keputusan untuk berubah, tidak egois seperti orang-orang di Berea? Apakah kita menerima dan menyelidiki Firman Tuhan itu dengan antusias? Atau apakah kita membiarkannya lalu begitu saja, mengeraskan hati, dan tidak menerima kebenaran Firman Tuhan yang datang dalam hidup kita dan mulai membuat kekacauan seperti orang-orang di Tesalonika?

Ketika Firman Tuhan itu datang dalam hidup kita, kita bisa menolaknya dengan berkilah..Ah saya tidak suka hamba Tuhannya. Alkitab mencatat dalam Matius 13:57 “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka:” Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” bahkan Tuhan Yesus pun ditolak. Namun apakah hasil dari penolakan itu. Dalam ayat yang ke 58 dikatakan bahwa karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakanNya di situ. Penolakan akan firman hanya akan menimbulkan kerugian bagi diri kita sendiri. Atau kita menolak Firman Tuhan yang menyatakan kesalahan kita seperti yang tercatat dalam Matius 14:4 ketika Herodes ingin membunuh Yohanes Pembaptis yang menegur kesalahannya. Apapun alasan kita menolak firman Tuhan, hal itu tidak akan membawa kebaikan bagi hidup kita.

Yakobus 1:21b “…terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Dilanjutkan dengan ayat ke 25,”Tetapi barangsipa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”

Rekan-rekan pemuda dan remaja, setiap kali kita mendengar firman Tuhan, tantangan yang sama akan diperhadapkan dalam hidup kita. Apakah kita akan membiarkan firman Tuhan itu lalu begitu saja seperti seorang yang mengamat-amati wajahnya pada cermin. Atau kita akan mendengar, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan itu yang akan mengubahkan seluruh kehidupan kita.

Mari kita buka pikiran kita, hati kita dan mengijinkan firman Tuhan itu mengubahkan kehidupan kita menjadi baru. Mari belajar dari orang-orang Berea yang membuka hdupnya untuk Firman Tuhan dan dengan penuh antusias belajar kebenaran Firman Tuhan. Percayalah kita akan menjadi orang-orang yang berbahagia.

Komitmenku hari ini

Aku mau selalu terbuka dengan kebenaran firman Tuhan, Janji-janji didalamnya, setiap teguran dan peringatan yang diberikan, supaya aku terus bertumbuh dalam kebenaran.

DDO – KPH