Renungan Harian, Sabtu 02 Januari 2020

Mazmur 73:13-14, Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.

Ditengah semua situasi pandemic yang kita hadapi bersama, kita banyak menjumpai orang-orang yang mengalami kesusahan dan dukacita. Bahkan hal ini terjadi bagi semua orang bahkan juga anak-anak Tuhan. Mungkin kita pernah mendengar atau mungkin melihat secara langsung orang berkata kenapa orang percaya masih harus mengalami masalah dan penderitaan”.

Dan seringkali jika kita perhatikan bahwa perkataan-perkataan seperti itu kerap kali melemahkan iman kita kepada Tuhan, dan membuat kepercayaan kita menjadi goyah.

Namun dari pemazmur kita hari ini belajar  … Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya (ayat 1). Kebaikan hati Allah bagi anak-anakNya adalah sebuah kebenaran yang Mutlak, namun kita tidak boleh salah dalam mendefinisikan kebaikan hati Allah.

Kebaikan hati Allah bukan saja tentang “Berkat” tetapi juga setiap “Proses Kehidupan” yang semakin menuntun kita untuk bertumbuh dihadapan Tuhan.

Iblis memang selalu berusaha membawa penderitaan bagi manusia, namun juga terkadang masalah dan penderitaan tidak selalu berasal dari si jahat. Tetapi kadang bentuk tanggung jawab dalam kehidupan kita karena hidup kita yang salah dan tidak benar.

Saat kita mengalami penderitaan silih berganti, bukan berarti Tuhan tidak sanggup untuk menolong dan menyatakan mujizatNya bagi kita. Bhakan Terkadang saat kita sedang berjuang untuk hidup benar, seolah olah penderitaan enggan untuk jauh dari kita, ternyata tidak selamanya hidup benar mendatangkan kenyamanan atau berkat. Kadang kita harus diperhadapkan dengan berbagai hal, supaya iman kita teruji dan sikap hati kelihatan seperti apa.

Kalau kita melihat di Mazmur 73 : 1-28. Asaf juga mengalami hal yang sama. Di ayat ini, asaf menceritakan keluh kesahnya kepada Tuhan.  Karna pada waktu itu asaf melihat, orang jahat yang berlaku fasik tidak mengalami masalah dan penderitaan, malah kehidupan mereka malah baik. Tetapi sebaliknya, asaf melihat kehidupan orang benar malah mengalami hal hal yang tidak baik.

Bagaimanapun juga keadaannya, kita harus selalu mengkoreksi diri kita! Sudahkah kita benar benar hidup dalam kebenaran? Kalau kita dipercaya Tuhan utk suatu pelayanan, sudahkah kita melayani Tuhan dengan benar?

Jangan sampai kita malah marah dan menyalahkan Tuhan.

Kita perlu memiliki sikap hati yang benar dihadapan Tuhan ketika kita diperhadapkan dengan situasi yang kurang baik. (Mazmur 73:26)

Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa.

Pemazmur memegang sebuah kebenaran Mutlak bahwa Tuhan adalah bagian terpenting dalam kehidupan kita, apapun keberadaan yang sedang kita hadapi Tuhan adalah bagian dalam kehidupan kita. Tidak semakin menjauh dari Tuhan namun semakin dekat dengan Tuhan.

Dengan kata lain, pertobatan harus kita lakukan setiap hari, “jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” Matius 3:8 . Mari kita belajar dari pemazmur yang selalu berdoa dan memohon, supaya dirinya selalu dikoreksi,diuji, dan diselidiki. “Ujilah aku, ya Tuhan, dan cobalah aku ; selidiki batinku dan hatiku”. Mazmur 26:2

Bila kita sudah hidup dalam pertobatan, namun penderitaan masih harus kita alami, berarti kita sedang berada dalam proses ujian kesetiaan, sebab untuk setia ditengah penderitaan bukanlah hal yang mudah. Tetapi ketika kita dalam penderitaan Tuhan mendapati kita setia, maka ada upah bagi mereka yang setia.

Tetaplah berjuang untuk hidup benar walau dalam penderitaan, karena dibalik semuanya selalu ada kemuliaan dan pemurnian

Tuhan Yesus memberkati.

YG