Renungan Harian, Sabtu 13 Februari 2021

Syalom Semangat Pagi Bapak Ibu Saudara Saudari yang dikasihi Tuhan Yesus . . . .

Pada tanggal 26 Oktober 2010, kepulauan Mentawai di terjang Tsunami yang meluluhlantakkan rumah-rumah penduduk, menyebabkan banyak orang meninggal, dan hilang.  Namun dibalik tragedi yang memilukan ini, terselip kisah yang mengharukan tentang seorang bocah berumur 4 tahun yang selamat dari gelombang Tsunami.  Namanya Andripal Samaloisa.  Ia tinggal bersama neneknya pada saat musibah itu terjadi.  Andrian terpisah dengan neneknya akibat terjangan gelombang yang begitu dahsyat dan ia terbawa oleh arus gelombang ke lautan lepas.  Tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa Andrian kecil akan selamat dengan kondisi seperti itu.  Bagi mereka pastilah dengan sekejab Andrian akan tenggelam ditelan oleh ganasnya ombak lautan.  Andrian yang tidak berdaya dan tidak punya kemampuan apa-apa tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya.  Jangankan bocah cilik seperti Andrian, orang dewasa sekalipun tidak akan mampu mengalahkan dahsyatnya terjangan Tsunami.  Namun siapa yang menyangka bahwa pada akhirnya Andrian ditemukan selamat, dan yang paling mengagumkan adalah ia bisa selamat hanya dengan berpegang pada sepotong gabus di tengah lautan yang luas tersebut.  Andrian tetap hidup karena ia terus ”berpegang” pada potongan gabus yang menopang tubuhnya.

Saudara sekalian apa yang dialami Andrian bisa menjadi cermin bagi kehidupan kita saat ini.  Bukankah demikian hidup kita di tengah-tengah belantara samudra raya kehidupan ini?  Kita tidaklah mampu menjalani kehidupan ini bila hanya dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri.  Sebentar saja kita akan hanyut dan tenggelam oleh derasnya arus kehidupan dunia yang terkadang memikat kita dengan berbagai kenikmatan dan godaannya, namun terkadang juga menghancurkan kita dengan musibah dan penderitaan yang sepertinya tak kunjung henti.  Di dalam menjalani kehidupan ini kita butuh pegangan yang dapat terus kita pegang agar kita tidak hanyut dan tenggelam.

Nah saat kita goyah pada apa kita berpegangan ? Sesuatu yang sementara atau yang kekal? Jika kita berpegangan pada apa yang sementara (harta, kekuasaan, kesehatan ) karena segala sesuatu yang ada dimuka bumi ada umurnya ada waktu (seperti yang disampaikan oleh Pengkhotbah) yang sekejap dapat hilang maka goyahlah kita karena tidak ada pegangan lagi

Tetapi jika kita berpegang pada sesuatu yang kekal maka sekuat badai yang menerjang asal kita terus berpegang maka kita akan selamat..

Firman Tuhan menjadi pegangan kehidupan kita yang kekal

Bangsa Israel menjadi contoh bagi bangsa2 lain pada saat itu dan bagi kita sekarang yang mengajarkan kepada kita bagaimana Allah menyatakan kasih dan anugerahnya bagi umat manusia. Perjalanan 40 tahun bangsa Israel (yang terdapat dalam Kejadian 16) mengajarkan kita bahwa Firman Tuhan menjadi sumber pegangan kehidupan manusia. Mereka benar-benar tidak mempunyai apa-apa untuk dijadikan pegangan dalam perjalanan mereka. Bahkan untuk untuk urusan mendasar yaitu makan, Allah memberikan manna . Allah sedang mengajarkan bangsa israel bahwa manna itu ada karena berasal dari FirmanNya. Dalam perikop tersebut juga disinggung soal pakaian, kasut, tuntunan (tiang awan dan api), perlindungan yang semuanya itu demi mengajarkan sebuah kerendahan hati bahwa sumber kehidupan mereka bersal dari Firman Allah.

Masa itu dipakai Allah untuk menunjukan bahwa segala keberadaan mereka adalah semata-mata karena Allah saja. Masa itu dipakai Allah untuk menyiapkan mereka agar mereka hanyut dalam keputusaan mereka dan mencari pegangan lain atau mereka lupa atas segala kelimpahan dan tidak lagi bergantung kepada Allah

Saudara, sebagai anak-anak Tuhan haruslah kita hidup berpegang pada firman Tuhan, karena Allah sang pemberi firman itu adalah sumber kehidupan dan Allah yang setia pada janjiNya.

Imamat 26:3-4 Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan  pada masanya,  sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.

Sambil menantikan hari Tuhan yang pasti akan digenapiNya, marilah dengan iman kita bergantung sepenuhnya kepada Dia, sang sumber hidup, dengan terus berpegang kepada firmanNya.  Percayalah, bahwa janji Allah yang akan menjemput kita pada kedatangan Yesus yang kedua kali pastilah akan tergenapi.

Amsal 7: 1-2 Hai anakku, berpeganglah pada perkataanku  dan simpanlah perintahku dalam hatimu.  Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup  simpanlah ajaranku seperti biji matamu.

Tuhan Yesus Memberkati

TC