Renungan Harian, Selasa 27 Oktober 2020

Didalam kehidupan berjemaat, kadang dapat membuat kita mengalami konflik yang tajam dengan saudara seiman yang lain, terlebih dalam kemonitas yang kecil seperti kelompok sel, dimana perbedaan pendapat atau konflik sangat mungkin terjadi diantara anggotanya. Mengalami konflik dengan seseorang adalah hal biasa, tapi kita perlu waspada dengan menjaga sikap dan tindakan kita agar konflik tersebut tidak semakin memburuk, menimbulkan perpecahan  dan merugikan pekerjaan Tuhan oleh sbb itu ada beberapa prinsip Alkitab yg perlu kita pahami, supaya kita semua dapat mengambil sikap yg benar waktu menghadapi konflik :

Pertama setiap pertengkaran timbul dari hawa nafsu kita (Yakobus 4:1; 1 Korintus 6:7-8)

Seringkali dalam sebuah konflik , banyak orang mencari siapa yang bersalah dan menimpakan seluruh tanggung jawab kepada yang bersangkutan. Namun firman Tuhan mengajar agar kita lebih peka terhadap kesalahan / dosa kita sendiri daripada kesalahan / dosa orang lain. demikian pula dibutuhkan dua orang yang menuruti hawa nafsunya sehingga pertengkaran terjadi. Itu sebabnya Firman Tuhan mengatakan bahwa setiap pertikaian diantara orang Kristen adalah sebuah kekalahan bersama. Tanggung jawab kita adalah melihat dosa kita sendiri yg lebih besar dan bertanggung jawab atasnya lebih daripada melihat kesalahan orang lain. (Matius 7:3-5).

Kedua jangan menyelesaikan konflik dengan cara dunia (1 Korintus 6:1-7)

Ayat-ayat ini tidak melarang kita untuk menyelesaikan perkara di pengadilan. Ada beberapa perkara  yang memang harus diselesaikan  lewat keputusan hakim sebagai bagian dari pemerintah yang ditetapkan Allah. Ayat ini mengajarkan bahwa orang percaya memiliki sebuah hukum yg lebih tinggi dari hukum dunia dan malaikat.

Oleh karena itu kita perlu menguji hati kita dan memilih untuk bersikap taat pada kebenaran Firman. Saat menghadapi konflik dengan seseorang kita perlu menyadari bahwa sekedar  berada dipihak  yang menang didalam konflik bukan segalanya.

Apalagi kalau kita menggunakan cara-cara duniawi, jauh lebih baik kita mengambil posisi yang benar sekalipun untuk itu kita harus mengalah dan merendah, karena kita percaya Tuhan.

Ketiga Damai sejahtera lebih berharga dari keadilan duniawi (Matius 5:39-40; Roma 12:1-19).

Sekali lagi ayat-ayat ini tidak melarang kita untuk memperjuangkan keadilan. namun kita perlu benar-benar menguji hati kita dan motivasi kita saat berpekara dengan orang lain, apakah kita sedang benar-benar memperjuangkan keadilan/ kebenaran atau memperjuangkan hawa nafsu dan kepentingan diri kita sendiri.

Jika kita lebih mengutamakan damai sejahtera, maka hati nurani kita akan terbuka dan melihat betapa liciknya tipu muslihat hawa nafsu yang tersembunyi rapat dibalik keadilan yg kita perjuangkan. 

Matius 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah

Jadi Damai Sejahtera adalah landasan bagi tumbuhnya kesatuan dan kekuatan bersama, memang mengorbankan kepentingan diri sendiri terkadang adalah harga yg harus dibayar untuk memelihara kesatuan dan mendapat kekuatan didalamNya.

Selamat menjadi pembawa Damai.   

Tuhan memberkati

EW