Renungan Harian Rabu, 03 Maret 2021

Syalom Semangat Pagi Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan . . .

Renungan kita pada pagi hari ini terambil dari 2 Raja-Raja 4:1-7, Sebuah peristiwa mujizat tentang minyak seorang janda dengan perantara Nabi Elisa.  Sebuah kisah yang memberikan pelajaran kepada kita bahwa melalui kesulitanpun Allah sanggup membawa kepada pemulihan

Kisah tentang minyak seorang janda merupakan salah satu dari mujizat melalui perantara Nabi Elisa. Pada zaman ketika Elisa hidup, raja-raja Israel secara terang-terangan menyembah Baal, yaitu dewa orang Kanaan. Sepertinya penulis kitab II Raja-raja sengaja menyelipkan kisah mujizat ini diantara kisah sejarah raja-raja Israel dan Yehuda yang telah melakukan pemberontakan kepada Allah alias menyimpang dan tidak setia lagi. Kisah ini terjadi bukan dalam lingkungan kerajaan melainkan justru terjadi dikalangan rakyat biasa. Agaknya salah satu mujizat ini dituliskan untuk menunjukan kepada rakyat pada waktu itu bahwa saat umat Allah setia kepada Allah maka akan mendapatkan berkat dan sebaliknya jika tidak setia kepada Allah maka akan mendapat hukuman. Seperti yang telah dilakukan raja-raja mereka.  

Melalui kisah mujizat tentang minyak seorang janda ini setidaknya kita dapat belajar beberapa pelajaran kehidupan dalam pengiringan kita kepada Allah.

Tetaplah setia kepada Tuhan walau dalam keadaan sulit

4:1, Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru:”Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

Dapat disimpulkan bahwa keluarga ini merupakan keluarga yang taat beribadah kepada Tuhan. Tetapi kemudian kondisinya yang buruk dijelaskan bahwa suaminya telah meninggal, meninggalkan dua anak lelaki yang masih muda tanpa harta yang dapat diandalkan oleh keluarganya. Tak lama lagi anak-anaknya akan dijadikan budak karena tidak dapat membayar hutang dan perempuan itu merasa putus asa melihat keadaan keluarganya. Keluarga ini membuat keputusan yang tepat, yaitu dengan tetap setia beribadah kepada Allah dan datang kepada Elia untuk meminta petunjuk dari Allah (hal yang bertolak belakang jika para Raja-raja Israel berpaling kepada Allah lain)

Keadaan sulit dapat menimpa semua orang tetapi apakah pada saat-saat yang sulit itu kita dapat setia mengikut Tuhan atau justru berpaling kepada Tuhan yang lain. Tuhan tidak menjanjikan bahwa langit selalu terang tetapi berbahagialah orang yang tetap bertahan dan masih hidup takut akan Tuhan dalam kondisi yang sulit. Tuhan adalah Tuhan yang setia kepada. Mari kiranya kita tetap setia dalam kondisi yang terburuk sekalipun dalam kehidupan ini. Bukan pada besarnya masalah tetapi apa respon kita . . .

Bersiaplah saat ujian ketaatan itu datang 

4:2 Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak” 4:3 Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. 4:4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

Pada ayat 2 diberitahukan bahwa janda itu sudah tidak memiliki apapun kecuali hanya memiliki buli-buli berisi minyak tidak ada lagi yang berharga. Buli-buli adalah sejenis guci atau botol kecil. Sesuatu yang tidak berharga dalam pandangan orang lain tetapi bagi janda itu, buli-buli itu merupakan sesuatu yang berharga. Maukah Ia menyerahkan agar Tuhan dapat memakainya untuk melakukan mujizat. Tuhan sedang menguji ketaatan janda itu untuk melepaskan sesuatu yang berharga menurutnya.

Tuhan mungkin akan meminta kita menyerahkan apa yang paling berharga dalam hidup kita untuk mewujudkan kehendakNya yang lebih besar dari yang kita duga. Terkadang kita terlalu mengenggam apa yang menurut kita berharga tetapi Tuhan ingin kita menyerahkan yang berarga tersebut kepadaNya karena itu merupakan bentuk ketaatan yang sejati.

Pemulihan itu terjadi

4:5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. 4:6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir. 4:7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah  dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”

Bejana-bejana yang dipinjamnya tadi terisi penuh mengalir dari buli-buli minyak dan tidak dapat menampung lagi. Mujizat ini terjadi karena keluarga janda ini hidup takut akan Tuhan dan hal ini sudah dibuktikan dengan ketaatannya melakukan apa yang diperntahkan Elisa. Minyak itu mengalir seperti tidak ada habisnya bagi janda ini. Pada ayat 7 kita dapat mengetahui akhirnya melalui mujizat ini maka kondisi keluarga janda ini dapat mengalami pemulihan. Bukan pemulihan yang biasa saja melainkan pemulihan yang sempurna dari Tuhan bagi umat yang setia kepadaNya.

Tuhan sanggup melakukan pemulihan dari setiap kesulitan hidup yang kita alami. Mujizat itu tetap ada bagi orang yang hidup takut akan Tuhan. BerkatNya akan mengalir tiada henti bagi umat yan dikasihiNya.

Dalam keadaan damai dan makmur, mudah sekali mengatakan “percayalah kepada Tuhan”. Tetapi ketika kegelapan menimpa dan jalan keluar tiada, mampukah anda mengulangi kalimat tersebut. Akankah anda tetap setia dan menantikan kehendak Tuhan, ketika di masa-masa pengujian, janji-Nya tampak keliru dan tidak digenapi. Kita harus mampu bertahan dalam hidup takut akan Tuhan. Ingatlah para jemaat bahwa ketika penggiringan kita kepada Tuhan diuji maka yang harus kita lakukan adalah tetap taat kepada kehendaknya dan jangan berpaling daripadaNya.

Tuhan berkerja dengan cara-caranya yang ajaib yang mampu memulihkan kehidupan kita. Tuhan tetap menyertai umatNya yang setia kepadaNya. Ketika mujizat terjadi didahului sebuah kesetian dan ketaatan kita kepada Allah, Allah ingin menunjukan bahwa ketika mujizat itu terjadi maka bukan karena perbuatan dan apa yang berharga yang kita punya tetapi semata-mata karena Allah.

Sekali lagi dalam dalam kisah ini Allah ingin menunjukan kepada Israel dan kita semua bahwa dalam konsidi yang sulit dan tidak mungkin sekalipun Allah tetap setia kepada umatNya. Dan Allah ingin umatNya mengalami pemulihan.

Tuhan Yesus Memberkati

TC