Renungan Harian Kamis, 16 April 2020

Bilangan 22:28
Ketika  itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?”

Beberapa kali ketika sedang mengendarai sepeda motor, saya sangat terkejut jika ada seekor kucingyag berlari kencang dan menyebrangi jalan persis di depan kendaraan saya.  Saya pun merespon dengan  membunyikan klakson (walaupun kucing tersebut tidak mengerti makna dari bunyi klakson saya) dan juga segera menekan tuas rem.  Hal ini beberapa kali saya alami dan selalu saja di dalam diri ini memaknainya sebagai sebuah peringatan untuk lebih berhati-hati lagi ketika sedang berkendaraan.  Barangkali, Bapak, Ibu, Saudara sekalian pernah mengalami pengalaman yang sama dengan yang saya alami, bahkan mungkin dengan binatang yang berbeda.

Catatan di dalam Alkitab juga merekam sebuah pengalaman manusia dengan binatang sebagai sebuah peringatan.  Ya, binatang memang merupakan makhluk hidup yang lebih rendah derajatnya daripada manusia, tetapi jika ini terjadi, hal ini berarti

Allah dapat melakukan segala perkara untuk membuat setiap manusia menjalani hidup yang lebih bermakna.

Bilangan 22:21-35

Dalam kisah ini, pengalaman Bileam menjadi sebuah contoh bagaimana seseorang yang memiliki derajat kehormatan yang tinggi dihadapan manusia pada zamannya, justru mendapatkan sebuah peringatan dan teguran dari seekor keledai.  Keledai yang dianggap sebagai binatang yang bodoh (kamus Alkitab mencata keledai sebagai binatang yang tidak berakal) telah diijinkan Tuhan untuk matanya melihat malaikat dengan pedang yang terhunus dan kemudian bisa berbicara.

Hal ini bermula dari respon Bileam yang seolah-olah menunjukkan bahwa dia tidak bisa digoyahkan atau tergiur dengan dengan 3 kali tawaran dari Balak yang mengundangnya (Bil. 22:9-18).  Tetapi, satu hal yang Bileam tidak sadari bahwa Allah mampu melihat segala motivasi hati setiap manusia.  Penolakan Bileam kepada utusan dari Balak hanya kelihatan sebagai sesuatu keteguhan hati yang semu, tetapi dihadapan Tuhan, itu adalah sebuah cara untuk mendapat keuntungan yang besar. Sekali lagi, kita belajar bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah.

Allah tidak bisa dipermainkan dengan tindakan kita yang seolah-olah sudah benar.  Dia lebih tertarik dengan setiap tindakan kita yang melakukan Firman Tuhan tepat seperti apa yang Dia perintahkan

“Jikalau orang-orang itu memang sudah datang memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan.” Bilangan 22:20

Selanjutnya, melihat seekor keledai mampu melihat Malaikat Tuhan dan bisa berbicara kedapa tuannya adalah bukti  kedaulatan Tuhan dapat berlaku kepada segala makhluk.  Dengan kemampuan melihat sesuatu yang ilahi, sangat mengherankan bila keledai yang tidak memiliki akal itu menyimpang dari jalannya dan membuat Bileam marah.  Tiga kali keledai itu melihat Malaikat Tuhan, tiga kali ia dipukul oleh tuannya dan Tuhan membuat keledai itu dapat berbicara. (Bilangan 22:27-30)

Kemampuan berbicara dan berani menegur tuannya adalah hal yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh binatang-binatang pada umumnya.  Tetapi Allah sendiri yang memakai keledai tersebut untuk berbicara untuk mengajarkan kepada tuannya kepekaan untuk melakukan kehendak Allah. 

ketika kita sudah mengerti kehendak Allah tetapi kita hanya mementingkan kehendak di dalam diri kita saja, maka

Allah dapat melakukan apa saja untuk memberikan peringatan kepada kita tentang kepentingan Allah mengenai segala perkara di dalam hidup ini.

Kepekaan terhadap Firman Tuhan adalah sebuah pelajaran yang penting dan berharga bagi setiap manusia yang adalah ciptaan yang paling  mulia dan berharga.  Allah bisa bertindak dan memberikan peringatan kepada kita melalui apa saja, baik alam, situasi di sekitar kita, bahkan juga melalui binatang. 

Milikilah kepekaan dan lakukan Firman Tuhan tepat seperti apa yang Tuhan ingin kita lakukan

Tuhan Yesus Memberkati

RM