Renungan Harian Youth, Kamis 04 Juni 2020

Bahan Bacaan : Bilangan 13 : 25-32

Suatu ketika ada dua orang polisi yang sedang menanyakan kronologi sebuah kecelakaan dua arah pada kedua belah korban. Dari hasil wawancara, polisi sulit untuk mencari fakta sesungguhnya karena dari kedua pihak sama-sama yakin bahwa cerita mereka adalah kejadian yang sebenarnya. Akhirnya polisi pun berusaha mencari saksi-saksi lain dari kejadian tersebut untuk memperoleh data lain dari kejadian tersebut.

Tanpa kita sadari, sering kali kita juga berada pada posisi kedua korban kecelakaan tersebut. Menganggap kita lah yang benar dan orang lainlah yang patut dipersalahkan atas semua yang terjadi. Menariknya, dalam berbuat baik pun, fenomena ini pun juga terjadi. Kita menganggap kita telah mengerjakan sebuah hal yang paling baik yang kita bisa untuk seseorang. Akan tetapi, hal tersebut tidak dipandang sama oleh orang itu, bahkan ada orang yang justru mempersalahkan apa yang kita lakukan.

Seorang penguasa romawi bernama Markus Aurelius pernah berkata, “Semua yang kita dengar adalah opini bukan fakta. Semua yang kita lihat adalah perspektif bukan kebenaran”.

Perspektif adalah sudut pandang yang kita pakai dalam melukiskan suatu benda sebagaimana yang terlihat oleh mata.

Perspektif tidak hanya tercipta dari penglihatan, namun seluruh panca indra kita bertanggung jawab atas perspektif yang kita punya. Seperti kisah keduabelas pengintai, sepuluh diantaranya memiliki perspektif yang salah mengenai kebesaran Allahnya. Sehingga satu bangsa harus menanggung hukuman atas tindakan tersebut.

Alkitab mengajarkan bagaimana kita harus bisa memproses semua hal dengan benar sebelum akhirnya kita membuat sebuah keputusan.

Ada 4 poin yang harus dikerjakan agar kita memiliki perspektif yang benar akan sesuatu.

1. Memberi jeda antara kejadian dan tindakan.

Yakobus 1:19. Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.

Dalam hal ini Yakobus mengajarkan kepada kita agar kita memberikan jeda sebelum kita merespon sesuatu atau mengambil keputusan. Jeda memberikan kita waktu untuk berfikir, mengamati, dan menghitung segala hal yang akan terjadi. Proses ini lah yang harus kita miliki sebelum mengambil keputusan dalam bertindak.

2. Carilah sudut pandang lain.

Amsal 15:22, Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

Sudut pandang akan sebuah kejadian akan semakin sempurna apabila kita dapat melihat hal tersebut dari berbagai sisi. Sebagai makhluk yang memiliki sudut pandang yang sangat terbatas akan segala sesuatu, hal ini akan sangat membantu kita untuk dapat melihat sesuatu secara lebih utuh. Mendiskusikan sebuah persoalan dengan orang lain yang dewasa akan memberikan sudut pandang yang lain yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.

3. Berdoa.

Amsal 21:30, Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN.

Bagian ini menjadi bagian yang terutama dari poin-poin sebelumya. Hanya Tuhanlah yang memiliki sudut pandang yang sempurna yang tak terikat oleh ruang dan waktu. Ia lah yang dapat melihat yang akan datang dan yang telah datang. Hanya dialah yang mampu menyempurnakan segala pertimbangan dan kebijaksanaan manusia.

Dalam hal ini marilah belajar untuk selalu bijaksana dalam menimbang segala sesuatu, melihat dengan perspektif yang benar, mengerjakan setiap prosesnya dengan benar.

Sehingga setiap tindakan kita akan mencerminkan tindakan baik yang akan dilihat semua orang dan dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

BGK – AEP