Renungan Harian, Rabu 24 Juni 2020

Kejadian 32:9-12.

Mudik adalah budaya dalam masyarakat kita, setiap budaya memiliki kebiasaan masing-masing dengan pilihan waktu masing-masing, biasanya mengikuti hari raya agama seperti idul fitri ataupun natal. Momen mudik menjadi momen yang ditunggu-tunggu bahkan walaupun mengeluarkan biaya yang tidak murah, tetapi tetap diuasahakan bisa mudik untuk bertemu dengan keluarga yang dikasihi.

Pertemuan keluarga seharusnya menjadi hal yang sangat menyenangkan. Terlebih bila sudah lama tidak bertemu dan berpisah dalam jarak yang jauh. Semangat kekeluargaan menghadirkan suasana yang penuh gembira. Kasih didalam keluarga menjadi sebuah pengikat kasih dalam keluarga.

Dalam Kejadian pasal 32, Setelah Yakub pergi dari rumah laban bersama dengan keluarga besar dan juga ternaknya yang banyak, Yakub berencana kembali ke tanah kelahirannya yaitu tanah Kanaan. Namun tidak demikian dengan Yakub  justru kepulangannya ke tanah leluhur menjadi masalah dan pergumulan yang sangat besar, karena perjalanannya harus melewati daerah kekuasaan Esau, kakaknya.

Akar masalahnya adalah hubungan Yakub dengan Esau rusak, Yakub pernah menipu Esau dan merampas berkat yang seharusnya menjadi Esau dari ayah mereka yaitu Ishak.

Kecurangan Yakub ini menyebabkan Esau geram dan berkeinginan membunuh Yakub. Tetapi dengan pertolongan Ribka ibunya ia menyelamatkan diri dari amukan Esau.

Anak yang biasa tinggal di rumah dan disayang ibunya, menjadi seorang pelarian ia pergi ke Aram dan menumpang tinggal dirumah Laban, saudara ibunya.  Itulah kehidupan lamanya, jd untuk pulang ketanah leluhurnya tidak ada jalan lain kecuali harus bertemu Esau.

Namun karena Yakub dihantui oleh dosa dan kesalahan masa lalu, pertemuannya dengan Esau menimbulkan ketakutan dan sesak hati. Dalam kesendiriannya Yakub merenung memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalahnya.

Dalam pergumulannya dengan masalahnya itu, Tuhan menjumpai Yakub. Dalam kejadian 32:22-32, Alkitab mencatat Pergumulan Yakub dengan Allah. Bahkan disanalah Tuhan memberikan keberanian kepada Yakub untuk bertemu dengan Esau.

Dari kisah ini kita akan merenungkan berama mengenai akibat dosa atau kesalahan dimasa lalu dalam keluarga.

Saudara-saudara jangan simpan dosa masa lalu, setiap masalah dalam keluarga harus segera diselesaikan. Penundaan penyelesaian masalah mengakibatkan masalah baru yang sangat serius yang berdampak luas.

Imamat 19:17, “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia”.

Konflik dalam keluarga memang adalah salah satu hal yang sering terjadi. Adanya konflik antar hubungan persaudaraan memiliki potensi untuk terjadi. Seringkali juga kita terdiam dan membenci saudara kita apabila dia melakukan perbuatan yang tidak berkenan di hati kita. Tetapi masalahnya, membenci saja tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada. Membenci hanya akan membuat permasalahan yang ada semakin membesar dan berlangsung semakin lama. Ada baiknya, apabila kita langsung menegur saudara kita dan membicarakan permasalahan itu agar cepat terselesaikan.

Ingatlah …  jangan beri kesempatan pada iblis untuk merusakkan keharmonisan keluarga. Ingatlah bahwa Allah menghendaki kesatuan dan keutuhan dalam keluarga.

Tuhan Yesus memberkati.

EW