Renungan Harian, Senin 08 Februari 2021

Pandemi yang sedang kita hadapi ini banyak memberikan dampak dalam seluruh aspek kehidupan manusia, psikologi, sosial, spiritual dan salah satunya adalah “RASA JEMU”. RASA JEMU memiliki dampak yang luas jika tidak “ditaklukan” maka akan berdampak kepada kehidupan seseorang secara mental, emosi, bahkan kepada kehidupan spiritual.

Apakah Rasa Jemu ?

Rasa Jemu adalah hasrat atau keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu, namun dihambat oleh kurang atau lemahnya keinginan untuk melakukannya. Ada dorongan untuk melakukan sesuatu namun enggan untuk melakukannya. Rasa jemu dimiliki seseorang yang memiliki kemampuan dan energi namun tidak dapat disalurkan karena Batasan yang ada, sulit untuk berfokus karena tidak nyaman dengan pikiran yang dihadapi.

Rasa Jemu ditandai dengan perasaan hampa dan disertai rasa frustrasi akan perasaan hampa tersebut. Merasa tidak bisa melakukan apa-apa dan sangat frustasi karena perasaan tersebut.

Mengapa Rasa Jemu perlu diatasi ?

Survei tahun 2020 oleh KPAI dengan hasil 63% merasa jemu, 5% merasa cemas, 3% merasa kesal. Dan dampak langsung karena kejenuhan tersebut adalah 22% mengakses pornografi. Manusia selalu mencari jalan untuk mengatasi rasa jemunya dengan mencari pelampiasan.

Mempengaruhi kemampuan untuk konsentrasi, sehingga cenderung merasa apatis, gelisah, dan senewen. Rasa jemu adalah indicator/petunjuk dari emosi lain yang menyertainya … ada rasa kesepian, kemarahan, keterbatasan dan menghasilkan emosi yang tidak diatasi maka berdampak untuk merusak komunikasi satu dengan yang lain.

Beberapa riset dan penelitian hubungan antara Rasa Jemu dengan Kesehatan mental

  • Ada kaitan erat antara rasa jemu dan pengendalian diri (self-control). (Wolff & Martarelli, 2020)
  • Mempengaruhi perilaku (behavior). (Eastwood et al., 2012)
  • Kesehatan mental yang rendah (Binnema, 2004)
  • Perilaku yang kasar (Daderman & Lidberg, 1999)
  • Perjudian (Goldstein et al., 2016)
  • Bunuh diri diantara orang muda (Heled & Read, 2005)

Bahkan Penelitan dari Vodanovich & Kass, 1990 menyatakan bahwa Laki-laki memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami rasa jemu dibanding perempuan. Namun usia tidak mempengaruhi rasa jemu dengan kata lain, anak-anak hingga dewasa dapat diserang oleh RASA JEMU.

Bagaimana dengan kehidupan Kerohanian

Søren A. Kierkegaard, “rasa jemu adalah akar dari semua kejahatan.”

Rasa Jemu akan menuntun manusia untuk melakukan hal yang tidak benar, sebagai pelampiasan kejemuannya. Ingatlah bahwa Rasa jemu bukan dosa, namun sikap, perilaku, dan pilihan-pilihan yang dipicu oleh rasa jemu dapat memicu perilaku berdosa. RASA JEMU memiliki pengaruh yang luas dalam kehidupan kita jika tidak diatasi berdampak secara Fisik, mental hingga spiritual.

Bagaimana kita mengatasi Rasa Jemu yang kita hadapi Bersama?

Untuk mengatasi rasa jemu maka diperlukan proses “reorientasi” dari perspektif dan paradigma. Reorientasi adalah menata ulang terhadap apa yang kita lakukan, dan cara kita menjalani kehidupan kita sehari-hari yang rutin harus kita jalani sekarang ini.

Tuntunan Firman Tuhan :

Pengkhotbah 9:10, Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

Ada 3 Prinsip Dasar

1. Mengantisipasi akan hal-hal yang terduga bisa terjadi

Ayat 10a … Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan

Ada “segala sesuatu” yang bisa terjadi kedepannya dan harus diantisipasi. Antisipasi inilah yang akan menuntun kita untuk membuat persiapan dan orientasi yang baru. Temukanlah kreativitas dan hal-hal baru yang bisa kita kerjakan dalam rutinitas kita sehari-hari dan hal-hal yang mungkin terjadi dalam kehidupan kita.

2. Kerjakan dengan Antusias dan Semangat

Ayat 10b, … kerjakanlah itu sekuat tenaga,

Yang perlu direorientasi adalah Semangat dan Antusias kita. Mengapa ini menjadi penting? Karena semua yang kita kerjakan adalah untuk Tuhan (Kolose 3:23). Semangat inilah yang akan merubah tujuan dari semua kegiatan kita. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan antusias akan memberikan kepuasan  dan kesenangan tersendiri bagi kehidupan kita.

3. Selagi ada waktu dan kesempatan lakukan yang terbaik

Ayat 10c, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi

Kita semakin menyadari bahwa pandemi ada disekitar kita, dan nyata bahwa kita hanya selangkah saja dari maut.  Dengan kata lain kesempatan untuk kita berkarya tidak selamanya. Karena itu jangan sia-sia kan kesempatan yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita.

Kiranya Tuhan akan menolong kita untuk mengatasi Rasa Jemu yang ada dengan semangat untuk menjalani kehidupan ini untuk memuliakan Tuhan.

PL