Renungan Harian Youth, Jumat 03 Juli 2020

Maka kata tuannya kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Matius 25: 21, 23

Berbagai platform media sosial semakin digandrungi segala lapisan masyarakat. Tiba-tiba saja semua orang tanpa terkecuali menjadi fotografer, wartawan, reporter, model dadakan dan jangan lupa satu lagi komentator dadakan. Istilah Like, Share, Comment, Suscribe, Follow dan masih banyak lagi lainnya menjadi tidak asing lagi di telinga kita. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk rutinitas ini?

Ada sebuah fenomena yang menarik tentang bertumbuhnya medsos ini. Medsos membuat penggunanya semakin membuka diri terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya, atau bahkan dunia. Kita bisa sedikit mengingat bertahun-tahun lalu foto kita, kegiatan kita adalah privasi kita. Sekarang situasinya jauh berbeda, bahkan hal-hal yang sangat personal dalam hidup kita terupload ke media sosial. Kita semakin merasa diri kita menjadi bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas. Di lain pihak, kita juga merasa berhak untuk memberikan komentar pada postingan yang kita lihat, bahkan pada postingan orang-orang yang kita tidak kenal sedikit pun.

Berkaca dari media sosial yang semakin sering kita geluti, ada peran-peran yang dapat kita renungkan. Siapakah kita? Apakah kita orang-orang yang memposting kehidupan kita yang artinya kita memilih untuk mengambil peran-peran tertentu dalam hidup kita. Sadar atau tidak, ketika kita memposting sesuatu dalam media sosial ada sesuatu yang kita tonjolkan atau kita ingin masyarakat mengetahuinya.

Begitu banyak orang-orang yang memposting tentang banyak hal. Namun, mereka yang berkomentar jauh lebih banyak, baik komentar positif maupun negatif. Jika kita renung-renungkan, apakah kita lebih tertarik menjadi komentator atau pelaku? Dunia ini membutuhkan orang-orang yang bertindak bagi dirinya, lingkungan, dan masyarakatnya, bukan sekedar komentator.

Ayat yang tertera di atas diucapkan Tuhan sampai 2 kali yang mengisyaratkan bahwa hal itu sangat penting.

Tuhan memanggil kita untuk setia melakukan tugas dan tanggung jawab kita. Memang kadar tanggung jawab tiap-tiap orang berbeda-beda, namun Tuhan memanggil kita untuk setia melakukan bahkan perkara yang kecil sekalipun. Tanggung jawab yang kecil tidak berarti bahwa hal itu sepele. Hal yang sepele tidak berarti bahwa hal itu tidak penting. Posisi kita, siapa kita menentukan peran yang harus kita lakukan dan orang lain tidak dapat menggantikan peran kita.

Tidak masalah berapa yang kita hasilkan, tingginya posisi/ kedudukan kita di mata manusia. Tuhan memanggil kita untuk melaksanakan peran dan tanggung jawab kita. Kita dikatakan sukses ketika kita menyelesaikan tanggung jawab kita dengan setia dan maksimal. Tuhan yang akan menyempurnakan segala daya dan usaha kita dengan keberhasilan. Orang-orang yang sibuk mengejar keberhasilan, posisi yang utama, dan popularitas seringkali kecewa saat mereka gagal meraihnya. Namun mereka yang mengandalkan Tuhan dalam setiap usahanya tidak akan dikecewakan.

Kisah Para Rasul 13:36 “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.”

Lakukan peranan dan tanggung jawab kita saat kita dipercaya. Jangan membuat Tuhan kecewa dengan kecerobohan kita dan alasan-alasan atau komentar-komentar yang kita buat- buat seperti hamba yang dipercayakan satu talenta dalam

Matius 25:24-25 “Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan  adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: ini terimalah kepunyaan tuan!”

Rekan-rekan pemuda dan remaja, mari mulai menyadari siapa kita dan apa peran yang Tuhan mau untuk kita lakukan dalam hidup kita. Hidup bukanlah untuk diisi dengan penyesalan karna kita gagal melakukan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Mari belajar dari Daud yang tahu bagaimana harus bertindak dalam setiap fase kehidupannya sehingga Allah sendiri berkata tentang seorang Daud,”A man after My heart”. Mari buka hati dan pemikiran kita. Dengan kondisi yang ada seperti saat ini, komentar kita tidak banyak berguna, namun tindakan nyata selalu berguna. Selamat bertindak dan berkarya nyata. Tentu saja ketika seseorang mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, maka hasilnya kan maksimal. Tuhan yang akan menyempurnakan setiap hasil usahanya.

Sekecil apapun tanggung jawab kita, sesepele apapun posisi kita, namun kita wajib melaksanakannya dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab. Jangan sibuk menempati posisi yang utama, namun berperanlah sesuai posisimu dengan setia

Komitmenku hari ini :

Aku mau belajar bertanggung jawab dengan setiap tugas dan kepercayaan yang aku harus lakukan dan Tuhan percayakan kepadaku.

DDO – YDK