Renungan Harian Youth, Kamis 05 November 2020

Lukas 18:9-14

Syalooom… salam semangat buar teman- teman remaja pemuda semuanya. Apa kabarnya hari ini? Semoga kita sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Ada sebuah cerita, dua ekor kambing berjalan dengan gagahnya dari arah yang berlawanan di sebuah pegunungan yang curam, saat itu secara kebetulan mereka secara bersamaan masing-masing tiba di tepi jurang yang dibawahnya mengalir air sungai yang sangat deras. Sebuah pohon yang jatuh, telah dijadikan jembatan untuk menyebrangi jurang tersebut. Pohon yang dijadikan jembatan tersebut sangatlah kecil sehingga hanya dapat dilalui oleh seekor kambing saja. Jembatan yang sangat kecil itu akan membuat orang yang paling berani pun akan menjadi ketakutan. Tetapi kedua kambing tersebut tidak merasa ketakutan. Rasa sombong dan harga diri mereka tidak membiarkan mereka untuk mengalah dan memberikan jalan terlebih dahulu kepada kambing lainnya. Saat salah satu kambing menapakkan kakinya ke jembatan itu, kambing yang lainnya pun tidak mau mengalah dan juga menapakkan kakinya ke jembatan tersebut. Akhirnya keduanya bertemu di tengah-tengah jembatan. Jika keduanya masih tidak mau mengalah dan saling mendorong dengan tanduk mereka, maka kedua kambing tersebut akan jatuh ke dalam jurang dan tersapu oleh aliran air yang sangat deras di bawahnya. Akhirnya yang seekor memutuskan untuk menundukkan badannya dan membiarkan yang lain lewat di atasnya. Dan mereka berdua sampai ke tempat tujuan masing-masing dengan selamat.

Sebuah ilustrasi singkat dan sederhana. Namun kisah ini bisa mengingatkan kita untuk sadar diri akan pentingnya kerendahan hati. Seringkali kita merasa lebih hebat dari orang lain, seringkali kita merasa lebih tinggi dari orang lain.

Sebuah perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus antara orang farisi dan pemungut cukai. Allah membenarkan orang yang bersikap rendah hati di hadapan-Nya. Perumpamaan ini merupakan bagian pengajaran Yesus kepada orang-orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain. Kalau kita melihat memang isi doa orang Farisi kelihatannya baik dan saleh karena dia bukan orang jahat dan dia taat beragama. Namun mengapa orang seperti ini tidak dibenarkan Allah? Jawabannya bukan karena isi doanya tersebut melainkan sikap atau karakternya di hadapan Allah yakni meninggikan dirinya di hadapan Allah dan tidak heran akibatnya dia juga memandang rendah semua orang lain yang tidak sama seperti dirinya.

Sebaliknya kalau kita melihat isi doa si pemungut cukai mencerminkan orang yang sedang meratapi atau menyesali akan dosanya sendiri dan dengan kerendahan hatinya (dia berdiri jauh-jauh dari orang Farisi itu, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya sendiri) mengakui perbuatan dosanya di hadapan Allah. Namun mengapa si pemungut ini yang dibenarkan oleh Allah? Jawabnya bukan karena isi doanya bahwa dia orang berdosa melainkan sikap atau karakternya di hadapan Allah yakni merendahkan dirinya di hadapan Allah dengan sungguh-sungguh (ada rasa penyesalan dan kerendahan hati).

SADAR DIRI AKAN ANUGERAH TUHAN ITU PENTING SUPAYA KITA TIDAK MENJADI SOMBONG

Ajaran Tuhan Yesus dalam Injil Lukas pada hari ini sangatlah jelas, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”. Meninggikan diri sama dengan sombong. Marilah kita sadar diri untuk selalu merendahkan hati kita dihadapan Allah. karna firman Tuhan dalam

I Petrus 5:5b mengatakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. “

Komitmenku hari ini

Aku mau belajar untuk sadar diri, bahwa semua yang aku miliki karena anugerah Tuhan, tidak ada yang dapat disombongkan.

Tuhan Yesus memberkati!

MW – SCW