Renungan Harian Youth, Sabtu 16 Mei 2020

Bahan Bacaan : Amsal 17:17

Isi Renungan   :

Syalooom… selamat pagi rekan-rekan youth ELOHIM. Semoga semuanya dalam keadaan sehat dan tetap semangat ya.. Siapa diantara kalian yang mempunyai sahabat? Semua orang mengakui bahwa untuk memiliki banyak teman, itu bukanlah perkara sulit, tapi untuk memiliki seorang sahabat saja tak semudah membalikkan telapak tangan. Aristoteles mengatakan, “Menjadi seorang teman sangatlah mudah, tapi sebuah persahabatan ibarat buah yang sangat lama yang dinanti-nantikan.”  Kehadiran seorang sahabat dalam hidup seperti sebuah lilin kecil di tengah kegelapan, atau ibarat mercusuar di tengah lautan lepas. Nah, bersyukurlah jika di zaman sekarang yang  ‘gersang’  kasih seperti ini kita masih memiliki seorang sahabat!

Amsal 17:17 mengatakan, ”Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesusahan.” 

Ada sebuah kisah nyata, di sebuah desa kecil didekat kota Nuremberg, ada dua orang pria yang bersahabat. Mereka bernama Albert Durer dan Hans.  Mereka ingin sekali masuk di sekolah seni lukis dan pahat. Masalahnya, mereka tidak mempunyai uang. Kemudian Hans mempunyai ide untuk mengatasi masalah tersebut.  Hans akan bekerja untuk membiayai kuliah Albert. Nanti setelah Albert lulus dan menjadi pelukis, maka Albert yang akan membiayai kuliah Hans. Hans bekerja sebagai kuli bangunan.  Lalu Albert masuk ke sekolah seni lukis dan pahat. Tahun demi tahun pun berlalu. Akhirnya Albert lulus dari sekolahnya. Dengan penuh semangat, ia pergi ke rumah Hans.

          Ketika tiba di rumah Hans, ia mengetuk pintu berulangkali, namun tidak ada jawabannya. Lalu Albert mengintip dari jendela.  Apa yang dilihatnya?  Ternyata Hans sedang berlutut. Kedua belah tangan sahabatnya itu mengarah ke atas. Hans sedang berdoa sambil menangis: “Oh Tuhan, tanganku ini.  Tanganku sudah menjadi kaku dan kasar. Tanganku sudah tidak bisa dipakai untuk melukis. Biarlah Albert saja yang menjadi pelukis.”  Ternyata pekerjaan Hans sebagai seorang kuli bangunan telah membuat tangannya menjadi kaku dan kasar. Ia tidak mungkin menjadi pelukis lagi. Apa yang dilakukan Hans ini tentunya tidak bisa dilupakan Albert seumur hidupnya. Itulah sebabnya, Albert mengabadikan kasih dan pengorbanan sahabatnya ini dengan membuat suatu lukisan yang diberi nama “Tangan Berdoa” atau “The Praying Hand” yang sangat terkenal itu.

            Teman-teman…, persahabatan antara Hans dan Albert adalah salah satu contoh dari persahabatan sejati yang pastinya sangat kita dambakan. Memiliki seorang sahabat yang penuh kasih dan rela berkorban tidaklah mudah. Persahabatan sejati adalah persahabatan yang membutuhkan dasar yang benar-benar kokoh. Dibangun diatas dasar kasih, kepercayaan dan kesetiaan. Adakah sahabat yang seperti itu? Atau bisakah kita menjadi sahabat yang seperti itu? Yang pasti setiap kita, orang percaya punya sahabat yang baik dan setia, sahabat yang mengasihi kita dan rela berkorban untuk kita.

Injil Yohanes 15:13 mengatakan, ”Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Dialah Yesus, sahabat kita yang sejati, sahabat yang sudah membuktikan kasihNya bagi kita.

Komitmenku

Aku mau menjadikan Tuhan Yesus sebagai Sahabatku yang sejati, Tuhan yang sudah terlebih dahulu mengasihi aku, aku mau belajar lebih mengasihi-Nya.

MW – AS