Renungan Harian Jumat, 26 Juni 2020

Filipi 1:1-5

Paulus mendirikan gereja di Filipi dalam perjalanan misinya yang kedua. Beberapa orang yang menjadi anggota jemaat pertama adalah Lidia dan sahabat-sahabatnya. Setelah Paulus meninggalkan kota tersebut, gereja tetap berkomunikasi dengannya, dan kerap kali memenuhi kebutuhannya. Peristiwa yang melatarbelakangi Paulus untuk menulis surat kepada jemaat Filipi adalah ketika ia menerima pemberian dari orang-orang Kristen di Filipi. Mereka mengirimnya melalui Epafroditus. Kitab ini adalah “surat cinta” Paulus kepada gereja kesayangannya. Surat ini begitu pribadi—dipenuhi bermacam-macam ungkapan sukacita. Salah satu pernyataan paling awal berbicara mengenai sukacita Paulus ketika ia mengingat sahabat-sahabatnya di Filipi.

Kita akan merenungkan bersama nilai persahabatan dari Rasul Paulus.

1. SAHABAT ITU PENTING.

Tak banyak di antara kita yang menyadari betapa pentingnya sahabat-sahabat kita dan sumbangsih apa yang telah mereka berikan dalam hidup kita. Paulus memiliki kenangan indah saat ia menoleh kepada tahun-tahun yang telah lewat. Sekalipun ia telah lama beijauhan dengan jemaat Filipi, ia bersyukur kepada Allah atas sahabat-sahabatnya dan kerap mengingat mereka dalam doa-doanya. Kehadiran sahabat dalam kebenaran menjadi nilai yang penting dalam menopang pertumbuhan kerohanian kita.

Ada suatu perbedaan besar antara kenalan dan sahabat sejati.
Ketika krisis yang sesungguhnya muncul, sahabat akan mampu memetik makna mendalam yang sama dari pengalaman- pengalaman tersebut dalam nilai kebenaran. Paulus mengasihi sahabat-sahabat Kristennya. Ia acap kali menyebut mereka di dalam surat-suratnya, karena persahabatannya memberikan dukungan yang besar.

2. UNTUK BERSAHABAT DAN MEMELIHARA PERSAHABATAN, KITA HARUS MENJADI SEORANG SAHABAT.

Penulis Amsal mengingatkan kita bahwa seseorang yang memiliki sahabat harus menunjukkan bahwa dirinya penuh persahabatan (18:24).

Untuk menunjukkan bahwa kita bersahabat berarti tidak mementingkan diri sendiri. Sering kali kitalah yang harus mengambil langkah pertama untuk memelihara persahabatan.

Yesus berkata tentang diri-Nya sendiri bahwa Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45). Setiap orang percaya harus memiliki sikap demikian dalam hidup mereka. Kita seharusnya tidak mencari apa yang dapat kita peroleh dari sahabat kita, tetapi apa yang dapat kita lakukan bagi mereka. Dengan cara demikian, kita akan memperoleh sahabat. Tak seorang pun dapat berbahagia dengan menjadi orang egois.

3. Sahabat terbaik adalah Yesus.

Penulis Amsal berkata, “Ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Amsal 18:24). Kutipan Peijanjian Lama yang mengagumkan ini merujuk kepada Juruselamat kita. Tak ada orang lain yang dekat dengan kita seperti halnya sangJuruselamat. Ia membebaskan kita dari dosa, dan Ia berbuat lebih daripada itu. Yesus menyertai kita di setiap langkah perjalanan hidup kita. Ia mendorong kita untuk melayani dan memberikan kekuatan untuk melakukan segala perbuatan.

Bersyukurlah kepada Allah atas sahabat-sahabat kita! Kita sekali lagi bersukacita dengan setiap kenangan bersama mereka. Bersyukurlah lebih lagi kepada Allah atas Sahabat yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita!  

kenangan terhebat adalah ketika kita bertemu dengan Yesus sebagai Juruselamat, Tuhan, dan Sahabat kita. Dengan berkata demikian, kita mengingat satu masa dalam hidup kita ketika Yesus menjadi Sahabat pribadi kita sebagai kenangan paling luar biasa yang pernah kita miliki. Ketika kita mengasihi Dia, sukacita akan senantiasa ada dan menetap dalam hidup kita.

PA_94