Renungan Harian Rabu, 02 Desember 2020

Sebuah benda yang pasti ada di rumah kita adalah tempat sampah. Setiap hari kita membuang ke dalamnya pelbagai kotoran rumah tangga, seperti plastik pembungkus makanan, kulit buah-buahan, sobekan kertas, tisu dan lain sebagainya. Adanya tempat sampah membuat rumah kita bersih. Kotoran tidak mengendap, tetapi dibawa keluar.

Tahukah kita di kehidupan ini ada sampah tak kasatmata? Wujudnya dapat berupa kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. (Efesus 4:31)

Namanya “sampah”, sudah seharusnya kita buang! Herannya banyak di antara kita malah menyimpannya di dalam hati.

Salah satu sampah yg sering menghampiri kita adalah Sakit hati!  Artinya merasa tidak senang karena dihina atau dilukai hatinya. Karena sakit hati ini, orang bisa  dendam, benci. Saking bencinya ia bilang, ”Dadi godhong emoh nyuwek, dadi banyu emoh nyawuk, dadi suket emoh nyenggut! (Jadi daun tidak mau merobek, jadi air tidak mau menyentuh, jadi rumput tidak mau menggigit)”  Ada juga sakit hati masal, yaitu barisan sakit hati.

Perlukah sakit hati? Sesungguhnya sakit hati merupakan pilihan bukan akibat dari stimulus. Orang bisa memilih sakit hati atau tidak sakit hati. Sakit hati muncul karena penilaian diri yang berlebihan. Pengorbanannya sudah terlalu banyak, namun tidak  dibalas, lalu saki hati. Ini menandakan tiadanya ketulusan. Ada yang sakit hati karena gengsi, ia jelas-jelas bersalah, namun tersinggung saat diingatkan. Ini berarti kurang rendah hati untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

Atau Sakit hati karena kepentingannya terusik, ini tanda bahwa orang serakah dan keliru memaknai  segala  yang ada di dunia merupakan sarana. Sakit hati karena telah berbuat benar namun disalahkan atau tidak salah namun ikut menanggung tanggung jawab. Ini berarti kurang berani percaya pada kuat kuasa Allah dengan tekun memanggul salib.

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, (Luk 19:45-47)

Imam kepala, ahli Taurat, dan orang termuka Yahudi tidak hanya marah, namun memikirkan cara membunuh Yesus. Mereka sakit hati karena ditegur oleh Yesus. Kepentingannya mengumpulkan  keuntungan dengan menghalalkan segala cara terancam oleh tindakan Yesus. Dan yang paling tragis adalah sakit hatinya  menjadikan mereka membenci kebenaran yang disampaikan oleh Sang Guru.

Demikian juga dengan apa yang dialami  Daud. Perlakuan Saul padanya bisa membuat dia sakit hati, marah, geram, benci. Dan itu sangat beralasan jika dilakukan.  Untunglah Daud tidak termasuk orang-orang yang demikian! Selama hidupnya, Daud tidak melakukan kesalahan terhadap Saul, tetap memperlakukannya dengan hormat. Kenyataannya Saul justru sangat membencinya, bahkan ia memburu Daud untuk membunuhnya. Saat itu Iblis melemparkan pada Daud “sampah”, yaitu kepahitan, kegeraman dan kemarahan. Apa yang dilakukan Daud? Ia membuangnya!

Daud tetap bersikap baik kepada Saul. Dua kali ia beroleh kesempatan membunuh Saul, tetapi hal itu tidak dilakukannya. (1Sam 24; 1Sam 26). Daud menyingkirkan semua sampah sehingga kehidupannya dapat tetap berbau harum di hadapan Tuhan.

Adakah sampah tak kasatmata tertimbun dalam diri kita? Sekiranya ya, sekarang ini saatnya kita membuangnya! Dalam Efesus 4 tertulis apa yang harus kita singkirkan hawa nafsu (ay. 22), dan buanglah dusta (ay. 25). Jangan lagi menyimpan kemarahan, tetapi berikanlah pengampunan (ay. 26). Lepaskan diri dari kebiasaan buruk, lalu sebaliknya kenakan kebiasaan baik (ay. 28). Hasilnya, kehidupan kita menjadi bersih dan berbau harum di hadapan Tuhan.

Semoga kita tidak mudah sakit hati. Iman akan Kristus menguatkan kita  dalam menghadapi suka duka kehidupan.

JANGAN SIMPAN SAMPAH SAKIT HATI DALAM DIRI KITA, BUANGLAH ITU SEGERA! KARENA HANYA MENIMBULKAN SAKIT DAN BAU YANG BUSUK

EM