Renungan Harian, Sabtu 06 Februari 2021

Ayat Bacaan : Mazmur 122 : 1-9

Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”  (Ayat 1)

Daud mungkin bukan orang yang sempurna, tetapi telah terbukti berkali kali bahwa hatinya adalah milik Allah. Salah satu sifat Daud yang menonjol adalah semangat yang selalu ia bawa ; ia senantiasa mencari kemuliaan dan sukacita Tuhan. Ia memelihara bangsanya (dan juga umatNya) sebagai milik Allah. Pemerintahannya adalah pemerintahan yang murni dan tidak mementingkan diri sendiri. Daud melihat gambaran besarnya. Ia melihat pada akhir perlombaan, dan ia mencari ekspresi Kasih Allah yg indah itu, yaitu “damai sejahtera” .

Damai didalam tembok-tembok kotanya, damai diantara umat Israel, bukan demi Daud agar kekuasaannya langgeng atau tetap bertahan, atau agar ia dpt menghindari kesulitan , atau agar ia dapat mengejar tujuan hidupnya yang lain, tetapi semata mata hanya untuk saudara saudara, serta untuk Tuhan dan umat Pilihan Tuhan.

Pada akhirnya apakah ia sungguh sungguh mendapatkan kedamaian itu? Itu masih dapat diperdebatkan. Terlalu banyak pertumpahan darah kata Allah. Daud tidak dpt membuat Bait Allah. Bukan dia yang membangunnya. Namun terlepas dari itu semua, ia mengejar itu dan mendoakan dengan segenap hatinya. Hal itu adalah hasratnya yang paling utama dan kekal.

Ada sesuatu yang berharga yang yang dahulu ia miliki saat masih kecil, dan tidak pernah ia lupakan, tidak pernah ia tukar atau jual atau kompromikan, tetapi senantiasa ia persembahkan kepada Tuhan hingga pada penghujung hidupnya, yaitu hati emasnya” .

Hati adalah bagian paling indah dari diri seseorang, bagaimana karakter kita dan pembaruan apa yang tersingkap setelah api pengujian membakar diri kita.

Maka tidak heran apabila Tuhan, walau DIA mungkin pernah kecewa dengan daud disepanjang hidupnya daud, namun Dia tetap membuat Daud menjadi orang yang berkenan dihatiNya, karena dimata HambaNya ini, “sukacita Allah adalah sukacitanya” .

Daud mencintai umat Allah dan ia mengejar kemakmuran bangsaNya. Sebagai umat percaya mari kita  menyadari bahwa tingkat komitmen untuk dapat menyenangkan hati Tuhan hanya dapat lahir dari sikap hati yang “rela berkorban” , dan “melepaskan kepentingan diri sendiri” . Inilah sebabnya saya yakin, Daud memberikan segalanya bagi Tuannya.

Kiranya ini menjadi komitmen, kerinduan, dan doa kita bersama ditahun ini, supaya kita juga memberikan hati kita sepenuhnya  menjadi milik Tuhan.

Mazmur 122:8-9 Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: “Semoga kesejahteraan ada di dalammu!” Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Tuhan Yesus Memberkati…

YG