Renungan Harian Kamis, 09 April 2020

Bacaan : Markus 14:43-52

Malam sebelum hari Penyaliban, setelah Yesus melayani murid-murid dalam Perjamuan Malam Dia Berdoa dan bergumul ditaman Getsemani. Kemudian kisah penderitaan Tuhan Yesus dimulai.

Yudas Iskariot datang bersama dengan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua dan tentara untuk menangkap Yesus. Di tengah kegelapan di taman Getsemani, Yudas maju mendapatkan dan memberi tanda kepada rombongannya, yaitu ciuman. Yudas memanggil Tuhan Yesus dengan panggilan penuh hormat, “Rabi”. Namun, bukan kasih dan hormat yang ada di dalam diri Yudas terhadap Yesus. Yang terjadi adalah pengkhianatan. Panggilan kehormatan dan ciuman Yudas pada Yesus semua adalah kepalsuan belaka.

Dalam penangkapan tersebut, rombongan yang datang adalah rombongan pemegang kekuasaan resmi Mahkamah Agama. Penulis Markus hendak menggambarkan sebuah suasana gempar dan menegangkan. Reaksi Yesus yang tenang bertolak belakang dengan reaksi para murid, ada yang menanggapi dengan kemarahan sehingga menghunus pedang. Penulis injil Markus tidak menjelaskan murid yang menghunus pedang itu. Namun, Yohanes menjelaskan bahwa itu adalah Petrus. Reaksi lainnya dari para murid adalah meninggalkan Dia dan lari (ay. 47; 50).

Pada saat penangkapan, Yesus bisa saja melakukan perlawanan atau membela diri. Yesus tidak menampakkan ketakutan atau kegusaran di tengah situasi penangkapan itu. la sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi, dan nubuatan-nubuatan yang diberitakan oleh para nabi terjadi. Hal ini memperlihatkan kesiapan Yesus menjalani penderitaan-Nya.

Sebab peperangan batin Yesus sudah selesai saat la berdoa di taman Getsemani. Yesus telah menyatakan ketaatan-Nya menjalani penderitaan demi penebusan dosa manusia.

Yesus tahu bahwa jalan penderitaan yang hebat akan Dia tanggung. Jalan penderitaan fisik dan batin. Oleh karena itu, Yesus berkata: “Ambillah cawan ini berlalu dari pada-Ku. Namun, Yesus menyadari bahwa kehendak Bapa adalah yang utama. Maka Yesus pun berkata,

“Tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki”.

Yesus taat pada kehendak Bapa, yaitu menyelamatkan manusia dari dosa melalui pengorbanan diri-Nya. Penyerahan diri tanpa perlawanan.

Tuhan Yesus memberi diri agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Ketaatan Yesus menunjukkan cinta-Nya yang besar pada manusia.
Namun Cinta yang tulus dan mulia, yang dibalas dengan cinta palsu dan busuk. Mungkin itulah kalimat yang menggambarkan situasi penangkapan Yesus di taman Getsemani oleh Yudas dan utusan Mahkamah Agama. Pelajaran ini hendak mengingatkan kita akan cinta kita pada Tuhan. Bila kita sungguh mencintai Dia, maka segala hal yang kita lakukan harus senantiasa dalam ketaatan pada firman-Nya. Mari kita renungkan Kasih kita kepada Tuhan Yesus yang sudah berkorban bagi setiap kita.

Tengoklah kisah di taman Getsemani, perjumpaan antara Cinta yang sejati dengan cinta yang penuh dengan kepalsuan.

Dengan apakah kita akan membalas cinta Tuhan yang besar? Adakah dengan cinta yang murni atau cinta yang palsu yang penuh dengan kepentingan diri sendiri.

Kiranya kasih Tuhan menjamah setiap hati kita, memurnikan kasih kita kepada Tuhan.

(ssm)