Renungan Harian, Jumat 05 Februari 2021

Bacaan: Matius 18:19

“Dan lagi, Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-KU yang di Sorga.”

Kata SEPAKAT bukan berarti seragam.  Dalam KBBI kata sepakat berarti setuju, semufakat, sependapat dan seia sekata.  Kata SEPAKAT dalam bahasa latin SYMPHONIA, di dalam bahasa Yunani Sumphonia. Dari kata inilah muncul kata SYMPHONI yaitu karya musik yang dimainkan secara harmoni oleh banyak pemain musik yang berbeda dengan alat musik yang berbeda yang mereka masing-masing mainkan.  Kita sering menyebutnya sebagai ORCHESTRA. 

Jadi Sepakat bisa juga dikatakan berbeda pikiran, berbeda pendapat tetapi disinkronisasi menjadi satu tujuan.

Bapak, ibu dan saudara sekalian, kita tahu bahwa tidak mudah untuk menjadi sepakat. Tidak mudah menciptakan harmoni.  Kalau keseragaman mudah, tetapi mencapai keharmonisan tentunya sulit dan perlu waktu yang panjang. Sebuah karya symphoni pasti tidak terjadi semalam. Menyatukan berbagai pemain musik dengan berbeda- beda alat musik, perlu kerja sama dan sinkronisasi. Lebih mudah menciptakan dengan keseragaman daripada keharmonisan atau kesepakatan.

Bapak, ibu dan saudara sekalian yg terkasih, budaya harmoni perlu digalakkan. Tanpa sadar setiap kita punya kecenderungan individualis, padahal kita ini diciptakan sebagai mahluk sosial (Kejadian 2:18).  Mari kita lihat bersama apa pendapat rasul Paulus  tentang ‘individualis’ ini? 

Dalam 1 Korintus 3:3-4 Paulus menuliskan demikian, “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?”

Rasul Paulus sangat paham bahwa manusia bersifat individualis dan suka menggolong-golongkan diri, dan Paulus mengatakan gaya hidup yang demikian adalah gaya hidup manusiawi atau hidup duniawi.  Di dalam Kristus sebenarnya setiap kita bukan lagi manusiawi dan duniawi, kita rohani dan sorgawi. Ketika kita sadar kita adalah manusia rohani, maka iri hati dan perselisihan seharusnya tidak ada lagi. Dan seperti orkestra jika setiap pemain tidak lagi menonjolkan diri sendiri maka akan bisa tercipta karya Symphoni. 

Dalam 1 Korintus 1:10 Paulus berkata; “Tetapi aku menasehatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan diantara kamu, tetapi sebaliknya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” 

Tuhan Yesus dalam Doa Agung yang dinaikan-Nya kepada Bapa bagi murid-murid-Nya Yohaes 17 di ayat 11 salah satu pokok doa yang Dia sampaikan adalah supaya murid-murid menjadi satu … supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”  Betapa Tuhan sangat membenci perpecahan, karena Dia tahu benar potensi dari sebuah persatuan.

Bapak, ibu dan saudara sekalian yang terkasih, di keadaan new normal yang kita jalani sekarang, Jangan biarkan ada sesuatu yang dapat memecah persatuan kita.  Marilah bersama kita terus maju dalam Tuhan, saling mendukung dan saling mendoakan karena jikalau kita sepakat, apa yang menjadi doa dan permintaan kita akan dijawab oleh Tuhan. 

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus sadar bahwa tanpa sepakat dan harmoni tak ada campur tangan Tuhan di dalamnya.  Egois dan ketiadaan rasa saling percaya akan berakibat pada tidak akan pernah terciptanya symponi yang indah.

Membangun Kesepakatan yang diikat dalam Kasih Kristus akan menciptakan simfoni yang indah, saling melengkapi dan membangun untuk kemuliaan Tuhan

 Amin.  Selamat Pagi, selamat beraktifitas. Tuhan Yesus Memberkati.

DS