Renungan Harian Umum, Rabu 14 Oktober 2020

Pengkhotbah 3:1 (TB)  Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

Jika kita kilas balik/mundur sekitar 10 tahun yang lalu, maka kita akan menemukan progres yang sangat maju dalam hal teknologi dan komunikasi. Dari Nokia (dengan OS (baca:sistem operasi) Symbian yang dianggap mutakhir pd waktu itu), kemudian muncul BlackBerry yang punya keunggulan khusus dengan BBM (Blackberry Messanger), lalu kemudian muncul OS Android  dan iOS (Apple) yang bersaing hingga kini. Kita juga melihat ada kecepatan penyampaian informasi di bidang telekomunikasi, 2G, 3G, 3,5G, 4G-4,5G untuk akses internet dari berbagai provider telekomunikasi. Dalam hal ini, manusia juga dipacu untuk tidak ketinggalan dengan hal-hal ini. Bahkan jauh sebelum itu, keadaan di sekitar kita sudah lebih dahulu tertarik dengan adanya makanan cepat saji, kelas akselerasi, teknik membaca cepat, dan obsesi mendatangkan keuntungan untuk bisnisnya ataupun cepat kaya. Kesan dari semua gaya hidup cepat ternyata lebih fokus pada hasil.

Bersamaan dengan ini,, ternyata muncul juga gaya hidup yang bersebrangan dengan kata cepat/sangat cepat yang dikenal dengan slow living. beberapa orang mungkin tidak senang dengan gaya hidup seperti ini, tetapi sebenarnya fokus untuk hal ini bukannya kalem/pelan2/lemot/lelet dalam beraktifitas, tetapi lebih menempatkan diri pada situasi/keputusan yang tepat pada suatu peristiwa.

Alon-alon Waton Kelakon

Kalimat ‘alon-alon waton kelakon‘ dalam bahasa Indonesia berarti pelan-pelan asal terwujud (berhasil) dengan makna yang lebih luas adalah pelan-pelan, hati-hati, serta penuh dengan kecermatan dan perhitungan dalam bertindak sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.

Pengkhotbah 3:2 (TB)  Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

Dengan demikian, manusia harus memperhatikan kepentingan Tuhan yang berlaku di dalam kehidupan…. ada waktu untuk bertindak dengan cepat, ada waktu untuk bertindak dengan perlahan

Ada 2 hal yang harus dipahami dari slow lifestyle:

1. slow lifestyle membuat kita melakukan segala sesuatu dengan kecepatan yang pas atau tidak asal cepat.

Kejadian 40:23 (TB)  Tetapi Yusuf tidaklah  diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya. Seandainya Yusuf hanya mengejar kebebasan, pasti dia akan bebas tapi bisa jadi Yusuf hanya akan menjadi orang biasa. Ada jeda waktu yang Tuhan berikan bagi Yusuf sampai dia bisa menafsirkan mimpi Firaun.

2 Raja-raja 5:16 (TB)  Tetapi Elisa menjawab: “Demi TUHAN yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa.” Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak.  Jika Elisa menerima persembahan Naaman, dia akan menjadi kaya seketika, tetapi akan kehilangan kepekaan akan kehendak Tuhan. Gehazi telah membuat Elisa merasakan ada kuasa yang lebih besar daripada sekedar harta duniawi.

2. slow lifestyle membuat kita menikmati proses Tuhan.

Belajar dari 40 tahun perjalanan ke Tanah Kanaan adalah sebuah perjalanan mujizat demi mujizat bagi bangsa Israel. Jika Tuhan mau, mereka bisa saja tiba dengan waktu yang normal. Tetapi ini sangat lambat, bahkan terlalu lambat.

Tuhan sangat mengenal karakter mereka dan membuat mereka mengeluh, menghujat, bahkan menyembah allah lain. Dari sinilah,terdapat sebuah seleksi yang Tuhan lakukan, yaitu bagaimana Tuhan melihat orang2 yang berpihak pada Tuhan  dan orang-orang yang tidak percaya pada janji Tuhan. Dari perjalanan yang panjang inilah kita melihat ada ketekunan, kesabaran, dan pemulihan yang Tuhan kerjakan.

Kadang-kadang dalam hidup ini kita terus memikirkan apa yang baik-baik saja untuk hidup kita. Kita berpikir bahwa semakin cepat kita menerima jawaban doa, semakin cepat kita memperoleh apa yang kita doakan, itulah bentuk kasih Tuhan bagi kita. Tetapi sebenarnya, Tuhan lebih tertarik dengan hati kita yang terus belajar mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya.  Jika kita dengan sebuah penyerahan diri mempersembahkan hati kita kepada Tuhan, berapapun lamanya Tuhan belum menjawab doa kita, ataupun seandainya Tuhan tidak menjawab doa kita, fokus hidup kita akan selalu tertuju kepada Tuhan, Sang Pengendali Kehidupan.

Roma 12:12 (TB)  Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Tuhan Yesus Memberkati

RM