Renungan Harian Anak, Kamis 17 Desember 2020

Bacaan: 2 Raja-raja 2:1-25

Suatu hari di lapangan belakang sekolah tempat biasanya Listy, Suri dan Rifa bermain di sore hari, mereka menjalankan aktifitas sehari-hari mereka yaitu bermain bersama. Namun tidak seperti biasanya, Rifa sepertinya jengkel dan kesal kepada Suri

“Kenapa sih kamu ini ! Kamu sengaja ya tadi pagi?” kata Rifa dengan anada tinggi pada Suri. “Kenapa emang tadi pagi?” tanya Suri dengan heran. “Tadi pagi aku dengar kalau kamu ngatain aku itu anak nakal, terus ngatain aku seorang pencuri yang suka ngambil uang biar bisa makan enak dikantin. Kamu tau gak? Anak-anak di sekolah pada ngejauhin aku karena kata-kata itu. Aku jadi bahan bullyan selama seharian ini.” Rifa menjelaskan kejadian tadi pagi sambil menahan rasa sedih yang dialaminya tadi pagi. Ada kabar burung yang mengatakan hal-hal buruk terhadap Rifa. Padahal Rifa adalah anak pintar yang selalu juara kelas, sering mengerjakan tugas dengan baik dan juga anak yang ceria.

“Untuk apa aku melakukan itu, Rifa. Mana mungkin aku mengatakan hal yang buruk tentang temanku.” Jawab Suri sambil menenangkan Rifa yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
“Itu benar, Rifa. Tadi aku lihat dan dengar sendiri kok kalau anak-anak dibangku belakang berusaha untuk menjatuhkanmu dengan mengarang hal-hal buruk tentangmu.” Kata Listy memastikan Rifa untuk tidak menyalahkan Suri.
“Mereka berusaha membuat kamu memusuhi Suri dan juga mencari celah agar bisa membully kamu sehingga mereka bisa jadi lebih terkenal dari kamu, Rif.” Tambah Listy
“Ya sudah, Rif. Lagian kan ada kami yang selalu bersama kamu. Nanti kita akan lapor ke wali kelas saja tentang kejadian yang menimpamu ini. Ini tidak bisa dibiarkan karena pasti mereka akan mencari korban lainnya untuk mereka BULLY nantinya.” Kata Suri sambil menenangkan Rifa.
“Ya udah, besok kita akan lapor mereka. Maafin aku ya, Suri udah nuduh yang enggak-enggak ke kamu dan Makasih ya buat kalian yang mau berteman dengan aku dan menyemangatiku.” Ujar Rifa yang perlahan sudah bisa tenang dan bersemangat kembali.

Adik-adik, dari kisah diatas apa sih yang bisa kita pelajari. Yup! Kita tidak boleh membully. Karena Bully bisa membuat seseorang yang dibully merasa tertekan karena hal-hal buruk yang dituduhkan kepada dia. Seperti cerita tadi, Rifa yang anak baik disekolah dikatai tidak-tidak oleh orang lain dan dia jadi bahan ejekan disekolahnya. Pastinya jika tidak dibereskan, hal itu akan terus membekas dalam dirinya sehingga dia takut untuk pergi sekolah, jadi anak yang murung setiap hari, nilainya jadi jelek dan suatu saat Rifa jadi anak yang nakal dan bandel. Beruntung Rifa memiliki teman seperti Listy dan Suri yang terus mendukung dan menyemangati Rifa.

Di Alkitab juga ada kisah tentang seorang nabi Tuhan yang dibully oleh para remaja yang nakal. Dalam kisah 2 Raja 2 diceritakan bahwa Elisa yang telah ditunjuk sebagai pengganti Elia sebagai nabi Tuhan. Di awal pelayanannya, Elisa diperhadapkan pada dua persoalan. Pertama, pencemaran air di wilayah Yerikho. Pencemaran ini mengakibatkan tingkat kematian atau keguguran bayi sangat tinggi di kota tersebut. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab utama air tercemar. Persoalan ini telah berlangsung lama. Harapan mereka hanya tertuju pada Elisa. Inilah tantangan awal dalam pelayanannya. Penanganan Elisa sangat sederhana, yaitu dengan garam. Dengan kuasa Allah yang menyertainya, Elisa mendoakan garam tersebut dan melemparkannya ke mata air kota Yerikho. Dalam sekejap, air tercemar berubah menjadi air bersih yang menyehatkan. Sejak saat itu, tidak pernah terjadi keguguran atau kematian bayi yang disebabkan oleh air tercemar. Kedua, penghinaan oleh sekelompok pemuda di Betel. Betel adalah pusat penyembahan berhala. Di kota tersebut, nabi Allah sering ditolak, dicemooh, dan dihina oleh penduduk di sana. Saat Elisa tiba di sana, sekelompok anak muda Betel menghina Elisa sangat kasar. Pertama, mereka menghina Elisa yang berkepala botak. Kedua, mereka mengejek Elisa mengapa ia tidak ikut menyusul Elia ke “surga”. Hinaan itu membuat Elisa menyumpahi anak-anak muda tersebut. Lewat kutukan Elisa, Allah membinasakan empat puluh dua anak muda tersebut.

Kisah Elisa mengutuki anak-anak hingga diterkam beruang sungguh tak mudah dipahami. Sepertinya bertentangan dengan akal sehat dan nurani manusia. Sepertinya kasih dan keberpihakan sang nabi pada anak-anak patut dipertanyakan. Namun, janganlah kita tergesa berburuk sangka. Elisa baru saja menolong kota Yerikho dari petaka keguguran bayi. Bayi-bayi ia perjuangkan hidupnya, apalagi anak-anak. Sebenarnya pesan Tuhan melalui kisah anak-anak diterkam beruang ini cukup jelas. Mereka melakukan ejekan yang bisa menjadi benih dari segala bentuk bully yang jahat pada sesama-terutama karena ciri-ciri fisik mereka. Bully sungguh bukan lelucon.

Masa kini kian terungkap betapa bully adalah perbuatan yang jahat. Perbuatan Bully ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dampaknya serius. Betapa banyak anak-anak cacat, kaum lemah, dan orang miskin serta perempuan yang menjadi korban bully. Tindakan ini mengikis rasa percaya diri, merendahkan harkat, dan membunuh harga diri. Amat mempermalukan dan melukai. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus berada di barisan depan para penentang bully.

Mari sama-sama kita menjaga mulut kita agar tidak membully orang lain. Kakak ajak adik-adik semua untuk menguatkan teman-teman kita agar tetap bersemangat dan memakai muluy kita untuk mendoakan yang terbaik untuk teman kita, keluarga kita maupun semua orang yang kita kasihi

Ayat hapalan

Amsal 13:3 (TB)  Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.

Komitmenku hari ini

STOP BULLYING – KARENA KEBIASAAN MEMBULLY SESAMA IBARAT MENABUR BENIH KEJAHATAN YANG KELAK BISA BERBUAH HAL YANG BURUK

MEK – RS