“MENJADI  ALAT KEBENARAN”

“MENJADI ALAT KEBENARAN”

Renungan Harian, Sabtu 27 Maret 2021

Syalom Bapak ibu yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, kiranya penyertaan dan perlindungan Tuhan ada didalam kehidupan kita semuanya

Sebab itu beginilah Firman Tuhan Allah “Musuh akan ada di sekeliling negeri kekuatanmu akan ditinggalkannya dari padamu dan purimu akan dijarahi!” – Amos 3:11

Saudara-saudara sebuah kebenaran yang harus kita pahami bersama adalah janganlah kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai sebagai alat kejahatan dan kelaliman (Roma 6:13,19). Mengapa kita tidak boleh menyerahkan anggota tubuh kita kepada dosa? Kita harus selalu ingat bahwa tubuh kita adalah bait Allah dan pribadi Roh kudus tinggal di dalam kita.

Jika kita mencemarkan anggota tubuh kita maka kita juga sedang mencemarkan bait Allah itu sendiri, ketika kita mengeraskan hati terhadap teguran-Nya untuk hidup dalam kebenaran maka kita sedang mendukakan pribadi Roh Kudus.

Allah Bapa menciptakan kita untuk tujuan mulia  yaitu untuk memuliakan nama Allah Bapa,  anda tidak dipakai untuk melakukan kejahatan, Bukankah kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah dan diberikan nafas dari mulut Allah sendiri (Kejadian 2:7).  Oleh sebab itu kita adalah orang-orang yang special di mata Allah kita.

Tetapi seringkali kita tidak menyadari akan hal ini, banyak diantara kita berkata “ hidup hanya sekali, jadi mari kita pergunakan dengan hidup untuk bersenang-senang dan mengejar kepuasan diri”. Jika pada saat kita berpesta pora dan melakukan kejahatan atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan di mata Allah dan saat itu Tuhan menghendaki kita untuk kembali kepada Allah dan bertobat, sebelum kesempatan itu habis yang ada hanyalah penyesalan demi penyesalan.

Hidup tanpa pertobatan, sama saja telah menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai sebagai alat kejahatan dan sebagai senjata kelaliman. Bisa jadi ujung-ujungnya kita menyalahkan Tuhan, padahal semua itu kita lakukan sendiri dan untuk keinginan diri kita sendiri.

Yakobus 1:13-15 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.  Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

Tetapi jika sekarang kita telah sadar dan menyadari bahwa tubuh kita ini adalah bait Roh Kudus maka tidak sepatutnya kita menyerahkan tubuh kita kepada kelaliman dan kejahatan

Janganlah kita membuat tubuh ini rusak dengan semua jenis pelanggaran, bukankah tubuh ini harus dipersembahkan dengan tidak bercacat cela dan kudus supaya berkenan dihadapan Allah Bapa kita di dalam Tuhan Yesus Kristus,  karena itu pakailah kehidupan kita untuk menjadi alat kebenaran….    

Roma 6:13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup.

Wycliffe memberikan komentar mengenai ayat ini

Apabila penguasa kejam, yakni dosa, memerintah di dalam hati manusia, maka orang-orang berdosa dengan bebas menyerahkan tangan, kaki, mata dan pikiran mereka untuk tujuan kelaliman. Sebaliknya dari terus-menerus mengabdi kepada kejahatan, Paulus menghimbau: serahkanlah dirimu kepada Allah … . Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu … untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Mengapa kita harus menyerahkan diri kita kepada Allah? Sebab orang-orang yang berada di dalam Kristus hidup seakan-akan telah bangkit dari antara orang mati. Kita telah mati dengan Kristus. Karena itu kita memandang kehidupan dari perspektif yang baru. Kita telah mengabdikan diri kita kepada Allah. Diri itu tentu saja mencakup setiap anggota atau bagian tubuh kita dan segala kegiatan yang kita lakukan. Semua bagian dari kepribadian manusia bisa aktif mengabdi kepada kelaliman atau aktif mengabdi kepada kebenaran. Mengabdi kepada siapakah anggota-anggota tubuh kita?

Firman Tuhan jelas mengingatkan kita semuanya untuk menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Seperti yang sudah Tuhan teladankan kepada kita semua. Ketika umat Tuhan menyerahkan dirinya kepada Tuhan untuk menjadi alat-alat kebenaran, maka kesaksian akan kerajaan Allah akan semakin luas, karena kehidupan yang benar akan memuliakan nama Tuhan.


Tuhan memberkati

EW

“Tetap Fokus”

“Tetap Fokus”

Renungan Harian, Selasa 23 Maret 2021

Filipi 3:12-14, Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Bagaimana supaya bisa terus berada dalam jalan Tuhan di situasi apa pun, dan tidak menyimpang ke kanan atau kiri ? Sebab banyak orang kehilangan fokus ketika masalah-masalah membombardir hidupnya, apalagi di masa pandemi seperti ini. Mereka tidak lagi berfokus pada Tuhan, melainkan situasi yang dialaminya. Rasa takut, khawatir, dan resah akan mengalihkan perhatian atau membuat kita gagal fokus sehingga bingung, bimbang dan mulai hilang iman serta pengharapan kepada-Nya. 

Orang-orang sukses, berhasil dan berdampak adalah mereka yang selalu mengusahakan dan memperhatikan supaya hidupnya tetap fokus.

Apa yang kita fokuskan akan berkembang dan menentukan masa depan kita. Jika kita berfokus pada kelebihan maupun kekurangan, maka itu yang akan berkembang. Ingat, masa depan kita sebagian besar ditentukan oleh apa yang kita fokuskan hari-hari ini. Fokuslah pada yang Tuhan percayakan serta kelebihan yang Ia berikan dalam hidup bapak/ibu saudara agar masa depanmu gilang-gemilang. 
Ayat bacaan pagi ini adalah tulisan Rasul Paulus kepada jemaat yang ada dikota Filipi. Surat ini ditulis oleh Paulus semasa pemenjaraan pertamanya di Roma sewaktu berada dalam rumah tahanan. Kota Filipi adalah kota pertama yang Paulus kunjungi didaratan Eropa dan merupakan tempat gereja pertamanya ditanam.

Jika kita membaca seluruh pasal dari Kitab Filipi ini, intinya pokoknya adalah tentang “sukacita”. Kita akan banyak menemukan kata “bersukacitalah” , “mengucap syukur” dan lain sebagainya. Paulus mengajarkan jemaat filipi untuk tetap bersukacita ditengah kondisi buruk yang mereka alami saat itu. Paulus mengajarkan mereka untuk mengarahkan diri atau berfokus pada apa yang di hadapannya. Bukan fokus ke belakang atau masa lalu. Demikian pula kita, tinggalkanlah yang lama dan fokuslah kepada apa yang di depan. Jangan anggap enteng ataupun bermain-main dengan fokus. Situasi atau keadaan dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu, tetapi fokus kita janganlah berubah. Tuhan pun tidak berubah dari dulu, sekarang dan selama-lamanya. 

ARTI FOKUS
Apa arti dari fokus itu yang sebenarnya ? tidak mendua hati; melihat dengan jelas; memusatkan perhatian, tenaga, pikiran; memiliki satu sasaran saja 

Jika kita memiliki empat hal di atas, kita tidak akan pernah sia-sia menjalani hidup ini, membuang-buang waktu ataupun kecewa sebab fokus itu menolong kita. Ibarat kamera atau video, fokusnya harus jelas, jangan buram supaya hasilnya bagus.

Amsal 22 : 29, “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” 

Pertanyaan yg penting bagi kita semua, apa yang menjadi fokus kita selama kita hidup didunia?

1. Fokus kita yang pertama haruslah Tuhan dan janji-janji firman-Nya bagi kita.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1 : 1). Sebelum segala sesuatu ada, Kristus sudah ada bersama dengan Allah. Segala sesuatu dimulai dari Tuhan, maka dari itu mata atau perhatian dan fokus kita harus tertuju pada-Nya. Dunia ini ingin mengalihkan perhatian kita dari Tuhan kepada situasi-stuasi saat ini, berita-berita buruk dan lainnya. Namun Tuhan mau supaya kita tetap berfokus pada-Nya, apa pun kondisi kita. 

Mazmur 141 : 8, “Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!” 

2. Fokus kita harus pada talenta serta kelebihan yang diberikan Tuhan.

Setiap orang punya kelebihan ataupun kekurangan masing-masing dan memiliki talenta berbeda-beda untuk membuat hidup ini penuh warna, seimbang dan lengkap. Namun, sering kali kita hanya berfokus pada kekurangan-kekurangan yang ada.  Percayalah, talenta yang Tuhan berikan kepada Saudara sejak lahir itu tidak akan hilang, maka fokuskanlah bersama-Nya agar berkembang. Jangan fokus pada apa yang tidak ada pada diri Saudara atau hal-hal negatif, melainkan pada apa yang ada serta kelebihan-kelebihan kita. 

3. Fokus kita harus pada apa yang semestinya dikerjakan untuk masa depan.

Jangan hanya berpikir yang dilakukan untuk sekadar bertahan hidup, melainkan lebih fokus pada apa yang seharusnya akan kita lakukan untuk masa depan. Paulus berkata, “Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh” (Filipi 3 : 16). 

1 Timotius 4 : 14 – 15, “Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.” 

Tidaklah salah ketika kita juga memikirkan tentang pekerjaan, studi, karir, dan lain sebagainya, tetapi biarlah pagi ini Fokus utama kita ialah kepada Tuhan sendiri.  

Mari kita belajar bersama sama untuk melatih diri kita untuk tetap fokus dalam menjalankan kebenaran sejati yang ada dalam Firman Tuhan.

Tuhan Yesus Memberkati

YG

“Tahan Uji”

“Tahan Uji”

Renungan Harian, Kamis 18 Maret 2021

Syalom selamat pagi bapak ibu saudara … yang dikasihi Tuhan !

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah acara olahraga. Mungkin kita pernah mendengar istilah triathlon.Triathlon adalah olahraga uji ketahanan fisik melalui 3 cabang olahraga, yaitu renang, lari dan sepeda. Biasanya terdiri dari 750m berenang, 20 km sepeda dan 5 km lari, benar-benar olahraga yang menguji ketahanan manusia.

Dalam alkitab kita terdapat frasa mengenai tahan uji, yaitu dalam

Roma 5:1-5, Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk  oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Nasihat ini diberikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma karena pada waktu itu jemaat Roma selain mendapat tekanan dari pemerintah Romawi yang melarang agama Kristen pada waktu itu. Jemaat hidup dalam kesengsaraan dan dianiyaya. Maka Rasul Paulus mengatakan hal ini.

“Tahan uji dapat diartikan ketahanan terhadap ujian sehingga sudah terbukti kualitasnya”

Mari kita simak dua kata ini.

Pertama, KETAHANAN

untuk kita bisa menahan sesuatu pasti dibutuhkan namanya sebuah kekuatan. Seperti peserta olahraga triathlon tadi untuk bisa mengikuti lomba sampai akhir bahkan menjadi juara diperlukan kekuatan, darimana kekuatan tersebut didapat? Kekuatan tersebut didapat dari latihan demi latihan yang ditekuninya setiap hari. Ada kalanya latihan akan membuat kita menjadi jenuh mungkin tapi jika dengan tekun dilakukan akan menghasilkan kekuatan yang mampu menahan setiap tekanan.

Jika kita perhatikan kembali pada ayat 4, Rasul Paulus menyebutkan kata ketekunan sebelum melanjutkan dengan kata tahan uji. Rasul Paulus menggambarkan kata tahan uji, seperti logam yang dibakar – didinginkan – ditempa berulang-ulang kali sehingga menjadi coin uang yang berharga. Selain itu dalam Alkitab terjemahan NIV, kata tahan uji diartikan “Karakter”.

Seperti ada ungkapan”jika kita ingin menguji karakter seseorang berikan dia sebuah kekuasaan”. Sehingga untuk menjadi jemaat yang memiliki kehidupan yang tahan uji, yang memiliki karakter yang sudah terbukti kualitasnya maka dibutuhkan sebuah ketekunan dalam mengahadapi setiap tantangan.

Kedua, UJIAN

Ujian kehidupan tidak seperti ujian di sekolah yang sudah ditentukan jadwalnya. Saya pernah mendengar seorang yang berkata”Kenapa ya justru saat kita serius dengan Tuhan malah ujian datang silih berganti? Kita menghadapi ujian-ujian yang berbeda, ada yang sedang diuji dengan pemasalahan kesehatan, perekonomian, hubungan-hubungan dengan sesama, ujian kepercayaan, ujian kedudukan, integritas, kejujuran dan masih banyak lagi…

Alkitab mencatat begitu banyak contoh tokoh-tokoh yang menghadapi ujiannya masing-masing, Ayub misalnya setelah menghadapi ujian yang luarbiasa terhadap dirinya, keluarga dan apa yang dimilikinya. Pada pasal 42, ketika Ayub menyesal dan mencabut perkataannya terhadap Allah dan menyadari ujian ini maka Allah mengembalikan segalanya. Yesus pun pernah mengalami ujian dari pencoban yang dilakukan Iblis kepadaNya (dalam Lukas 4) tetapi Yesus menang dalam ujian tersebut.

Saat kita menghadapi ujian adakalanya kita gagal, satu yang harus kita ingat adalah jangan tinggal dalam keterpurukan itu karena jika hal itu terjadi maka hilanglah iman pengharapan kita. Hal ini yang disukai iblis, kita gagal dan tidak punya kekuatan untuk bangkit.

Sebagai contoh: Kisah Raja Daud yang telah gagal dalam ujian hawa nafsu terhadap Betsyeba dan melakukan yang keji kepada Uria saat Ia sadar telah gagal maka Ia bertobat kepada Allah. Rasul Petruspun tidak luput dari kegagalan saat ia tidak berani mempertahankan integritasnya, tetapi kemudian ia bertobat dan menjadi  rasul yang berdiri teguh seperti batu karang sesuai namanya sampai akhir hidup mempertahankan integriasnya.

Kembali, jika kita menyimak ayat 4, kalau tadi rasul Paulus mengawali tahan uji dengan kata ketekunan lalu Rasul Paulus melanjutkan hasil dari tahan uji adalah pengharapan yang telah disinggungnya pada ayat 2,

jika kita tahan uji maka pengharapan akan kemuliaan Allah yang akan kita terima.

Maka dari itu bapak ibu sekalian mari kiranya kita menjadi sabar dan bertekun dalam menghadapi setiap ujian kehidupan yang boleh ada dalam keseharian kita apalagi dalam masa-masa sulit seperti sekarang ini. Ada kalanya ujian itu dapat bertubi-tubi, artinya kita sedang ditempa berulang-ulang demi menghasilkan karakter yang tahan uji, karakter yang berkualitas.

Kemudian jika kita nantinya menjadi jemaat yang tahan uji, yang memiliki karakter yang sudah terbukti kualitasnya maka sudah pasti pengharapan iman kita tidak akan tergoyahkan dan akhirnya kemulian Allah akan menunggu kita disana.

Yakobus 1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Sehingga kita bisa bisa mengamenkan seperti yang tertulis dalam

2Timotius 4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis alhir dan aku telah memelihara iman)

Orang yang berpengharapan adalah orang yang telah “tahan uji”

TC

“Reaksi disaat Krisis”

“Reaksi disaat Krisis”

Renungan Harian, Rabu 17 Maret 2021

Bacaan: Kisah Rasul 27: 1-44

Badai kehidupan tidaklah pandang bulu, orang kristen juga akan menghadapi badai kehidupan. Renungan pagi ini kita belajar dari kisah perjalan Rasul Paulus ke Roma yang ditengah perjalanan mengalami krisis, yaitu Kapal yang ditumpanginya terkandas. Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan bersama:

HAL-HAL KELIRU YANG SERING DILAKUKAN DALAM KRISIS

Pertama, Membiarkan diri diombang ambingkan. (ay15)

Para pelaut membiarkan kapal kami terombang ambing. Seringkali kita membiarkan diri terombang ambing oleh persoalan-persoalan itu. Persoalan-persoalan itu menghantam kita kesana sini.

Kedua, Membuang hal-hal penting dalam hidup kita (ay.18-19)

Sama halnya ketika krisis datang, maka kita pun mulai membuang berbagai hal dalam hidup kita. Para pelaut membuang muatan, lalu alat alat kapal, lalu gandum (28) dan akhirnya mereka membuang diri mereka sendiri (43-44).

Ketiga, putus asa. (ay. 20).

Dalam krisis yang berat, pada akhirnya kita sampai kepada titik putus asa dan kehilangan harapan. Para pelaut berada dalam kegelapan total selama empat belas hari, dalam sebuah kapal kecil di tengah laut Mediterania, dihempaskan kian kemari oleh badai sampai mereka membuang segala sesuatu dan menjadi putus harapan. Inilah yang dialami jika berada dalam keadaan sulit untuk jangka waktu lama.

REAKSI YANG SEHARUSNYA KITA MILIKI

Pertama, Tetap Tenang

Paulus tidaklah gentar, tidak kecil hati. Ia memiliki keberanian dalam krisis ini. Reaksi pelaut yang putus asa, kecil hati memang adalah respon alamiah kita dalam menghadapi sebuah krisis. Tetapi seharusnya tidak boleh demikian. Semua orang dapat menjadi orang Kristen kalau semuanya berjalan lancar, bila semua doa dikabulkan dan bila kita berada dalam keadaan sehat, bila pendapatan meningkat.

Mudah menjadi orang Kristen pada saat-saat seperti itu. Namun ketika ujian iman datang, kita biasanya tergoda untuk putus asa, terombang ambing dan membuang hal hal penting dalam kehidupan. Karakter itu bukan dibuat saat krisis. Karakter terbentuk dari hari ke hari, lewat perkara-perkara biasa dalam kehidupan. Karakter terungkap dalam sebuah krisis. Karakter tersingkap saat kapal dihantam badai dan ada situasi mengancam kita.Dalam keadaan krisis, karakter kita akan Nampak, apakah kita kacau, panik? Ataukan kita tetap tenang? Baca Mzm 125:1

Kedua, Percaya ada Hadirat Allah

Baca kis 27:23. Badai tidak akan pernah menyembunyikan diri kita dari Allah. Wajah Allah memang tidak kita lihat, namun Allah melihat diri kita. Mungkin kita mengira Dia sangat jauh, namun sesungguhnya Dia sedang mengamati diri kita dan beserta kita. Dalam badai yang dialami oleh paulus, Allah mengutus seorang malaikat datang kepada Paulus. Ingatlah janji Allah, Ibr 13:5 & Mat 28:20.

Ketiga, Menyadari bahwa Allah punya Tujuan

Kisah Rasul 27:24. Apakah maksud kalimat ini jika dihubungkan dengan badai yang sedang dialami. Seolah-olah Allah mengatakan seperti ini: Aku memiliki rencana dalam hidupmu, rencanaKu adalah supaya engkau pergi ke Roma. Engkau berada dalam kapal ini dalam rangka mencapai tujuanku agar engkau memberitakan Injil di istana kaisar. Krisis ini tidak akan menghalangi tujuanKu.

Jadi tidak ada suatupun yang bisa mengubah tujuan utama Allah dalam hidup kita. Tujuan Allah lebih besar dari situasi apapun yang kita alami. Allah memiliki rencnana yang melampaui persoalan-persoalan yang kita hadapi sekarang ini. Janganlah berfokus pada masalah, tetapi fokuslah kepada tujuan hidup kita.

Mari kita hadapi setiap badai kehidupan dengan reaksi yang benar, tetap tenang, percaya bahwa ada hadirat Allah dalam semua situasi, dan menyadari bahwa Allah punya tujuan dibalik semua krisis yang kita hadapi yaitu untuk kemuliaan Tuhan.

Tuhan Yesus Memberkati.

CM

“Bahaya KEANGKUHAN”

“Bahaya KEANGKUHAN”

Renungan Harian, Sabtu 13 Maret 2021

2 Tawarikh 32:24-33

Syalom bapak ibu yang dikasih oleh Tuhan …Hari ini kita akan bersama-sama belajar dari pengalaman kehidupan Raja Hizkia.

Setelah serangan Sanherib ke Yerusalem Gagal, Hizkia jatuh sakit. Alkitab menuliskan kondisi Hizkia yang hampir mati (ayat 1). Hizkia memohon pertolongan TUHAN dan sungguh-sungguh berdoa di hadapan TUHAN. Dan melalui nabi Yesaya, TUHAN menjawab doa Hizkia, TUHAN memperpanjang usia Hizkia hingga 15 tahun lagi. Terkait dengan hal ini “bahwa hanya anugerah TUHANlah, hingga Hizkia beroleh tambahan umur, dari kondisi sekarat yang dialaminya.”

Hizkia telah melakukan reformasi dalam hal peribadatan di rumah Allah saat harus menghadapi Sanherib, raja Asyur.  Namun Hizkia mengalami kegagalan karena kesombongannya.

2 Tawarikh 32:25. Tetapi Hizkia tidak berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya, karena ia menjadi angkuh, sehingga ia dan Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka.

Raja Hizkia jatuh dalam keangkuhan karena melihat keberhasilan, kelimpahan, dan keamanan negerinya. Padahal Hizkia adalah raja yang baik. Hizkia punya hubungan dekat dengan Tuhan, terbukti saat ia memulihkan kekudusan rumah Tuhan (2Taw. 29:1-31:21). Hizkia juga mencari pertolongan Tuhan untuk melawan musuh (2Taw. 32:1-23) sehingga ia mengalami pertolongan Tuhan yang nyata. Lalu kenapa ia bisa berubah angkuh? Karena tidak ada manusia yang kebal dosa. Dosa keangkuhan dan kesombongan tidak ada yang tahu karena ada didalam hati kita masing-masing. Namun Allah yang maha tahu menyelidiki hati dan pikiran kita masing-masing.

Namun Hizkia kemudian menyadari dosanya,  sebagai tindakan pertobatannya ia merendahkan diri dihadapan Tuhan  bersama penduduk Yerusalem

Tetapi ia sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersama-sama dengan penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia.
– 2 Tawarikh 32:26

Murka Tuhan lalu surut dan batu ujian selanjutnya datang ketika raja-raja Babel datang mengunjungi Hizkia.  Dalam kitab 2 Tawarikh  memang tidak memaparkan apa yang terjadi sesungguhnya. Didalam kitab 2 Raja-raja  kita menemukan  bahwa saat itu bahwa Hizkia memamerkan kekayaannya kepada Raja-raja asing tersebut (2 Raja-raja 20:12-21). Yang menarik disebutkan  bahwa waktu itu Allah membiarkan Hizkia bertindak sendiri agar Dia dapat menguji kedalaman hati Hizkia (ayat 21)

Setelah sembuh dari sakitnya, Hizkia menerima utusan Merodakh-Baladan bin Baladan, raja Babel. Bukannya menceritakan pertolongan TUHAN yang menyembuhkan dan memperpanjang usianya, Hizkia malah memperlihatkan harta kekayaan yang dimilikinya (bdk. ayat 13). Inilah yang menjadi kejatuhan Hizkia, raja Yehuda saat itu. Hizkia membanggakan harta kekayaannya dan kekuasaannya. Sayangnya Hizkia tidak lulus ujian yang muncul justru kesombongannya seolah-olah dialah pemilik semua kekayaan itu. Ini menjadi peringatan bagi kita bahwa kesombongan adalah sikap yang muncul  dari anggapan bahwa kesuksessan dan kekayaan diraih karena kemampuan kita , bukan karena ANUGERAH dan CAMPUR TANGAN ALLAH .

Bukannya dipuji oleh nabi Yesaya, malahan melalui Firman TUHAN kepada nabi Yesaya, ia menyampaikan nubuatan kejatuhan Yehuda di kemudian hari. Sekali lagi, bukannya Hizkia menyesal, tetapi sebaliknya ia berpikir, “…Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku”–ini menunjukkan bahwa Hizkia tidak menerima dan menghormati Firman TUHAN yang disampaikan oleh nabi Yesaya.

Dosa Kesombongan sangat rentan menghinggapi hati kita, ketika Fokus yang kita lakukan bukan lagi untuk memuliakan nama Tuhan, pastinya yang sedang kita kejar adalah kemuliaan diri sendiri.

Bagaimana cara mengatasi keangkuhan?

Jawabannya ada dalam ayat 26 “Tetapi ia sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri”.

Hizkia sadar akan “keangkuhannya” dan untuk mengobatinya dibutuhkan “kerendahan hati”. Ketika kita dihinggapi dosa “tinggi diri” maka cara melawannya kita harus “merendahkan diri, sadar diri, dan tahu diri”.

Kesadaran akan Anugerah dan kebaikan Tuhan dalam kehidupan ini menjaga hati kita dari dosa kesombongan yang dengan halus dapat menyusup dalam hati kita.

Waspadalah akan dosa keangkuhan. Sadarlah untuk selalu rendah hati. Jagalah hati dengan firman Tuhan dan doa memohon kerendahan hati.,, Sebab itu mari kita menyelidiki kedalam hati kita.  Apakah ada benih kesombongan mulai bersemi dihati kita ??? Jika ada, mohonlah pengampunan kepada Allah dan lepaskanlah itu … sadarilah segala hal dalam kehidupan kita adalah berkat dan anugerah Tuhan.

Kiranya Roh Kudus akan menolong dan memampukan kita semuanya

Tuhan Memberkati

EW