“BERUSAHA SEPERTI ZAKHEUS”

“BERUSAHA SEPERTI ZAKHEUS”

Renungan Harian Youth, Sabtu 27 Februari 2021

LUKAS 19:1-10, CATATAN ALKITAB TENTANG SEORANG KEPALA PEMUNGUT CUKAI

Rekan-rekan youth pasti sudah sering mendengar tentang kisah seorang Zakheus.  Kisah ini bahkan sangat terkenal di kalangan anak-anak sekolah minggu.  Digambarkan bahwa Zakheus adalah seorang yang kaya, namun memiliki bentuk fisik dari tubuhnya yang pendek; dia juga diceritakan sebagai seorang pemungut cukai yang menerima Tuhan Yesus untuk bertamu di rumahnya.  Masih inget gak lagunya: “Zakheus orang pendek, kecil betul ia….” Dan seterusnya…

ARTI NAMANYA MERUPAKAN BENTUK SINGKATAN DARI NAMA ZAKHARIA, YANG ARTINYA ADALAH “MURNI.”

Tampaknya arti nama dari Zakheus bertolak belakang dengan profesinya dan bagaimana ia dikenal oleh masyarakat luas pada zaman itu.

Kepala Pemungut Cukai

Cukai Adalah Bayaran (Pajak) Yang Diwajibkan Kepada Rakyat Secara Teratur, Pemungut Cukai Adalah Petugas Yang Diserahi Pemungutan Oleh Pemerintah, Seringkali Mereka Memeras Rakyat Untuk Menguntungkan Diri, Sehingga Mereka Disebut Bersama Dengan Orang Berdosa. Kepala Pemungut Cukai Itu Memiliki Status Sosial Yang Sangat Tinggi Karena Hartanya Sangat Banyak

Dianggap Sangat Berdosa

Oleh karena kekejaman mereka menarik pajak dengan sesuka hati tanpa memikirkan penderitaan saudara sebangsanya, maka mereka diaanggap sangat berdosa dan dibenci oleh orang Yahudi.  Mereka menjadi sasaran hujatan oleh umat yang semakin menderita di zaman penjajahan Romawi.

Memiliki Keinginan Untuk Melihat Yesus

Dan pada momen dimana Yesus tiba di Yerikho, tempat tinggal Zakheus.  Ia memberanikan dirinya dalam keterbatasan akan tinggi badannya dengan memanjat pohon ara hanya sekedar untuk melihat Tuhan Yesus lewat. Pada momentum ketika Yesus datang ke Yerikho, Zakheus bahkan tidak berpikir bahwa dirumahnya akan kedatangan seorang Tamu Agung yang akan merobah kehidupan dari Zakheus. 

Ketika Tuhan hadir dan menyentuh hati kita dengan perkataan-Nya yang berkuasa, maka keseluruhan hidup kita akan  bergerak mengikuti aliran kuasa perkataan-Nya.

3 PERKATAAN YESUS KEPADA  ZAKHEUS

Zakheus segeralah turun sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu
Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini
Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang

KERINDUAN HATI ZAKHEUS YANG HANYA INGIN SEKEDAR MELIHAT SIAPA YESUS MEMBUAT IA MELAKUKAN APA YANG IA BISA UNTUK DAPAT MELIHAT TUHAN YESUS

Zakheus bahkan belum pernah melihat Yesus sebelumya, dan ia hanya mendengar saja tentang Yesus.  Bisa saja dia penasaran dengan rupa Yesus yang mulai terkenal dengan segala yang Yesus lakukan bagi orang Israel pada saat itu.

2 TINGKAT PENGENALAN AKAN TUHAN YESUS

BERAWAL DARI MENDENGAR, tingkatan ini merupakan awal dari segala rasa ingin tahu seseorang tentang Yesus.  Apa yang Yesus lakukan; bagaimana Yesus memiliki pengetahuan tentang Kitab Suci; apa saja yang diajarkan oleh Yesus kepada pendengarnya, membentuk “rasa penasaran” Zakheus untuk melihat Yesus.

BERJUMPA SECARA PRIBADI, segala rasa ingin tahu dari Zakheus menjadi sempurna ketika Yesus berada di rumahnya.  Yesus bahkan memberikan jaminan keselamatan kepada Zakheus, bukan karena Zakheus kaya, namun karena kuasa Tuhan yang merubah kehidupan Zakheus.

SINCLAIR B. FERGUSON dalam bukunya A Heart for God, menuliskan demikian:

Pengenalan Akan Allah Adalah Pusat Dari Keselamatan Kita Dan Dari Semua Pengalaman Kerohanian Kita Yang Benar. Kita Diciptakan Untuk Mengenal Allah. Dalam Alkitab, Pengenalan Akan Allah Hampir Setara Dengan Keselamatan Itu Sendiri.  Yesus Sendiri Berkata Bahwa Hidup Yang Kekal Atau Keselamatan Berarti Pengenalan Akan Allah, “Inilah Hidup Yang Kekal Itu, Yaitu Bahwa Mereka Mengenal Engkau, Satu-Satunya Allah Yang Benar, Dan Mengenal Yesus Kristus  Yang Telah Engkau Utus” (Yoh. 17:3). Menjadi Seorang Kristen Bukanlah Pengalaman Yang Tanpa Otak, Tetapi Mencakup Pula Hikmat Dan Pengertian.  Menjadi Seorang Kristen Berarti Sebuah Hubungan Yang Begitu Dekat Dan Intim Dengan Allah Pencipta Langit Dan Bumi

SINCLAIR B. FERGUSON

LANGKAH-LANGKAH PENGENALAN

SEBAGAI HAMBA, Lebih Bersifat Sebagai Sebuah Sikap Hati Dari Seorang Sahabat Allah.  dalam tahap ini segala karakter Allah diperkenalkan kepada setiap manusia.  Mengenal karakter Allah dengan benar adalah mengetahui bagaimana Dia bertindak dan bagaimana Dia tidak melakukan apa-apa untuk menjawab doa kita.  Saat Dia memberkati kita dan saat Dia menegur bahkan mengajar kita.

SEBAGAI MEMPELAI, Hubungan Yang Erat – Yang Didalamnya Memiliki Naluri  Dan Kepekaan Yang Kuat Dalam Sebuah Hubungan. Hubungan yang sudah saling menerima antara kita dengan Tuhan; dan bagaimana kita bahkan sudah menyerahkan hidup dan segala perkara yang kita hadapi kepada Dia.

ZAKHEUS MEMBERIKAN RESPON TERHADAP PERLAKUAN YESUS TERHADAP DIRINYA.  ZAKHEUS SENDIRI YANG MENYADARI BAHWA DIA ADALAH PENDOSA DAN TELAH MERUGIKAN BANYAK ORANG

Pengakuan akan keberdosaan inilah yang menyentuh hati Tuhan untuk mengampuni seorang Zakheus yang sangat dibenci oleh kaum sebangsanya.  Allah yang maha kasih sangat tertarik dengan segala pengakuan dan keterbatasan manusia yang ingin mengenal-Nya dengan benar.

Sinclair B. Ferguson dalam bukunya juga menuliskan ini:

Pertumbuhan Rohani Yang Sejati Dari Seorang Kristen Selalu Ditandai Dengan Bagaimana ia Berpikir Tentang Allah (Seberapa Sering Ia Memikirkan Tuhannya Dan Seberapa Tinggi ia Berpikir Tentang Dia)

SINCLAIR B. FERGUSON

THE DEVIL KNOWS YOUR NAME BUT CALLS YOU BY YOUR SIN, GOD KNOWS YOUR SIN BUT CALSS YOU BY YOUR NAME

Komitmen kita:

Aku mau berusaha sebisa yang aku bisa untuk terus mengenal Tuhan dengan benar dan berterus terang kepada Dia tentang segala keterbatasan dan dosaku agar hidupku semakin diubahkan oleh Dia, sehingga hatiku terus melekat kepada Dia

RM – AdS

PENGUMUMAN …

Buat rekan-rekan youth … jangan lupa nanti sore di chanel youtube Elohim ministry … Nanti sore ada EL-Rei jam 16.30 yang akan menemani kalian untuk memahami isu-isu yang banyak anak muda hadapi, dan tentunya kita akan belajar juga dari sudut pandang Firman Tuhan … dan tema kita nanti sore adalah “URIP IKU URUP”. Wah istilah ap aini, ini adalah Falsafah jawa yang berate bahwa kehidupan kita harus bermakna ..  Apa dan Bagaimana … temukan jawabannya dalam obrolan kita nanti sore …

Dan Juga jangan lupa buat Ibadah sudah bisa digedung gereja jam 06.00 pagi, Ibadah Online jam 07.00 dan Sunday Funday jam 08.15 di channel youtube Elohim ministry.

“Tanggung Jawab”

“Tanggung Jawab”

Renungan harian Youth, Jumat 26 Februari 2021

Bahan Bacaan : Roma 14:12

Syalooom… selamat pagi teman- teman remaja pemuda ELOHIM. Apa kabarnya hari ini? Semoga kita sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Berbicara tentang tanggung jawab, tanggung jawab adalah apa yang Allah harapkan dan orang lain harapkan dari kita. Tanggung jawab seperti sepatu kiri dan kanan yang harus digunakan dengan bersama-sama, yaitu menanggung dan menjawab segala akibat yang ditimbulkan akibat perilaku seseorang.

Abraham Lincoln pernah menuliskan,”kamu tidak bisa meluputkan diri dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya hari ini.”

Firman Tuhan dalam Roma 14:12 mengatakan,”Demikian setiap orang diantara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.”

Ada beberapa jenis tanggung jawab dalam kehidupan kita, misalnya tanggung jawab terhadap Tuhan, sesama, diri sendiri, moral, komunitas, keluarga, lingkungan dan sebagainya. Sejak   penciptaan Allah telah memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk menguasai dan mengolah alam dan binatang-binatang yang ada. Manusia pertama, Adam, bukan saja ditempatkan di taman Eden yang indah untuk menikmati saja, tapi Allah juga memberi tugas dan tanggung jawab untuk mengerjakan tanah dan memelihara taman Eden (Kej 2:15) dan juga menamai binatang-binatang yang ada di taman Eden (Kej 2:19,20).

 Jadi, manusia diciptakan dengan kodrat dasar untuk bertanggung jawab. Manusia yang bertanggung jawab, itulah yang dikehendaki Allah. Ada tiga hal yang dapat kita pelajari mengenai tanggung jawab. Tanggung jawab dapat terjadi karena kesadaran diri, kemauan dan kemampuan.

Seorang penulis pernah berkata,”Orang tua hanya bisa memberikan nasehat yang baik, atau menempatkan anak-anaknya di jalan yang benar, tetapi pembentukn karakter seseorang ujung-ujungnya bergantung kepada dirinya sendiri.”

Dalam I Tawarikh 21, dimana Daud mengalami sebuah dilemma akibat perbuatannya. Iblis membujuk Daud untuk menghitung orang Israel, padahal hal ini bukanlah perintah dari Tuhan. Daud termakan bujuk rayu iblis, dan kemudian ia menghitung orang Israel. Hal ini adalah jahat dimata Tuhan karena Tuhan sedang menguji hati Daud. Sebab itu Tuhan mendatangkan hukuman atas bangsa Israel. Daud harus memilih hukuman yang diberikan Tuhan, yaitu tiga tahun kelaparan, tiga tahun melarikan diri dari musuh atau tiga hari menderita sampar. Tapi Daud memilih untuk jatuh kedalam tangan Tuhan. Tuhanlah yang menentukan hukuman bagi bangsa Israel. Yang menarik disini, kita dapat lihat pada ayat ke 17, Daud mengatakan bahwa bangsa Israel tidak berdosa, dan dia sendirilah yang menyebabkan Tuhan murka dan mendatangkan hukuman kepada bangsa Israel. Daud merasa dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Dari kisah ini, kita belajar, betapa pentingnya tanggung jawab dalam kehidupan manusia. Marilah kita sebagai anak-anak Tuhan melakukan tanggung jawab kita baik kepada Allah, orang tua, sesama, pemerintah, dan lingkungan dimanapun kita berada.

Dalam I Petrus 4:5,”Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan mati.”

Ingatlah kita bebas memilih segala sesuatu namun kita tidak bebas untuk memilih akibatnya dan ada tanggung jawab yang harus kita ambil.

Karena itu jadilah berhikmat dalam melakukan segala sesuatu, jangan biarkan kebodohan menguasai kita sehingga ada tanggung jawab negatif yang harus kita ambil. Kiranya Roh Kudus akan menolong setiap kita untuk dapat menjadi Remaja dan Pemuda yang berhikmat dan bertanggung jawab.

Tuhan Yesus memberkati

MW – TVP

“Keseimbangan Hidup”

“Keseimbangan Hidup”

Renungan harian Youth, Kamis 25 Februari 2021

Bahan Bacaan : Pengkhotbah 3: 1-15

Syalom rekan-rekan Elohim Youth, kiranya berkat Tuhan melimpah dalam kehidupan kita sepanjang hari ini …

Jika kita membuka Alkitab kita dalam Pengkhotbah pasal yang ke 3, Sang Penulis menyatakan sebuah nilai yang penting dalam kehidupan ini, bagaimana kita harus mengerti karya Tuhan yang tak terselami oleh pemikiran manusia.

Siang malam, panas dingin, terang gelap, naik turun, dan masih banyak lagi kata yang saling berlawanan. Tetapi ini semua seolah tidak bisa dipisahkan. Pengkhotbah menulis hal yang sama, untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Ada waktu untuk lahir, ada waktu meninggal
Ada waktu menabur, ada waktu untuk menuai
Ada waktu untuk bersukacita, ada waktu untuk berduka
Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa
Ada waktu menari, ada waktu untuk meratap
Ada waktu untuk menggenggam, ada waktu melepaskan
Ada waktu untuk kerja, ada waktu untuk istirahat

Lalu, mengapa Tuhan mengijinkan dua kondisi ini terjadi dalam hidup kita? Mengapa Tuhan tidak menciptakan kondisi ideal terus menerus? Seperti tertawa tanpa ada tangisan, Pertemuan tanpa perpisahan. Karena Tuhan ingin kita hidup dalam keseimbangan.

Keseimbangan membuat kita hati-hati dalam melangkah,Tidak sembrono dan asal asalan dalam menjalani hidup. Jika hidup bisa diibaratkan berjalan pada sebatang kayu, pernahkah melihat seseorang berjalan pada balok kayu? Saat dia meniti balok kayu, dia tidak akan berjalan seenaknya, apalagi berlarian diatasnya. Sebaliknya, ia akan berjalan perlahan sambil merentangkan tangan nya untuk menjaga keseimbangannya supaya dia tidak jatuh.

Kemenangan membuat kita percaya diri, tapi kegagalan membuat kita sadar bahwa kita masih banyak kekurangan dan harus mau untuk belajar  Menjadi kaya bisa membuat kita mudah lupa diri, sebab itu Tuhan terkadang mengijinkan kita mengalami masa sulit, supaya kita tidak takabur dan menganggap diri kita besar.

Ada kalanya, kita mengalami keterpurukan karena kegagalan kita untuk melakukan apa yang benar tetapi ada juga waktu dimana Tuhan mengangkat kita supaya kita mengerti bahwa dalam Tuhan selalu ada harapan.

Tuhan menciptakan keseimbangan dalam hidup ini supaya kita tetap hati-hati dalam melangkah dan memiliki kebergantungan penuh pada Nya. Supaya kita menjalani hidup dengan optimis, tapi juga tidak kebablasan. Supaya setiap kita selalu memiliki hati yang takut akan Tuhan dan menjalani kehidupan kita dengan benar dan berkenan kepada Allah.

Ayat 14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.

Kiranya dengan pemahaman ini biar kita bisa mengerti bahwa kita tidak perlu terlalu sedih ketika kita ada di bawah, dan tidak lupa diri saat di atas. Hidup itu ibarat berjalan meniti balok kayu, perlu keseimbangan supaya tidak jatuh. Teruslah belajar dalam segala keadaan, karena disanalah Tuhan terus berkarya dalam kehidupan kita.

Dan kebenaran yang penting yang harus kita pahami adalah, segala sesuatu akan dibuat indah dalam waktunya Tuhan. Tetaplah percaya walaupun kita tidak dapat menyelami perkerjaan Allah dalam kehidupan kita. Selalu ada tujuan kekal yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita bukan hanya mengenai kehidupan dalam dunia ini tetapi juga tentang kehidupan kita kepada kekekalan.

Ayat 11 Ia (Tuhan) membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Komitmen ku :

Aku mau belajar mengerti bahwa dalam perjalanan hidupku, waktu demi waktu, segala sesuatu yang terjadi ada masanya. Tuhan tetap berkarya dalam kehidupanku untuk menjadikannya indah pada waktu-Nya

Amen … Tuhan Yesus Memberkati

NV – SCW

“Tuhan yang memegang kendali atas hidup kita”

“Tuhan yang memegang kendali atas hidup kita”

Renungan Harian Youth, Rabu 24 Februari 2021

Syalom buat rekan-rekan semuanya, semoga kita dalam keadaan sehat sehat dan tetap bersemangat dalam menjalani hari demi hari. Kalau kita perhatikan berita akhir-akhir ini semakin membuat banyak orang was-was dan khawatir. Bagaimana tidak, disetiap media memberitakan angka positif Virus Korona semakin naik saja. Banyak yang sudah terjangkit virus ini baik pasien maupun tenaga kesehatan yang gugur dalam menanggani pasien Covid ini. Bahkan orang-orang disekitar kita atau keluarga mungkin ada yang sudah terjangkit virus ini.

Namun tahukah anda bahwa, memang Virus Korona bisa menjangkiti semakin banyak orang di Indonesia bahkan dunia. Belum lagi bencana alam yang terjadi disetiap daerah. Melalui setiap peristiwa yang terjadi kita diingatkan bahwasanya Tuhanlah yang memegang kendali hidup kita. Sebagai orang percaya, kita memang berdoa dan berserah kepada Tuhan, namun kita juga harus percaya bahwa Tuhan tidak tutup mata dan Tuhan tidak berdiam diri..

Apakah Dia sedang menghukum manusia karena dosa? Apakah Tuhan sedang menghukum orang-orang beriman? Banyak pertanyaan-pertanyaan liar ini, yang bisa saja terlintas di pikiran kita . Dalam penelitian Ellen Langer pada tahun 1975 yang berjudul “The Illusion of Control” (Ilusi Memegang Kendali) dilakukan untuk menguji seberapa besar manusia dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Ia menemukan bahwa sering kali kita terlalu berlebihan dalam mengukur pengaruh kita terhadap berbagai situasi.  Penelitian tersebut juga menunjukkan bagaimana kenyataan hampir selalu menghancurkan ilusi kita. Kesimpulan Langer tersebut didukung oleh percobaan-percobaan yang dilakukan oleh pihak-pihak lain setelah studi awal itu diterbitkan. Namun, sebenarnya di dalam Alkitab, Yakobus sudah terlebih dahulu mengidentifikasi fenomena tersebut jauh sebelum Langer menemukannya.

Dalam Yakabus 4 : 13 – 17

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. hSebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya , kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri 1dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Lalu Yakobus memberikan solusi agar kita tidak merasa seolah-olah dapat mengendalikan hidup kita, dengan mengarahkan kita kepada satu-satunya Pribadi yang memegang kendali total atas segalanya: “Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’” (ay.15).  Dalam hal apa saja kita merasa bisa mengendalikan hidup kita sendiri? Bagaimana jika kita dapat menyerahkan rencana hidup kita kepada Allah dan mempercayakan masa depan kita di tangan-Nya?

Rekan – rekan Youth kita juga harus ingat Firman yang dikatakan dalam

Kitab Amsal 19:21, Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

Banyak rencana rencana yang sudah disusun namun harus tertunda bahkan ada yang diantara kita kehilangan sahabat, saudara bahkan orang orang yang kita kasihi karena pandemi ini .Kiranya kita bisa mengerti bahwa apa yang kita rencanakan  atau masa depan yang sudah kita bayangkan tidak tergantung pada diri kita sendiri. Karena Allah saja yang memegang kendali atas segala sesuatu, kita dapat mempercayai rencana-Nya bagi setiap kita.

Pengkhotbah 3:11 versi BIS mengatakan Ia menentukan waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Ia memberi kita keinginan untuk mengetahui hari depan, tetapi kita tak sanggup mengerti perbuatan Allah dari awal sampai akhir.

Melalui setiap pergumulan, dukacita, atau setiap peristiwa dan kejadian yang kita lalui saat ini kita harus belajar percaya kepada cara Tuhan.

Percayalah Dia akan melakukan bagianNya dan kita pun harus melakukan bagian kita. Di atas semuanya itu, percayalah bahwa Dia yang berdaulat atas seluruh hidup kita. Terlalu mudah bagi Tuhan untuk melenyapkan virus ini, namun belajarlah untuk melihat Tuhan bekerja bukan sesuai dengan cara kita.Dia yang pegang kendali hidup kita, sehingga Dia juga yang turun tangan dalam menolong kita. Dia tahu apa yang terjadi, dan Dia yang ada dan menyertai kehidupan kita.  Imanuel

Percayalah kepadaNya, dan jangan ragukan FirmanNya.  Karena Allah saja yang memegang kendali atas segala sesuatu, kita dapat mempercayai rencana-Nya bagi kita!

Tuhan Yesus Memberkati

Komitmen :

Aku mau menyerahkan seluruh hidupku kedalam rancangan Tuhan, karena Dialah yang memegang kendali atas hidup dan masa depanku, Amin.

KP – YDK

“TIDAK LUPUT DARI PERHATIAN TUHAN”

“TIDAK LUPUT DARI PERHATIAN TUHAN”

Renungan Harian Youth, Selasa 23 Februari 2021

2 TAWARIKH 16:9a – Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.

Rekan-rekan youth, Beberapa waktu yang lalu ada sebuah video yang sempat  viral yang pada saat itu memperlihatkan seorang anak yang seperti bertiarap sambil menangis dan yang menarik adalah di tempat yang sama dengan posisi yang tidak terlalu berjauhan, orang tuanya berdiri dan memperhatikan anak tersebut.  Perilaku anak tersebut merupakan bagian dari perkembangan anak yang normal karena ia sedang berusaha menunjukkan bahwa dirinya sedang kesal.  Dan perilaku tersebut dikenal dengan istilah TANTRUM.  Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya ditandai dengan sikap anak keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, membangkang, atau marah.

Gimana nih teman-teman, mungkin ada yang ingat kebiasaan kecilnya pada waktu sedang marah, kesal, atau berteriak pada usia 1-3 tahun? Artinya teman-teman juga telah mengalami perkembangan yang baik pada usia dini.  Hal itu juga menjadi tanda bahwa teman-teman telah mampu untuk mengendalikan emosi sebagai salah satu tahap perkembangan social emosional anak usia dini. 

Ketika temen-temen (yang mungkin)  melihat video viral tersebut, satu hal yang menarik adalah tindakan orang tuanya yang sepertinya tidak memiliki kepedulian atau justru membiarkan anaknya yang sedang berontak dan marah sambil tiarap untuk sesuatu yang ia inginkan.  Dan, orang tua yang baik, adalah orang tua yang mengerti kebutuhan anak-anaknya, dan mampu mendisiplinkan anaknya dari keinginan-keinginan yang menghalangi perkembangan anank-anaknya.

Jika kita merenungkan kehidupan kita, seringkali kita sering bersikap seperti itu kepada Tuhan. Kita selalu kecewa, marah, merasa tidak diperhatikan, dan merasa bahwa Tuhan adalah pribadi yang jahat.  Kita bahkan sering memberontak dan putus asa ketika apa yang kita harapkan tidak seperti kenyataan yang terjadi.  Kita merasa lebih tahu apa yang kita butuhkan, tetapi Tuhan tidak mengijinkan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Saat kita dalam kemarahan yang besar dan emosi yang tidak bisa kita kontrol, sebenarnya Tuhan ada di dekat kita.  Dia tidak jauh dari kita dan sedang menanti kita untuk bangkit dan mencari Dia. 

Jika kita percaya Tuhan itu dekat dengan kita, satu hal yang kita yakini adalah bahwa tidak akan ada masalah dari anak Allah yang tidak diketahui oleh Allah.

KITA HANYA PERLU MENJALANI HIDUP DENGAN CARA YANG TUHAN INGINKAN

Kecenderungan anak Tantrum adalah dia mencoba menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.  Jika keinginannya terpenuhi melalui sikap yang ia tunjukkan, maka itu akan menjadi senjatanya untuk mendapatkan sesuatu dari orang tuanya. Siapa yang pernah bertindak seperti itu diantara kita?

Kita harus pahami bahwa Tuhan kita lebih dari sekedar orang tua kita.  Kadang-kadang ia langsung mengabulkan doa kita, kadang-kadang Ia pun hanya diam saja, entahkah itu disuruh menunggu ataupun tidak dikabulkan sama sekali.  Hal yang paling tepat untuk kita pelajari terlebih dahulu adalah kita harus memastikan bahwa Dia dekat dengan kita.  Pastikanlah di dalam doa kita, hadirat-Nya selalu nyata ketika kita mengucap syukur.

INDIKATOR PALING PENTING DALAM MENYADARI KEHADIRAN TUHAN ADALAH DENGAN TIDAK BERHENTI MENGUCAP SYUKUR ATAS KEBAIKANNYA dan KESADARAN BAHWA KITA TIDAK PERNAH LUPUT DARI PERHATIAN TUHAN

Dengan menjalani hidup sesuai dengan cara yang Tuhan inginkan dan selalu mengucap syukur dengan segala kondisi kita maka iman kita pun semakin dibentuk dan terarah di dalam kasih Allah yang sejati.

Komitmen kita:
Aku mau terus menyadari tujuan Tuhan di dalam hidupku dengan hidup sesuai dengan cara yang Tuhan inginkan dan mengucap syukur setiap saat akan kehadiran Tuhan di dalam hidupku.

Amin ..Tuhan Yesus Memberkati

RM -MLE