“KUATIR itu Merugikan diri sendiri”

“KUATIR itu Merugikan diri sendiri”

Renungan Harian Youth, Kamis 11 Februari 2021

Mazmur 13:3, Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?

Selamat pagi… salam semangat buat rekan-rekan semuanya … kiranya hari ini menjadi hari yang diberkati oleh Tuhan.

Rekan-rekan yang dikasihi oleh Tuhan Yesus … Hidup di tengah dunia yang semakin bergejolak dan penuh problematika ini tak seorang pun hidup tanpa kuatir dan tak seorang pun terhindar dari rasa kuatir, termasuk kita sebagai orang percaya.  Jika ada orang yang menyatakan diri bahwa ia tidak pernah merasa kuatir sedikit pun dalam hidupnya, hal tersebut adalah sebuah penyangkalan.  Akan tetapi setiap kita dapat menolong diri sendiri terlepas dari rasa kuatir yaitu memercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan melihat setiap masalah, situasi, keadaan atau peristiwa yang ada dari sudut pandang Firman Tuhan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata  ‘kuatir’  memiliki pengertian:  takut  (gelisah, cemas)  terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti.  Perasaan ini biasanya dihubungkan dengan pikiran negatif tentang sesuatu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.  Kuatir juga berarti was-was, bingung dan pikiran terpecah-pecah. 

Tuhan berfirman:  
“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”  (Matius 6:25). 
Lalu Dia menambahkan:  “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”  (Matius 6:27). 

Tuhan memperingatkan kita untuk tidak kuatir, karena Dia sendiri yang menjadi jaminan bagi kita.  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5b).

Hendaknya kita menyadari bahwa kekuatiran itu hanya memindahkan beban dari bahu Tuhan yang kuat ke bahu kita yang lemah.  Kekuatiran adalah sebuah obsesi akan hal buruk yang mungkin terjadi dan juga tidak terjadi, ketakutan terhadap hal yang tidak menyenangkan, menderita sakit, mengalami kekurangan, kehilangan sesuatu dan sebagainya. 

Daud, seorang raja pun, juga pernah merasa kuatir, tapi ia tak mau terus dibelenggunya, kemudian …  Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan melalui doa dan percaya penuh kepada-Nya!

Mazmur 13:6 Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Cara Daud Mengatasi Kekuatiran

1. Membangun Kepercayaan kepada Tuhan.

Daud mengarahkan pikiran dan hatinya kepada kebesaran Allah bukan kepada besarnya masalahnya. Daud memilih untuk percaya kepada janji Allah dibanding memilih untuk ditekan oleh masalah yang dia hadapi.

2. Membangun Pujian kepada Tuhan

Ada kuasa didalam pujian. Ini adalah kebenaran bagi kita anak-anak Tuhan, setiap pujian yang kita naikkan kepada Tuhan adalah untuk mensyukuri setiap kebaikan Tuhan. Pujian itu membangun Iman dan percaya kita kepada Allah. Ketika kita memuji Tuhan maka sebenarnya kita sedang mengarahkan hati kita kepada Tuhan.

Dalam segala situasi dan keadaan, bahkan dalam keadaan yang berat … pujilah Tuhan … naikan pujianmu kepada Allah, percayalah setiap pujian itu akan mengingatkan kita kepada kebesaran dan kebaikan Allah yang jauh lebih besar daripada kekuatiran dalam kehidupan kita.

Perhatikan nasehat Amsal Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang,”  Amsal 12:25

Komitmenku hari ini

Kekuatiran akan menyedot energi dan semangat kita, karena itu pilihlah untuk tetap percaya dan arahkan hatimu kepada kebesaran Tuhan

Tuhan Yesus Memberkati

YG – SCW

“Simson : Masa Bodoh Yang Fatal”

“Simson : Masa Bodoh Yang Fatal”

Renungan Harian Youth, Sabtu 30 Januari 2021

Hakim-hakim 13:24; 16:4-20

Syalooom… selamat pagi teman- teman remaja pemuda ELOHIM. Apa kabarnya hari ini? Semoga kita sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Apakah teman-teman pernah memperhatikan jawaban seorang komandan upacara ketika menerima perintah inspektur upacara? Dengan lantang, sang komandan upacara akan berkata, “Siap laksanakan!” Artinya, komandan upacara mengerti dan bersiap untuk segera menjalankan tugas yang diberikan oleh inspektur upacara kepadanya.

Kesiapan dan keseriusan kita tersebut, bertolak atau berdasar dari iman dan pengharapan kita bahwa TUHAN itu baik kepada kita dan Dia rindu membimbing kita pada jalan, kebenaran, dan hidup-Nya. Sikap masa bodoh dan lalai terhadap firman TUHAN menunjukkan bahwa kita merasa diri mampu menghadapi tantangan dan menjalani hidup di dunia ini, dengan kekuatan dan kemuliaan diri sendiri. Jelas, itu keliru. Kehidupan Simson memberikan peringatan terhadap sikap masa bodoh yang fatal. Ada hal-hal yang tidak bisa kita abaikan. Sesuatu yang diabaikan oleh Simson adalah hal yang fatal karena hal itu berkaitan dengan masalah terpenting tentang hidup dan mati.

Pertama, Simson masa bodoh terhadap panggilan hidupnya.

Hal ini sungguh mengagetkan, karena kelahiran Simson adalah istimewa dan ia memiliki orang tua yang saleh. Simson punya awal hidup yang menjanjikan. “Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia. Mulailah hatinya digerakkan oleh ROH TUHAN…” Namun tidak semua yang mulai dengan baik berakhir dengan baik. Ketika ia menjadi pemuda, Simson berkata kepada orang tuanya,”Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin. Tolong ambillah dia menjadi istriku.” Pernyataan itu memulai serangkaian keputusan yang buruk yang mengirimnya semakin terpuruk, jauh dari panggilannya yang tinggi, yaitu untuk apa ia dilahirkan.

Kedua, Simson masa bodoh terhadap kelemahannya.

Ia kuat secara fisik, tapi lemah dalam hal lainnya. Ia sangat bangga terhadap kepiawaiannya, dan sangat sombong terhadap tindakan-tindakannya yang berani hingga ia mengabaikan kelemahannya. Ia masa bodah terhadap penipuan Delila dan perempuan di Timna. Ketika Simson sadar, sudah sangat terlambat, Tuhan telah meninggalkannya.

Orang Cina memiliki ungkapan: Tidak ada yang lebih bodoh daripada orang yang tidak tahu bahwa dirinya bodoh dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu.” Simson tidak tahu bahwa Tuhan telah meninggalkan dia, dan ia tidak tahu bahwa kekuatannya sudah lenyap. Masa bodoh semacam itu adalah masa bodoh yang berakibat fatal.

Simson adalah seorang pemimpin yang tanpa disadari melaksanakan tugasnya dengan kekuatannya sendiri. Ketika Tuhan tidak bersamanya, ia hampir tidak merasakan perbedaannya. Kejatuhannya tiba ketika ia tidak mengetahui bahwa Tuhan telah meninggalkan dia. Hal itu bisa terjadi pada kita. Untuk akhir yang baik, menuntut kita untuk mengenal diri kita sendiri dan Allah kita. Simson memberikan peringatan kepada kita mengenai bagaimana kita bisa buta terhadap kesalahan dan kelemahan kita. Kita bisa naif terhadap bujukan iblis dan kejahatan dunia.

Amsal 13:13 mengatakan,”Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa yang taat kepada perintah, akan menerima balasan.”

Sikap masa bodoh tidak akan membawa hasil apa-apa selain hanya akan mendatangkan murka Tuhan. Oleh sebab itu, jangan kita bersikap masa bodoh, terutama masa bodoh terhadap Allah, karena itu tidak mudah terlihat tetapi mematikan.

Tuhan memberkati!

Komitmenku hari ini

Aku belajar untuk mengingat bahayanya “SIKAP MASA BODOH”, yang tidak memperdulikan apa yang benar dan meremehkan Firman Tuhan sehingga menjalani hidup dengan kekuatan diriku sendiri, aku mau memperhatikan kebenaran Firman yang pasti akan memberikan tuntunan dan kekuatan bagi hidupku.

MW – AdS

PENGUMUMAN …

Buat rekan-rekan youth … jangan lupa nanti sore di chanel youtube Elohim ministry … Nanti sore ada EL-Rei jam 16.30 yang akan menemani kalian untuk memahami isu-isu yang banyak anak muda hadapi, dan tentunya kita akan belajar juga dari sudut pandang Firman Tuhan … dan tema kita nanti sore adalah VISI atau AMBISI”. Setiap kita pasti memiliki tujuan dalam kehidupan ini, namun apakah tujuan kita sudah sesuai dengan tujuan Tuhan dan bagaimana kita menjalani kehidupan ini untuk mencapai tujuan tersebut harus dibangun dengan nilai-nilai kebenaran yang penting. Apakah visi dalam kehidupan kita dan bagaimanakah kita memandang ambisi dalam melakukan sesuatu?  Temukan jawabannya dalam obrolan kita nanti sore

Dan Juga jangan lupa buat Ibadah sudah bisa digedung gereja jam 06.00 pagi, Ibadah Online jam 07.00 dan Sunday Funday jam 08.15 di chanel youtube Elohim ministry.

“JANGAN SALAH KOSTUM”

“JANGAN SALAH KOSTUM”

Renungan harian Youth, Jumat 15 Januari 2021

Syalom sobat Youth, semoga semua dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Tuhan.

Pernah nggak sih merasa salah kostum waktu menghadiri sebuah acara? Nggak nyaman pastinya. Semua kita pasti pernah diundang dalam pesta pernikahan. Waktu kita menerima undangan pastinya kita akan mempersiapkan diri termasuk pakaian yang akan kita kenakan untuk menghadiri acara tersebut. Bahkan ada yang mencocokkan dengan tema acaranya, misal acaranya pakai adat jawa maka batik atau kebaya akan lebih cocok, atau jika acaranya pakai model eropa maka gaun akan lebih cocok. Karena sengefans-ngefansnya kita dengan spiderman nggak mungkin juga kita datang ke pesta pernikahan pakai kostum spiderman, ya kan? Kecuali yang nikah superman.. hahaha.. Atau kita nggak mungkin dateng ke pesta pernikahan pakai babydoll spongebob, meskipun kita ngefans sekali sama spongebob. Karena pasti kita akan langsung diusir sama EO acara tersebut jika kita tidak mengenakan pakaian yang pantas untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan. Begitu pentingnya sebuah pakaian pesta dalam kita menghadiri sebuah undangan.

Yesus pun sangat setuju dengan pentingnya hal tersebut sehingga Dia mengatakan sebuah perumpamaan dalam Matius 22:1-14

“Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Dari perumpamaan tersebut kita bisa lihat ada tiga kelompok orang:

  1. Orang yang diuandang tetapi tidak mau datang, yaitu orang yahudi yang menolak Yesus.
  2. Orang yang sebetulnya tidak diundang (non yahudi) tetapi mendapat kasih karunia sehingga akhirnya diundang tetapi dia tidak mengenakan pakaian pesta sehingga diusir
  3. Orang yang sebetulnya tidak diundang (non yahudi) tetapi mendapat kasih karunia sehingga boleh turut dalam ruang perjamuan dan dia mengenakan pakaian pesta sehingga tidak diusir.

Dengan menimbang bahwa orang yang tidak mengenakan pakaian pesta itu diusir dan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (bahasa metaforis untuk “neraka”) yaitu kematian kekal. Maka pakaian pesta adalah merujuk kepada syarat bagi kehidupan kekal, yaitu: Percaya/Beriman kepada Tuhan Yesus dan Pertobatan.

Dan hal ini dapat kita lihat dalam perjanjian lama dalam

Yesaya 61:10 “Aku bersukaria dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan Pakaian Keselamatan dan menyelubungi aku dengan Jubah Kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya.”

Dikatakan bahwa kita dikenakan Pakaian Keselamatan yaitu Percaya/Beriman kepada Tuhan Yesus, dan Jubah Kebenaran yaitu Pertobatan.

Jadi marilah kita menjadi golongan orang yang menerima anugerah kasih karunia karena meskipun kita sebenarnya tidak layak karena dosa-dosa kita tetapi Tuhan Yesus mau menebus kita sehingga kita beroleh keselamatan dan mendapat undangan untuk masuk ruang perjamuan, oleh karena itu marilah kita mengenakan pakaian pesta kita yaitu iman percaya kita kepada Tuhan dan pertobatan serta perbuatan baik yang memuliakan Allah.

Marilah kita menghargai kasih karunia yang Tuhan beri dengan hidup benar dihadapan Allah seperti seorang yang mengenakan pakaian pesta yang putih bersih.

SAM – AdS

Yuk belajar ber “Empati”

Yuk belajar ber “Empati”

Yuk belajar ber “Empati” Bila Rasa ini Rasamu

Renungan Harian Youth, Kamis 14 Januari 2021

Syalom rekan-rekan Youth, yuk siapin hati kita untuk merenungakan Firman Tuhan.

Empati merupakan respon afektif yang berasal dari pemahaman kondisi emosional orang lain, perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan orang lain.

Wujud empati pada masyarakat Jawa adalah dengan gotong-royong dan ewuh-pekewuh. Gotong-royong maksudnya adalah saling membantu dan melakukan pekerjaan demi kepentingan bersama tanpa adanya imbalan apapun. Salah satunya dengan rewang atau nyinom dalam acara hajatan tetangga atau saudara. Tradisi rewang atau membantu tetangga tentunya suatu kegiatan yang sangat positif terutama untuk masyarakat Indonesia khususnya di Jawa sendiri yang memang kental dengan budaya gotong royongnya karena dengan rewang bisa saling bergotong-royong antara warga yang satu dengan yang lainnya tanpa membeda-bedakan sehingga menimbulkan rasa saling membutuhkan dan membentuk persatuan yang kuat.

Dilihat dari perkembangan jaman saat ini remaja mulai meninggalkan kebudayaan seperti tradisi nyinom atau rewang. Saat ini nilai empati pada remaja sudah mulai berkurang, Lingkungan tempat tinggal dan tempat bergaul sangat mempengaruhi merosotnya nilai empati.

Lunturnya nilai empati pada remaja menyebabkan menurunnya nilai kepedulian dan tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat.

Remaja saat ini mulai meninggalkan kebudayaan seperti tidak menghargai orang yang lebih tua sampai yang paling terlihat adalah membantu antar sesama. Ya seperti kondisi para remaja saat ini yang terlihat lebih cuek, gengsi dan tidak peduli dengan orang lain. Kondisi Pandemi memuculkan rasa empati orang orang dilsekitar kita. Kalau setiap hari Jumat atau hari hari yang lain kalian lihat banyak orang yang membagikan makanan gratis. Itu merupakan salah satu wujud dari empati.

Alkitab menunjukkan kualitas empati yang kita lihat ditunjukkan dalam beberapa narasi,

Rasul Petrus menasihati orang-orang Kristen untuk “seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati” 1 Petrus 3:8.
Rasul Paulus juga mendorong rasa empati ketika ia mendesak sesama orang Kristen untuk “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Empati berkaitan erat dengan simpati, tetapi lebih sempit dan terfokus, dan umumnya dianggap lebih pribadi. Belas kasih, simpati, dan empati semuanya harus dilakukan dengan memiliki hasrat (perasaan) untuk orang lain atas penderitaannya. Empati yang sebenarnya adalah perasaan ikut berpartisipasi dalam penderitaan orang lain. Sebagai orang-orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi orang-orang terdekat dan mengasihi sesama orang percaya . Ada beberapa contoh tentang empati dalam Alkitab yaitu :

Matius 22:39; Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Yang kedua adalah seperti ini, ‘Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.
1 Petrus 4:8, Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh  seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Di atas semuanya itu, teruslah saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

Kita juga  lihat teladan Tuhan Yesus yang selalu peka terhadap penderitaan orang lain.

Matius mengatakan kepada kita bagaimana Yesus “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Matius 9:36).

Pada kasus yang lain, Yesus mengamati seorang janda yang akan mengubur anaknya. Merasakan kesedihannya  Alkitab mengatakan bahwa “hati Yesus melimpah dengan belas kasihan”, Ia mendekati prosesi pemakaman dan membangkitkan pemuda itu (Lukas 7:11-16).

Kata “belas kasih” menggambarkan belas kasih yang mendalam dari Allah.

Allah adalah yang terbaik dalam berempati: “Sebab Dia sendiri tahu seperti apa kehidupan kita, pergumulan atau kerinduan kita. Mari kita bersama sama teman teman  belajar melatih diri kita untuk berempati, dan peduli dengan orang lain. Saat ini memang kita masih menghadapi masa pandemi, dengan keterbatasan aktivitas, waktu dan lain lain yang mengharuskan setiap kegiatan banyak dihabiskan di rumah saja. Ini bisa kita manfaatkan untuk belajar berempati di lingkungan keluarga kita, saling menolong dengan saudara saudara kita, atau bergotong royong dengan masyarakan membersikan lingkungan kita atau jika kita mendengar teman atau sahabat kita sedang mengalami kesusahan kita dapat mendoakannya. 

Dengan berempati kita sedikit mengorbankan kesenangan kita, waktu, pikiran bahkan uang saku kita namun itu tidak sebanding dengan kepuasan yang kita dapatkan. Biarlah kita sama sama mengikuti teladan Tuhan Yesus, sehingga ketika orang lain melihat,  dapat terberkati dengan kehidupan kita.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama , menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Filipi 2 : 5

Komitmen :

Ajar kami Tuhan menjadi anak muda yang peduli dengan sesama kami, mengikuti setiap teladanmu dalam kehidupan kami.

KP – SCW

“Tahun Baru, Semangat baru”

“Tahun Baru, Semangat baru”

Renungan Harian Youth, Kamis 07 Januari 2021

ROMA 12:11, Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Hallo …. teman-teman Elohim Youth yang dikasihi Tuhan, sebelumnya Kakak ucapin selamat Tahun Baru ya, buat kalian semua.

Saat ini saya akan bawakan tema : Tahun Baru, Semangat baru. Ada banyak hal yang telah kita hadapi di tahun yg lalu (2020 kemarin), tahun 2020 merupakan tahun yang sangat sulit yang pernah kita hadapi, karena  banyak perubahan yang harus kita alami sampai saat ini, dan kita harus mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru . Sebagai contoh, kita harus sering cuci tangan, menjaga jarak , harus pakai masker apabila keluar dan bagi yang masih sekolah, kalian harus belajar online. Ada beberapa dari kalian yang orang tuanya kehihangan pekerjaan, karena keadaan perekonomian yang gak mendukung sehingga ada perusahaan2 yang harus mem PHK karyawannya , dsb.

Kesulitan-kesulitan tersebut membuat kita mulai lemah, gak bersemangat dan mulai malas untuk beribadah, berdoa, maupun membaca Firman Tuhan. Banyak dari kita yang pada awal melayani Tuhan rajin beribadah ,rajin berdoa, rajin membaca Alkitab, begitu antusias dan menggebu-gebu, lambat laun semangat itu menjadi kendor dan sedikit demi sedikit akhirnya menjadi luntur, pelbagai alasan dipakai, salah satunya dampak dari virus corona yang ada.

Komitmen awal mulai menjadi berkurang, bahkan sudah dilupakan. Komitmen adalah sebuah janji yang menyatakan kesanggupan untuk melakukan sesuatu secara terus menerus dan berkesinambungan . 

Paulus adalah salah satu teladan dalam berkomitmen untuk melayani Tuhan, “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan, jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”, untuk itu Paulus berkata, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”

Dalam mengiring Tuhan, roh kita harus tetap menyala-nyala, kita harus memiliki semangat yang baru, bahkan kita bisa mengakhirinya dengan baik. Kita gak boleh suam-suam kuku (tidak panas dan tidak dingin) dalam mengikut Tuhan sehingga kita dimuntahkan. Orang yang suam-suam kuku itu orang yang tidak bersemangat dalam mengiring Tuhan, hal ini Tuhan tidak suka.

Tahun 2021 merupakan kesempatan yang diberkan kepada kita semua, kalau kita hidup saat ini, adalah anugrah yang tidak boleh kita sia-siakan. Firmannya mengatakan bahwa, “ janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala, nyala dan layanilah Tuhan “.

Biarlah, saat ini kita memperbaruhi komitmen kita, bahwa kita mau semangat lagi dalam membangun hibungan kita dengan Tuhan, baik melalui doa, pembacaan Alkitab dan renungan yang diberikan  dan roh kita menyala-nyala lagi dalam melayani Tuhan, dalam kondisi apapun, kita mau setia melayani Dia, lewat apapun yang kita bisa, kita lakukan untuk Tuhan. Tidak ada alasan untuk kita menjauh dari kasih Tuhan, sebab Dia yang telah menebus dosa-dosa kita, dan memberi hidupnya bagi kita.

Oleh sebab itu, yok kita semua yang mulai malas, gak ada semangat, mulai kendor dalam membangun hubungan kita dengan Tuhan, saatnya kita perbaruhi komitmen kita, mulai semangat lagi, kita mau sungguh-sungguh dalam mengikut dan melayani Tuhan. 

Anak muda identik dengan semangat, mari bangun semangat kita didalam Tuhan.. ingat Firman Tuhan biarlah roh mu menyala-nyala … semangat kita ada didalam Tuhan bukan dengan kekuatan diri kita sendiri. Jangan ijinkan kendor, kekendoran bukan situasi yang mendadak terjadi tetapi ketika kita mengijinkan kekendoran dan ketidak setiaan kecil terus kita bangun dalam hidup ini.

Ayo semangat jangan malas, kemalasan seperti virus yang bisa menggerogoti kekuatan dari semangat kita.

Komitmenku hari ini

Tuhan Yesus aku mau belajar untuk tetap semangat, tidak mengijinkan kemalasan mengerogoti semangatku.

Tuhan Yesus memberkati, kita semua.

RA – SCW