“Karakter Bapa”

“Karakter Bapa”

Renungan Harian, Kamis 12 Maret 2021

Lukas 15:20 “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia”

Selamat Pagi Bapak, Ibu dan Saudara sekalian.  Shalom dan Salam sejahtera dalam kasih Kristus bagi kita semua.  

Apabila kita membaca Lukas 15 secara keseluruhan, ada tiga perumpamaan yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk manjawab kritikan dari orang Farisi dan Ahli Taurat karena Yesus menerima pemungut cukai dan orang-orang berdosa bahkan makan bersama dengan mereka.  Bapak, Ibu dan Saudara sekalian, hari ini kita akan belajar dari perumpamaan kisah anak yang hilang.

Dalam kisah “Anak yang hilang” paling tidak ada tiga karakter yang dapat kita lihat dimana melaluinya kita dapat belajar, Yaitu Si anak terhilang itu sendiri, si sulung, dan sang ayah. Setiap karakter tersebut mengandung pelajaran yang penting bagi kita.  Dalam Renungan Harian kita hari ini, secara khusus kita akan melihat dan bersama belajar dari karakter sang ayah. Dan bagi setiap bapak-bapak atau para ayah biarlah karakter dari “bapa” atau ayah dari anak yang hilang ini menjadi teladan bagi kita supaya dapat mendidik anak-anak kita di dalam takut akan Allah.

Dari pembacaan Lukas 15:11-32 paling tidak kita akan menemukan tiga sikap yang menonjol dari sang ayah yang dapat kita teladani bersama;

1. Sabar.

Lukas 15:12 manuliskan bahwa si bungsu meminta kepada ayahnya bagian harta milik yang menjadi haknya.  Dalam budaya masyarakat yahudi anak yang meminta bagian warisan atau harta yang menjadi haknya kepada orang tua yang masih hidup sama seperti mendoakan supaya orang tuanya mati. Ini adalah tindakan yang durhaka dari si bungsu dan dalam tradisi yahudi ini adalah dosa besar.  Dan pastinya kedurhakaan merupakan dosa yang besar dalam tradisi bangsa manapun. Namun sang ayah tetap memberikan apa yang diminta oleh si bungsu.

Bukan hanya itu, setelah menerima bagiannya si bungsu menjual semua hartanya dan pergi meninggalkan rumah ke negeri yang jauh dan berfoya-foya disana.  Dan sejak hari dimana si bungsu pergi, ayahnya menunggu kalau-kalau si bungsu pulang dengan sabar.  Di ayat 20 dituliskan demikian Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya…..”, ini menandakan betapa sang ayah menantikan si bungsu pulang setiap hari.  Wahai para ayah, apakah bapak sabar dengan anak-anak Anda yang mungkin telah memilih jalan yang salah?  Jangan menyerah tetaplah berdoa dengan tekun dan sabar menantikan waktu Tuhan bagi anak kita.

2.  Kasih yang Tulus.

Ketika sang ayah melihat si bungsu, dia berlari menyongsongnya.  Tanpa mempedulikan bagaimana kondisi si bungsu, ia segera merangkul dan menciumnya.  Ia tidak bertanya sama sekali kepada anaknya dari mana atau apa yang telah dilakukannya, tetapi dia memerintahkan kepada  hamba-hambanya untuk segera membawa juga jubah terbaik dan cincin bagi untuk si bungsu.  Ekspresi yang pertama kali timbul adalah KASIH.  Apabila Anda bertemu dengan anak Anda yang “terhilang”, tunjukkan kasih Anda.   

3. Mengampuni.

Kita tahu dalam perumpamaan ini apa yang telah si bungsu lakukan kepada sang ayah.  Tetapi KASIH yang besar dan tulus dari sang ayah terekpresi dalam tindakan nyata yaitu Mengampuni.  Kalau tidak, mana mungkin ia menghampiri dan merangkulnya, memberikannya jubah terbaik, mengenakan cincin di jarinya  dan mengenakan sepatu dikakinya.  Tidak hanya itu saja, ia juga menyiapkan pesta bagi si bungsu yang bertobat. 

Apakah bapak-bapak mau mengampuni anak yang murtad, binal, jahat, kriminal, atau apa saja sebutannya? Sama seperti sang ayah dalam perumpamaan ini, Ampunilah dia!

Bapak, Ibu dan Saudara yang terkasih, sang ayah dalam perumpamaan di atas adalah gambaran dari Allah Bapa.  Namun karakter sang ayah ini dapat menjadi teladan bagi para orang tua, khususnya bagi para ayah.  Sebagai orang tua, bagaimanakah cara kita mendidik dan menghadapi anak-anak kita??…  Apabila kita pusing tujuh keliling menghadapi anak kita yang bandel dan yang telah menyakiti kita ribuan kali, bersikaplah seperti ayah dalam perumpamaan di atas.  Dengan kekuatan kita sendiri pasti kita tidak akan mampu, tetapi jika kita terbuka kepada pimpinan dan tuntunan Roh Kudus, pasti DIA akan memberikan kita kekuatan untuk dapat melakukan semua itu.

Belajar dari Kasih Bapa, Penuh dengan Kesabaran, Ketulusan dan Pengampunan … Kasih yang selalu membawa Pemulihan

Pastinya kita sadar bahwa ada banyak anak-anak yang pergi dari rumah dan bertahun-tahun belum kembali.  Pergi tanpa pamit memang amat menyakitkan dan pastinya bukan itu yang kita harapkan.  Tetapi apabila ini yang bapak, ibu hadapi, DOAKANLAH dia.  Sebab Allah menghendaki ia kembali ke pelukan sang ayah yang penuh kasih.  Mari kita pertahankan anak-anak kita supaya iblis jangan merebut dan menyesatkan mereka.  Amin.

Tuhan Yesus Memberkati.

DS