“BERHARAP PADA YESUS”

“BERHARAP PADA YESUS”

Renungan Harian Youth, Sabtu 20 Februari 2021

Rekan-rekan youth, setiap kita pasti pernah berharap kepada orang lain? Kepada orang tua, sahabat, ataupun kepada orang-orang yang dekat dengan kita.  Alasan kita berharap pada mereka pun beragam, ada yang karna dijanjikan sesuatu, ada pula yang hanya sekedar berharap.  Dengan sikap baik dan mungkin pencapaian prestasi kita yang bagus mungkin membuat kita berharap ada apresiasi dari orang tua tanpa dijanjikan apa-apa.  Apapun alasannya, secara otomatis kita memiliki landasan untuk berharap kepada orang lain.  Contohnya pada saat murid-murid Yesus yang melihat betapa berkuasanya Tuhan Yesus dalam melakukan banyak mujizat, sebenarnya mereka juga sudah memiliki harapan yang lebih kepada Yesus.  Karena mereka menetap di Israel yang saat itu menjadi negara jajahan Kerajaan Romawi, satu hal yang mereka harapkan adalah Yesus pantas menjadi Raja Israel dan mereka bisa menjadi negara merdeka pada saat itu.  Namun harapan mereka seakan-akan lenyap seketika pada waktu Yesus mati di kayu salib.

Pada saat Yesus sudah disalibkan, kira-kira kalau kita jadi salah satu/beberapa murid Yesus pada saat itu, apa yang akan kita lakukan jika pada saat itu kita kita tidak tahu sama sekali kalau Tuhan Yesus akan bangkit?

1 Petrus 1: 21,  Melalui Dialah kalian percaya kepada Allah yang sudah menghidupkan-Nya kembali dari kematian dan mengagungkan-Nya.  Jadi, Allahlah yang kalian percayai dan kepada Allahlah juga kalian menaruh harapan.

Kesaksian Rasul Petrus mengenai kebangkitan Yesus merupakan sebuah pengalaman bahwa segala harapan-harapan mereka tidak sesuai dengan rancangan Allah yang besar.  Mereka sebenaranya tidak keliru berharap kepada Yesus, namun yang keliru adalah harapan mereka. Karena harapan mereka tidak sebesar dengan rancangan Allah bagi seluruh umat manusia yang ada di dunia ini.

KEADAAN MURID-MURID YESUS: Murid-murid sudah terbiasa melihat mujizat yang diadakan oleh Tuhan Yesus dan Mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias namun mereka menaruh pengharapan yang tidak sesuai dengan rencana Allah

Tetapi setelah mereka melihat Yesus dibangkitkan pada hari ke tiga.  Pola pikir mereka pun berubah dan bahkan tekad untuk menyebarluaskan ajaran Yesus Kristus menjadi misi yang tertanam dalam diri mereka yang tetap berharap kepada Yesus namun dengan motivasi yang sudah dibaharui.  Tidak lagi berpikir untuk kemerdekaan bangsa Israel namun menyebarluaskan kabar baik mengenai Kerajaan Allah.

YESUS YANG TELAH MENEBUS HIDUP MANUSIA, SANGGUP MENJADI DASAR DARI HARAPAN KITA

Yesus yang telah Menebus Hidup kita telah Menjadi Dasar dari kepercayaan kita sehingga setiap Harapan kita Tertuju Kepada-Nya.  Jika landasan berharap kita diarahkan pada pekerjaan Yesus yang diutamakan, maka kita tidak akan pernah menyesal dan kecewa dalam menjalankan misi Allah di dalam dunia ini.  Yesus harus merobah pola pikir kita dan mengubahnya menjadi motivasi yang benar dalam menaruh pengharapan kepada Dia.

SELALU MENGINGAT AKAN PENGORBANAN YESUS DAN MENJADIKAN HAL ITU SEBAGAI ALASAN MENGAPA IMAN DAN PENGHARAPAN KITA TERTUJU KEPADA-NYA

Setiap hari, jika kehidupan rohani kita selalu diisi dengan kebenaran Allah, maka kebenaran Allah ini akan memurnikan hati dan jiwa kita.  Dasar dari kepercayaan dan pengharapan kita juga turut dimurnikan sehingga hal ini memicu kehidupan kita untuk member dampak kepada orang lain.

Mengapa iman dan pengharapan kita harus tertuju kepada Yesus?

Yesus adalah hakim yang tanpa memandang muka akan menghakimi setiap orang menurut perbuatan-Nya.

(1 Petrus 1:17),  Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.

maksud dari kalimat ini adalah bahwa perbuatan-perbuatan orang akan menunjukkan siapa mereka sesungguhnya pada hari penghakiman.  Kita wajib hidup beriman, kudus, dan taat, dan perbuatan-perbuatan kita akan menjadi bukti apakah kita sudah hidup dalam standart Allah atau masih belum memiliki motivasi yang benar dalam berharap kepada Yesus.

Manusia harus menyadari betapa pengorbanan Yesus itu tidak ternilai dan tidak dapat dibandingkan dengan berapapun banyaknya harta yang dimiliki manusia.

(1 Petrus 1:18,19) – Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

kata “darah yang mahal” merupakan pemahaman dari Petrus mengenai pengorbanan Yesus di kayu salib bagi manusia. Menurut Wycliffe:  Ketidakberdosaan sempurna dari Sang Anak Domba, penderitaan-Nya yang seharusnya ditanggung manusia, merupakan landasan bagi suatu cara menilai yang baru dan surgawi.

Yesus telah ditetapkan oleh Bapa untuk menjadi penyelamat manusia.

(1 Petrus 1:20) – Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.

yang menarik dari ayat ini adalah bahwa Yesus dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan.  Bahkan untuk hal-hal yang belum ataupun tidak dipikiran oleh manusia, sudah dipikirkan Allah lebih dahulu.  Dan kemudian hasilnya adalah bahwa Yesus menjadi dasar bagi manusia untuk berharap melalui karya ilahi Allah yang dinyatakan kepada setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Pengorbanan Yesus adalah alasan mengapa kita memiliki pengharapan.  Mari pastikanlah bahwa setiap harapan kita didasari atas kepercayaan kita kepada Yesus Kristus.

Komitmen kita: Aku mau berharap selalu kepada Yesus dan terus percaya kepada Pribadi-Nya yang luar biasa dalam segala karya-Nya kepada seluruh umat manusia.

RM – AdS

PENGUMUMAN …

Buat rekan-rekan youth … jangan lupa nanti sore di chanel youtube Elohim ministry … Nanti sore ada EL-Rei jam 16.30 yang akan menemani kalian untuk memahami isu-isu yang banyak anak muda hadapi, dan tentunya kita akan belajar juga dari sudut pandang Firman Tuhan … dan tema kita nanti sore adalah “KOMITMEN”. Kita akan membahas salah satu nilai yang penting dalam kehidupan kita yaitu Pentingnya Komitmen dalam kehidupan masa mud akita … apakah komitmen itu? Bagaimana dan mengapa … temukan jawabannya dalam obrolan kita nanti sore …

Dan Juga jangan lupa buat Ibadah sudah bisa digedung gereja jam 06.00 pagi, Ibadah Online jam 07.00 dan Sunday Funday jam 08.15 di channel youtube Elohim ministry.

Bahaya Kemunafikan

Bahaya Kemunafikan

Renungan harian Youth, Senin 19 Oktober 2020

Publik saat ini dihebohkan dengan game Among Us. Salah satu gameplay yang ada di game ini digadang-gadang dapat ‘merusak pertemanan’, karena pemain dapat menuduh satu sama lainnya. Among Us merupakan permainan multiplayer yang menuntut kerja sama tim dan usaha pengkhianatan. Dalam game ini, para pemain harus bisa bekerja sama untuk meyakinkan satu sama lain. Ada dua peran yang berbeda, yakni crewmate dan impostor. Crewmate merupakan peran baik yang dituntut untuk menyelesaikan misi kecil yakni memperbaiki pesawat. Sementara impostor merupakan peran jahat yang menuntut player untuk menjadi penghianat dan memiliki misi menghabisi semua anggota crewmate. Bisa jadi ada yang menjadi crew biasa dan ada yang menjadi Impostor.  Impostor, seolah-olah dia adalah manusia biasa ditengah manusia-manusia lainnya. Tapi ternyata Impostor memakai topeng dan dibalik topeng tersebut, pelan-pelan dia membunuh orang” disekitarnya. Dari games ini kita melihat bahwa ada seseorang serigala berbulu domba, seolah-olah dia berlaku sebagai kawan, padahal dia adalah serigala yang adalah lawan..

Kemunafikan menjadi salah satu problema yang sering dihadapi oleh orang-orang Kristen dan tak jarang kemunafikan menjadi masalah yang mengerogoti Kekristenan itu sendiri, bahkan bisa dibilang menyerang kalangan pemuda remajanya. Ada sebuah riset salah satu faktor  yang membuat Kekristenan mundur di kalangan anak muda  adalah adanya kemunafikan dari orang-orang yang menyebut dirinya rohani.

Di dalam bahasa Yunani, bahasa asli penulisan Alkitab Perjanjian Baru, istilah munafik (hipokrit) mengacu kepada seorang aktor. Ketika kamu sedang menonton drama, para pemerannya adalah orang-orang yang munafik, dalam arti bahwa mereka berpura-pura menjadi orang lain, seperti halnya memakai topeng. Seorang munafik adalah seorang yang sedang beradegan (melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan diri mereka).

Apakah kamu orang yang munafik? Yuk kenali cirinya!

Bagaimana ciri-ciri orang yang berlaku munafik? Belajar dari teguran Tuhan Yesus terhadap orang Farisi dan Ahli Taurat dalam Matius 6 dan 23.

1. Gampang melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak melihat kesalahan sendiri.

Tuhan Yesus kerap kali menegur orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka begitu ahli melihat kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan orang lain.

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” – Lukas 6:42

2. Suka Mencari Muka

Apa alasan kita melakukan sesuatu? Apakah untuk Tuhan, atau agar dipuji manusia? Saat kita lebih memilih berbuat sesuatu supaya dilihat orang, kita sudah menjadi orang munafik.

3. Terlihat bagus di luar, tapi di dalam, siapa tahu?

Banyak orang terbungkus dengan sampul yang kelihatannya baik dan rohani. Namun, bagaimana sikap hati kita sebenarnya? Apakah kamu rajin pelayanan, tetapi dosa terus dilakukan selancar jalan tol?  Apakah rajin beribadah, namun tong kosong prakteknya?

KEMUNAFIKAN secara sederhana adalah Hati dan tindakan berbeda, Melakukan sesuatu dengan pura-pura. Berarti dia melakukan sesuatu tidak dengan tulus. Hanya mau menerima manfaat tanpa resiko dan Pandai berteori tanpa praktek.

Mengatasi kemunafikan adalah proses perubahan setiap kita. Karena masalah kemunafikan terjadi akar permasalahannya adalah keegoisan … yang diutamakan adalah kepentingan diri, pendapatannya, kemauannya dan penilaiannya sendiri terhadap orang lain.

Kemunafikan membuat orang tidak dapat melihat kesalahan sendiri, tapi cenderung mudah menghakimi orang lain.  Hal Kunci untuk mengatasi Kemunafikan adalah INTEGRITAS.

Integritas seseorang erat kaitannya dengan jati diri yang sejati. Seluruh aspek kehidupannya, baik yang internal maupun eksternal, berjalan dengan harmonis, tanpa kepalsuan atau kemunafikan. Dengan kata lain, pribadi yang berintegritas adalah mereka yang memiliki keselarasan dalam pikiran, perasaan, perbuatan, serta perkataannya. Integritas merupakan hal yang sepaket dengan kehidupan rohaninya. Integritas menjadi gambaran hidup orang percaya, yang tercermin dari sikap sehari-harinya, entah saat berada di tempat umum maupun saat sendirian.

Menjadi pribadi yang beritegritas sama dengan membangun kehidupan yang semakin serupa dengan Kristus. Yang dikejar adalah apa yang menyenangkan hati Tuhan, bukan apa yang berkenan kepada manusia

Di tengah banyaknya kepalsuan dan kepura-puraan di dunia, kita sebagai orang Kristen sebenarnya sudah punya fondasi yang benar, yaitu Tuhan. Jadi, padankanlah hidup kita dengan pikiran dan perasaan Kristus. Dengan demikian, integritas kita dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang belum mengenal Tuhan. Karena ingatlah bahwa Kemunafikan menghambat pertumbuhan rohani kita, 

“Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,”  (1 Petrus 2:1-2).

Komitmenku hari ini

Dari pada sibuk menilai dan memberikan stempel munafik kepada orang lain lebih baik untuk sibuk membangun Intergitas dalam kehidupan kita

EL Rei 171020 – KPH