Renungan Harian Youth, Jumat 22 Mei 2020

2 Timotius 1:5 (TB)  Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

“Like father like son: Every good tree maketh good fruits.”

– William Langland.

“My father didn’t tell me how to live; he lived, and let me watch him do it.”

– Clarence Budington Kelland.

Kira-kira artinya begini. Seperti ayah, seperti itu juga anak. Kutipan dari Clarence Budington berbunyi seperti ini “Ayahku tidak memberitahuku bagaimana caranya hidup; dia menghidupi kehidupannya dan membiarkan aku melihatnya.”

Tuhan menganugerahkan harta yang luar biasa Ketika Dia meletakkan kita dalam sebuah keluarga. Seorang bayi mungil yang lahir ke dalam sebuah keluarga menerima pada saat yang sama perlindungan, jaminan kelangsungan hidup, kasih sayang dan yang tidak kalah pentingnya lembaga untuk bertumbuh dalam karakter.

Tanpa kita sadari, sementara kita bertumbuh, kepribadian, sifat, kebiasaan, karakter kita sangat ditentukan oleh bagaimana keluarga kita. Saat kita menghabiskan waktu dengan keluarga kita, ada nilai-nilai kehidupan yang teradopsi dalam kehidupan kita. Lewat perbincangan, cara hidup masing-masing anggota keluarga kita, karakter kita terbentuk.

Ketika kita melangkah keluar rumah, tentu saja nilai-nilai yang kita dapatkan dari rumah akan mewarnai kehidupan kita. Bagaimana kita bertindak, mengambil keputusan, meresponi setiap tantangan dan masalah akan berbeda satu dengan yang lainnya tergantung nilai-nilai yang dipegang oleh seseorang.

Pakar-pakar Pendidikan mengatakan bahwa keluarga adalah lembaga Pendidikan yang pertama bagi anak-anak. Dan hari-hari ini, Tuhan mengijinkan kita menghabiskan hampir seluruh waktu hidup kita bersama dengan orang tua kita dan saudara-saudara kita. Lembaga Pendidikan itu diambil alih sepenuhnya oleh keluarga. Pertanyaannya, bagaimana kita bertumbuh secara maksimal dalam keluarga kita.

Dalam suratnya kepada Timotius, ada sebuah kesan yang kuat ditangkap oleh Paulus tentang Timotius. Paulus melihat iman yang tulus ikhlas, iman yang pertama-tama hidup di dalam neneknya Lois dan di dalam ibunya Eunike. Sebuah kesan yang istimewa. Dalam diri seorang Timotius, Paulus melihat iman yang terbentuk oleh didikan nenek dan ibunya. Teladan iman yang tulus ikhlas tumbuh dan terbentuk dari dalam rumah. Paulus melihat iman yang tulus ikhlas ada dalam ketiga generasi ini, nenek, ibu, dan anak

Ada beberapa hal yang bisa kita teladani dari Timotius:

1. Timotius memposisikan dirinya sebagai seorang anak dalam bimbingan orang tua, neneknya, dan Paulus sebagai bapak rohaninya.

Saat kita lahir, kita tdak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tua kita, namun Tuhan memiliki aturan yang pasti untuk setiap anak. Dalam Efesus 6:1-2 tertulis ”Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu-ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini.” Paulus sendiri sampai menyebut Timotius sebagai anakku yang kekasih (I Timotius 1:2) Seberapapun hebatnya kita, bagaimanapun orang tua kita, kita harus membiarkan diri kita tunduk pada orang tua jasmani dan rohani dalam takut akan Allah.

2. Timotius mengembangkan nilai yang baik yang dia terima dalam keluarganya

Paulus menyebutkan tentang iman yang tulus ikhlas, iman yang tidak pura-pura, iman yang lahir dalam perbuatan dan kehidupan yang nyata. Iman Lois yang terbukti dan menjadi teladan bagi Eunike dan berlanjut kepada Timotius. Semua manusia, termasuk orang tua kita memiliki sisi kekurangan/ negatif. Namun lihatlah nilai-nilai yang baik yang bisa kita teladani dari orang tua kita dan kembangkan itu. Itu akan menjadi kekuatan dan kelebihan kita. Berfokuslah pada hal yang baik. 2 Timotius 3:10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, dan ketekunanku.

3. Timotius menjadi pribadi yang dapat dipercaya.

Dalam 2 Timotius 4:1-8 Paulus memberi pesan kepada Timotius untuk menunaikan tugas pelayanannya walau apapun yang terjadi. Tantangan dan hambatan pasti ada tapi Paulus berpesan kepada Timotius untuk menguasai dirinya.

Rekan-rekan pemuda dan remaja, kehidupan memperhadapkan banyak hal bukan hanya nilai-nilai yang baik. Kehidupan Timotius memberikan insprirasi buat setiap kita, nilai-nilai yang baik itu perlu dikembangkan. Teruslah menjadi teladan dalam takut akan Tuhan.

Jika pengaruh negatif itu merongrong dan merusak sebuah generasi, biarlah keteladanan hidup kita menjadi penawarnya. Jangan larut dan hanyut dalam arus kehancuran yang melanda generasi kita, teguhlah berdiri dalam iman kepada Allah.

Mari kita renungkan:

  1. Apa yang bisa aku teladani dari kehidupan orang tuaku?
  2. Sudahkah aku berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengembangkan nilai-nilai yang baik dalam hidupku?

Komitmenku

Mari kita berusaha mengembangkan nilai-nilai yang baik yang kita lihat dari orang tua jasmani dan rohani kita.

DDO – AC