Renungan Harian Youth, Jumat 10 Juli 2020

Syalom Sobat Youth Elohim yang luar biasa dalam Tuhan Yesus Kristus…

Sobat pasti sering banget mendengar atau melihat kata KZL. Kata ‘KZL’ sendiri sering ditemukan di media sosial. Seperti kesal, KZL bisa digunakan untuk mengekspresikan kekecewaan akan suatu hal atau suatu kondisi. Penggunaan dalam kalimat bisa dilihat di contoh berikut:

“Udah chat panjang-panjang, tapi dia cuma read doang… KZL”
“ tanggal 17 Agustus Hari kemerdekaan Kamu sibuk terus Aku jadi terabaikan” #kzl

Kzl masuk ke dalam bahasa gaul yaitu ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan oleh anak muda dalam pergaulan sehari-hari. Kzl berarti singkatan dari kata dalam bahasa gaul yaitu kezel yang berarti kesal. Sobat pernah tidak kesal karena dikecewakan oleh seseorang atau keadaan ??? Tentu pernah bukan!!! Bahkan mungkin SERING!! Hehe, soalnya kakak juga pernah …….

Dan ternyata orang yang sering mengecewakan kita adalah……. Eng ing eng…  jawabannya ialah orang-orang yang paling sering berhubungan dekat dengan kita maupun orang yang kita kasihi….. Itulah yang membuat kita benar-benar.. KZL….

Kekesalan bisa terjadi karena banyak sebab, bisa karena situasi yang tidak berjalan sesuai harapan dan keinginan kita, atau karena sikap dari teman, sahabat, saudara atau bahkan orang yang paling dekat dengan kita. Yang paling sering terjadi ketika orang  itu kesal… ya ngambek .. kalau yang bikin kesal itu berkaitan dengan pelayanan di gereja biasanya , tidak mau melayani lagi dan menarik diri (jangan sampe ya Sobat Youth hehe…)

William Blake seorang penyair Inggris, pelukis dan printmaker pernah mengatakan “Jauh lebih mudah memaafkan seorang musuh daripada memaafkan seorang teman”.

Hmmm… tetapi Sobat Youth Elohim, apakah kita juga berpikir sama seperti William Blake??? Mari kita belajar dari Daud yang pernah mengalamai kekecewaan yang amat sangat dari orang terdekatnya.

Mari sobat kita baca Mazmur 55 ya….

Saat kita disakiti orang lain, hal itu tidak akan terlalu menyakitkan. Beda halnya apabila dilakukan oleh orang terdekat, kekasih, maupun keluarga sendiri.

Daud merasa sangat sedih, gelisah, dan menangis karena dirinya takut dan gentar (ayat 3, 5-6). Hal ini diakibatkan pengkhianatan oleh orang-orang terdekatnya (ayat 13-15), yaitu Ahitofel, penasihatnya, dan anak kesayangannya, Absalom (2Sam. 15-17). Ahitofel memberi pelbagai saran yang tepat dalam keberhasilan Absalom melakukan kudeta (merebut kekuasaan secara paksa) terhadap ayahnya.

Dalam kondisi seperti ini, Daud menaikkan permohonan kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh (ayat 1-3). Rasanya, ia ingin melarikan diri dan pergi jauh dari situasi yang dialaminya dengan mencari tempat perlindungan, bahkan ke padang gurun untuk menghindari masalahnya
(ayat 7-9).

Tetapi ia tidak meninggalkan maupun menyalahkan Tuhan. Daud tetap memercayai kesetiaan Tuhan dan tak sekalipun Daud Kesal kepada Tuhan.

Daud bersedih dan menangis sepanjang hari. Ia yakin bahwa Tuhan akan menolong dan menyelamatkannya (ayat 17-20). Ia melaporkan segala tindakan kelicikan mereka yang menimbulkan kehancuran (ayat 10b-12, ayat 21-22), dan mohon Tuhan mengacaukan serta menghukum mereka (ayat 10a,16,24).

Dalam kondisi hati yang berduka, Daud mengajak umat Tuhan untuk menyerahkan segala kekuatiran kepada-Nya dan memercayai Tuhan (ayat 23-24).

Jadi sikap kita sebagai anak Tuhan dalam menyikapi rasa kesal ini adalah :

1. Dalam menyikapi setiap persoalan, dasar yang paling menentukan adalah seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan,

ini rasanya menjadi pondasi yang paling utama. Semakin intim hubungan kita dengan Tuhan, semakin kita kuat dalam menghadapi persoalan yang ada. Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita mampu untuk mengampuni dan menerima perbedaan dengan orang lain. Ketika rasa kesal muncul, berdoalah terus menerus minta Tuhan memberikan kekuatan, kita harus sadar bahwa dengan kekuatan diri sendiri tidak mungkin dapat mengatasi persoalan ini. Selanjutnya …

2. Masihkah sobat percaya bahwa dalam setiap situasi yang terjadi selalu ada hikmah yang bisa diambil ?

oleh karena itu jadikan setiap keadaan apapun yang menimpa sebagai suatu sarana untuk menempa kita menjadi lebih kuat dan dewasa dihadapan Tuhan.
Jangan sampai kita menyimpan kekesalan apalagi memeliharanya itu suatu kerugian besar, mintalah Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita , supaya kita mampu bersikap benar dan mengambil hikmah dalam menghadapi situasi ini.

Belajar bersikap positif dan mengucap syukurlah senantiasa di dalam Tuhan .

3. Ingat selalu bahwa yang kita layani adalah Kristus

Bukan manusia atau organisasi yang kita layani, jikalau kita melihat manusianya pasti akan kesal, tetapi jikalau karena Kristus yang sudah memberi anugerah kehidupan kekal kepada kita , maka kita tidak akan mudah kesal, semua dapat ditanggung di dalam Dia yang senantiasa memberi kekuatan. 

Oleh karena itu sobat Youth Elohim, ingat… kita dapat disakiti dan menjadi kesal oleh siapapun, bahkan oleh orang terdekat kita. Namun, KESAL tidaklah baik bila dibiarkan berlebihan, karena dapat meningkat menjadi BENCI dan membuat kita lemah semangat bahkan putus asa.

Perasaan Kesal, bila terlalu lama pun akan menguasai hati dan pikiran kita sehingga tidak lagi FOKUS kepada VISI / TUJUAN hidupnya. Karena sikap Kesal, kita dapat melakukan sesuatu tanpa pikir panjang, yang dampaknya merugikan diri sendiri, bahkan menghancurkan hidup atau masa depan kita

Komitmenku hari ini :

Dimana saja Tuhan tempatkan aku, selalu saja aku akan berhadapan dengan orang atau situasi yang sulit, firman Tuhan justru mengingatkanku untuk menjadi garam dan terang supaya nama Tuhan dimuliakan melalui diriku. Roh Kudus menolong dan memberi kekuatan senantiasa. Aku mau mengampuni dan melayani Tuhan Yesus dengan penuh ucapan syukur dan kalahkan rasa kesalku, Amin..

AY – AE