Iman_dan_perbuatan

Renungan harian Youth, Rabu 22 Juli 2020

Yakobus 2:22

Syalooom… selamat pagi teman- teman remaja pemuda ELOHIM. Apa kabarnya? Semoga semuanya dalam keadaan sehat yaa… Di suatu sore yang dingin, dua pemuda mampir ke angkringan memesan teh hangat. Selang beberapa menit, dua gelas teh yang masih mengepul telah terhidang. Sama persis. Setelah menyeruput sedikit, yang seorang berkata, “Kawan, sepertinya minuman kita tertukar. Teh ini rasanya hambar padahal saya memesan teh manis”. Temannya menyeruput teh di depannya, “Tapi, ini teh tawar sesuai pesanan saya. Minuman kita tidak tertukar”. Setelah diamati, minuman mereka memang tidak tertukar. Di dasar gelas pertama, ada gula setinggi satu centimeter. Gulanya belum diaduk, sehingga tehnya terasa hambar. Setelah gula itu diaduk, barulah teh manis bisa dinikmati.

Kehidupan orang Kristen seringkali terjadi demikian. Banyak orang Kristen yang percaya dengan Tuhan Yesus, rajin beribadah, dan berbuat baik; tapi kehidupannya tidak mencerminkan imannya kepada Tuhan.

Yakobus menulis dalam suratnya, yaitu

Yakobus 2:22, ”Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”  Yakobus juga mengatakan: “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.”

Karena iman menuntut pembuktian, bukan sekedar dogma, kepercayaan, tetapi melampaui doktrin-doktrin keagamaan tersebut. Karena itu Yakobus mengguggat cara beriman jemaatnya yang masih terpusat pada ajaran agama, tetapi tidak menghidupi ajaran itu dalam tindakan nyata. Disini baru kita bisa rasakan bahwa kehidupan Kristen itu ialah ketika iman Kristen itu menyatu dengan perbuatan.

Yakobus memberi dua contoh kepada kita.

Pertama, Abraham…

‘Bapa kepada semua yang beriman’. Bagaimana kita melihat imannya Abraham? Melalui tindakannya mempersembahkan Ishak. Allah menguji iman Abraham lewat peristiwa ini dan Abraham lewat tindakannya, memateraikan imannya pada Allah. Ketaatan Abraham ini menunjukkan imannya kepada Allah.

Kedua, adalah Rahab..

Bagaimana kita melihat iman Rahab? Lewat penerimaannya akan pengintip-pengintip Israel. Mengapa Rahab menyembunyikan pengintip-pengintip Israel ini? Karena imanya kepada apa yang telah Allah katakan. Karena imannya kepada Allah Israel, Rahab meresikokan nyawanya untuk menyembunyikan pengintip-pengintip itu dan membantu mereka mengenapi kehendak Allah.

Seperti sebuah kisah tentang seorang yang berjalan di atas seutas kawat baja, di atas air terjun. Dia membuktikan kemampuannya untuk menyeberangi air terjun tersebut hanya dengan menggunakan seutas kawat baja dan dia selamat sampai di seberang. Kemudian dia berkata kepada setiap orang yang menyaksikan pertunjukan itu: “Percayakah kalian bahwa saya juga sanggup menyeberangi air terjun ini dengan membawa satu orang di atas pundak saya?” Banyak dari mereka percaya akan kemampuan orang ini. Tetapi ketika ditantang satu orang sukarelawan untuk dapat membuktikan kemampuannya itu, tidak seorangpun yang bersedia menjadi sukarelawan. Sampai ada seorang anak kecil yang tiba-tiba bersedia menjawab tantangan itu, kemudian mereka berdua berhasil menyeberangi air terjun itu dengan selamat. Ternyata anak itu adalah anaknya sendiri. Dari kisah ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa kepercayaan anak itu kepada ayahnya dibuktikan dengan tindakan yang nyata. Demikianlah iman kita kepada Tuhan harus dibuktikan dengan tindakan yang nyata.

Banyak perbuatan baik bisa dilakukan tanpa iman kepada Kristus. Tapi tidak mungkin kita mengaku beriman tanpa berbuat baik dan benar.

Jadi kita dibenarkan dan diselamatkan karena iman, dan mari kita menghidupi iman kita melalui perbuatan. Inilah maksud dari Yakobus ketika dia menulis:

Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” (Yakobus 2:24).

Komitmenku Hari ini …

Aku mau menjadi pelaku Firman saja, tidak hanya mendengarkan Firman Tuhan tetapi kami akan berusaha untuk menjadi pelaku Firman, melakukan apa yang benar.

Tuhan memberkati.

MW -YDK