Renungan Harian Youth, Selasa 24 November 2020

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. Yesaya 40:31 

Menunggu diartikan sebagai tinggal beberapa saat di suatu tempat dan mengharap sesuatu akan terjadi (datang). Ketika kita berbicara tentang jawaban doa maka hal itu menjadi sesuatu yang sangat abstrak karena kita mungkin tidak bisa melihat gambaran utuhnya secara fisik. Dengan jelas kita tidak akan mendapatkan secarik kertas yang bertuliskan “ya” atau “tidak: atau juga sebuah suara menggelegar dari langit yang berbunyi “ya” atau “tidak.”

Ada banyak pergumulan kita yang kita doakan dalam kehidupan misalnya keberhasilan dalam studi, pemenuhan kebutuhan tertentu, kebahagiaan dalam keluarga kita, cita-cita dll. Bagi pemuda pergumulannya bisa berupa pekerjaan yang mapan, kendaraan yang bonafid, kesehatan, pasangan hidup, dll

Jawaban doa bisa saja “YA”, “TIDAK”, atau “TUNGGU”.

Respon kita ketika kita mendapat jawaban “YA” sangatlah jelas, kita bisa sangat lega, bersorak, melompat-lompat katakan apa saja untuk mengekspresikan sukacita kita. Sedangkan ketika kita mendapat jawaban”TIDAK” tentu saja jelas,…mungkin kita menangis, sedih, kecewa. Namun pastinya kita mendapat sebuah kejelasan bahwa baik untuk kita mulai beralih dan mengambil langkah baru. Seringkali jawaban ketiga sangatlah sulit digambarkan, “TUNGGU DULU”. “TUNGGU DULU” bukanlah jawaban yang mudah untuk disikapi.

Siapa yang tidak benci menunggu????

Menunggu menimbulkan efek emosional tertentu seperti stress, kebosanan, perasaan melewatkan sesuatu yang jauh lebih penting. Seakan-akan kita ingin berteriak : I want the answer “NOW”

Daud banyak sekali mengajar kita tentang bagaimana dia menanti-nantikan jawaban doa.

Kehidupan Daud yang kita bisa pelajari di Kitab Samuel menunjukkan kehidupan yang dipenuhi dengan penderitaan, hinaan, cercaan, permusuhan, pergumulan. Sebuah kehidupan yang berat dan penuh tekanan. Lewat Mazmur Daud yang kita bisa baca, salah satunya pada Mazmur 143 menggambarkan sebuah perjuangan kehidupan lewat doa-doa yang Daud panjatkan.

Mazmur Daud. Ya TUHAN, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada permohonanku! Jawablah aku dalam kesetiaan-Mu, demi keadilan-Mu! Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu. Sebab musuh telah mengejar aku dan mencampakkan nyawaku ke tanah, menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati. Semangatku lemah lesu dalam diriku, hatiku tertegun dalam tubuhku. Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu. Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur. Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku. Lepaskanlah aku dari pada musuh-musuhku, ya TUHAN, pada-Mulah aku berteduh! Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata! Hidupkanlah aku oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, keluarkanlah jiwaku dari dalam kesesakan demi keadilan-Mu! Binasakanlah musuh-musuhku demi kasih setia-Mu, dan lenyapkanlah semua orang yang mendesak aku, sebab aku ini hamba-Mu!

Dalam Penantian kita mungkin kita mungkin mendesak Tuhan sedemikian rupa untuk bersegera, kita merasa kekuatan kita sudah habis dan kita tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi, kita merasa seakan-akan dalam masa penantian itu Tuhan menyembunyikan diri dan meninggalkan kita dan merasa seakan-akan tidak punya pengharapan lagi.

Perikop ini mengajar kita beberapa bagian yang sangat penting ketika kita mepergumulkan hidup kita di hadapan Tuhan:

  1. Pastikan kita memohon pada Allah yang benar
  2. Evaluasi hidup kita, sudahkah kita berjalan seturut kehendakNya
  3. Kalaupun penderitaan mendera kita selama masa penantian itu, renungkanlah kebaikanNya dan kesetiaanNya 

Ratapan 3:21-23 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:  Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

Hauslah akan pribadiNya dan jalan-jalanNya, jangan hanya mencari tanganNya. Pada akhirnya, pastikan bahwa di atas seluruh pergumulan kita, kita rindu melakukan kehendakNya untuk kemuliaanNya.

Menanti mengandung arti melatih kesabaran dan menantikan pertolongan Tuhan dengan tenang dan tanpa mengeluh. Menanti dengan sabar karena pengharapan dalam Tuhan tidak mengecewakan. Sebuah iman yang berharap dan percaya pada Allah yang ia kenal dengan baik.

Yesaya 40:29-31  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Mengapa harus menanti dalam TUHAN? Karena penantian di dalam Tuhan sangatlah berharga. Tuhan memberikan kekuatan baru, Tuhan memberikan pemulihan, Tuhan yang mengetahui gambaran utuh hidup kita, dan Tuhan mengendalikan masa dan waktu yang terbaik bagi kita

Jadi mari kita menanti –nantikanjawabn doa dari Tuhan dengan sikap hati yang benar.

Komitmen hari ini

Belajar menanti-nantikan Tuhan adalah bentuk kepercayaan kepada janji Tuhan dan percaya waktu Tuhan adalah yang terbaik.

DDO – MLE