Perisai Iman

Renungan Harian Jumat. 24 Juli 2020

Dalam kehidupan ini seringkali kenyataan berbeda dengan impian atau cita-cita kita. Impian dan cita-cita yang tidak terwujud sering kali membuat orang tawar hati dan kecewa. Hal ini dapat menimpa siapa saja bahkan orang yang percaya kepada Tuhan bisa menjadi kecewa terhadap Tuhan bahkan meninggalkan Tuhan. Namun ternyata bukan hal itu saja yang membuat orang meninggalkan Tuhan.

Ternyata “KENYAMANAN” juga bisa membuat orang meninggalkan bahkan lupa dengan Tuhan. Lupa bahwa semua pencapaiannya itu berasal dari Tuhan. Sering kali ujian datang justru saat kita dalam posisi nyaman, dan ujian itu sebagian besar berasal dari diri sendiri.

Kita akan melihat salah satu contoh dalam Alkitab.

Dalam II Tawarikh 24, Raja Yoas yang diangkat oleh Tuhan menjadi Raja ketika masih berusia 7 th.  Yoas adalah anak Ahazia raja Yehuda yang kesembilan II Raja-Raja 11. Pada waktu itu Atalia membunuh semua anak raja Ahazia karena dia ingin berkuasa namun Yoas diselamatkan oleh Yoseba bibi dari Yoas yang adalah istri dari Imam Yoyada. Yoas dibesarkan dalam rumah Tuhan oleh Imam Yoyada yang melayani di Bait Allah. Pada awalnya ketika Imam Yoyada masih hidup Alkitab mencatat Yoas hidup benar ketika imam Yoyada masih hidup (ayat 2). Yoyada yang mengajar Firman Allah setiap hari siang dan malam, karena pada waktu itu Yoas tinggal dalam Bait Allah (sedang disembunyikan) sampai usia 7 tahun. Yoas tetap melakukan yang benar ketika Imam Yoyada hidup. Bahkan Bait Suci dipugar dan kehidupan agama yang benar dipulihkan di seluruh negeri itu.
Setelah Imam Yoyada mati, Alkitab mencatat beberapa dosa yang dilakukannya (II Taw 24:17)

Dosa yang dilakukan Yoas:

Penyembahan berhala
II Tawarikh 24:18, Setelah kematian imam Yoyada penyembahan berhala menyusup kembali bahkan seluruh bangsa juga melakukannya.

2 Raja-raja 12:3 (VMD)  Namun, tempat-tempat tinggi tidak dibinasakannya. Orang masih membawa kurban dan membakar kemenyan di tempat persembahan itu.

Penyembahan yang benar kepada Allah dijalankan namun penyembahan kepada ilah ilah tidak disingkirkan. Hal ini mendatangkan murka Allah.
Melalaikan peringatan/teguran

II Taw 24:19-20, Yoas melecehkan peringatan-peringatan para nabi dan membunuh Zakharia, anak imam Yoyada dan pengganti imam itu. Yoas lupa akan segala kebaikan Imam Yoyada yang telah menyelamatkannya, mengajar, melindungi,  menjaga bahkan mengurapinya menjadi Raja. Akhirnya Yoas mencapai keruntuhannya. Merasa terancam oleh serangan Siria dalam pemerintahan Hazael, ia menjarah emas inventaris Bait Suci dan mengirimkannya sebagai suap kepada raja Siria. Tapi tidak lama kemudian Yoas dibunuh oleh komplotan perwira yg berusaha menggulingkan dia. Akhir hidup Yoas sangat menyedihkan.

Dalam kenyataan hidup kita sehari-hari seringkali kita menjumpai kenyamanan membuat seseorang menjadi sombong, keras kepala, berbuat sekehendak hatinya seolah-olah semuan yang dilakukannya “benar”, tidak bisa diingatkan apalagi ditegur atau dinasehati, menjadi seorang yang arogan (sombong, congkak, angkuh ).
Hal ini sangat tidak menyenangkan Tuhan oleh sebab itu Yoas dihukum oleh Tuhan. Dosa yang dilakukan oleh Yoas akibat dari penyelewengannya, dia tidak lagi mempertahankan imannya kepada Tuhan tapi mulai bergeser kepada ilah- ilah lain buatan manusia dan kekuatannya sendiri.

Banyak orang berusaha memperjuangkan bisnis, pekerjaan, study-nya bahkan pelayanannya bagaimana caranya supaya sukses, untuk itu seseorang mau berjuang sekuat tenaga, sekuat pikiran dan berusaha untuk mempertahankan supaya jangan sampai gagal. Bahkan diupayakan dengan berdoa, rajin baca Alkitab, dan rajin ke gereja agar apa yang diusahakan tercapai. Tetapi tidak banyak orang Kristen mengupayakan untuk memelihara iman mereka yang jauh lebih penting daripada kebutuhan hidup duniawinya.

Iman bukan hanya dimiliki saja tetapi harus dipertahankan, bahkan IMAN itulah PERISAI perlindungan kita dari panah api si jahat.

Sebagi pengikut Kristus kita harus berjuang mempertahankan iman agar tidak gugur seperti Yoas.
Dalam bahasa Yunani, berjuang  ~ EPAGONIZOMAI, artinya menggambarkan pertempuran yang harus dilakukan oleh orang percaya dalam rangka mempertahankan iman.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk mempertahankan iman bukanlah perkara yang mudah dan membutuhkan perjuangan. Layaknya seorang olahragawan yang bertanding dalam sebuah gelanggang pertandingan (1 Tim. 6:12). Dan kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh agar dapat mempertahankan iman sampai akhir hidup kita (2 Kor. 13:5)

Hal-hal fisik yang dapat dilihat misalnya rajin ke gereja, rajin baca Alkitab, rajin berdoa, aktif dalam kegiatan kerohanian, namun itu semua bukan jaminan kalau orang tersebut memiliki iman yang kuat. Iman yang kuat diuji oleh sebuah proses. Kita harus bersungguh sungguh mempertahankan iman kita. Seperti Yoas memperbaiki rumah Tuhan itu bagus tapi sayang tidak diimbangi dengan kesungguhan hati.

Kenyamanan Yoas membuat dia berkompromi dengan dosa, dan akibatnya dosa itu menguasai Yoas dan akhirnya dia mati. Mari tetap memiliki kerendahan hati meski berada ditempat yang serba nyaman, tetap peka terhadap suara Tuhan. Mari kita dengarkan pendapat dan teguran orang lain  karena itu akan menolong kita tetap pada jalan yang benar.  Firman Allah adalah satu-satunya yang harus kita jadikan landasan dalam perilaku kita.

DALAM ALKITAB ADA NASEHAT ADA TEGURAN DAN ADA PENUNJUK JALAN YANG BENAR YANG HARUS KITA TEMPUH.

Ketika kita mengikuti panduan Firman Allah yang terdapat dalam Alkitab kita akan terhindar dari bahaya kenyamanan ini. Karena kita akan disadarkan bahwa semua pencapaian kita saat ini berasal dari Tuhan. Kita akan tetap rendah hati meski dalam keadaan baik, nyaman dan memiliki posisi tinggi.

Ulangan 8:17-18 (VMD)

Jangan berpikir dalam hatimu, ‘Aku mendapat kekayaan ini karena kuasa dan kemampuanku sendiri.’ Ingatlah TUHAN Allahmu satu-satunya yang memberikan kuasa kepadamu melakukan itu. Ia melakukannya karena Ia mau memenuhi Perjanjian yang dibuat-Nya kepada nenek moyangmu sebagaimana dilakukan-Nya hari ini.

Selamat Pagi,
Tuhan Yesus menaungi kita semua.

EM