Yuk belajar ber “Empati” Bila Rasa ini Rasamu

Renungan Harian Youth, Kamis 14 Januari 2021

Syalom rekan-rekan Youth, yuk siapin hati kita untuk merenungakan Firman Tuhan.

Empati merupakan respon afektif yang berasal dari pemahaman kondisi emosional orang lain, perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan orang lain.

Wujud empati pada masyarakat Jawa adalah dengan gotong-royong dan ewuh-pekewuh. Gotong-royong maksudnya adalah saling membantu dan melakukan pekerjaan demi kepentingan bersama tanpa adanya imbalan apapun. Salah satunya dengan rewang atau nyinom dalam acara hajatan tetangga atau saudara. Tradisi rewang atau membantu tetangga tentunya suatu kegiatan yang sangat positif terutama untuk masyarakat Indonesia khususnya di Jawa sendiri yang memang kental dengan budaya gotong royongnya karena dengan rewang bisa saling bergotong-royong antara warga yang satu dengan yang lainnya tanpa membeda-bedakan sehingga menimbulkan rasa saling membutuhkan dan membentuk persatuan yang kuat.

Dilihat dari perkembangan jaman saat ini remaja mulai meninggalkan kebudayaan seperti tradisi nyinom atau rewang. Saat ini nilai empati pada remaja sudah mulai berkurang, Lingkungan tempat tinggal dan tempat bergaul sangat mempengaruhi merosotnya nilai empati.

Lunturnya nilai empati pada remaja menyebabkan menurunnya nilai kepedulian dan tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat.

Remaja saat ini mulai meninggalkan kebudayaan seperti tidak menghargai orang yang lebih tua sampai yang paling terlihat adalah membantu antar sesama. Ya seperti kondisi para remaja saat ini yang terlihat lebih cuek, gengsi dan tidak peduli dengan orang lain. Kondisi Pandemi memuculkan rasa empati orang orang dilsekitar kita. Kalau setiap hari Jumat atau hari hari yang lain kalian lihat banyak orang yang membagikan makanan gratis. Itu merupakan salah satu wujud dari empati.

Alkitab menunjukkan kualitas empati yang kita lihat ditunjukkan dalam beberapa narasi,

Rasul Petrus menasihati orang-orang Kristen untuk “seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati” 1 Petrus 3:8.
Rasul Paulus juga mendorong rasa empati ketika ia mendesak sesama orang Kristen untuk “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Empati berkaitan erat dengan simpati, tetapi lebih sempit dan terfokus, dan umumnya dianggap lebih pribadi. Belas kasih, simpati, dan empati semuanya harus dilakukan dengan memiliki hasrat (perasaan) untuk orang lain atas penderitaannya. Empati yang sebenarnya adalah perasaan ikut berpartisipasi dalam penderitaan orang lain. Sebagai orang-orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi orang-orang terdekat dan mengasihi sesama orang percaya . Ada beberapa contoh tentang empati dalam Alkitab yaitu :

Matius 22:39; Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Yang kedua adalah seperti ini, ‘Kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.
1 Petrus 4:8, Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh  seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Di atas semuanya itu, teruslah saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

Kita juga  lihat teladan Tuhan Yesus yang selalu peka terhadap penderitaan orang lain.

Matius mengatakan kepada kita bagaimana Yesus “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Matius 9:36).

Pada kasus yang lain, Yesus mengamati seorang janda yang akan mengubur anaknya. Merasakan kesedihannya  Alkitab mengatakan bahwa “hati Yesus melimpah dengan belas kasihan”, Ia mendekati prosesi pemakaman dan membangkitkan pemuda itu (Lukas 7:11-16).

Kata “belas kasih” menggambarkan belas kasih yang mendalam dari Allah.

Allah adalah yang terbaik dalam berempati: “Sebab Dia sendiri tahu seperti apa kehidupan kita, pergumulan atau kerinduan kita. Mari kita bersama sama teman teman  belajar melatih diri kita untuk berempati, dan peduli dengan orang lain. Saat ini memang kita masih menghadapi masa pandemi, dengan keterbatasan aktivitas, waktu dan lain lain yang mengharuskan setiap kegiatan banyak dihabiskan di rumah saja. Ini bisa kita manfaatkan untuk belajar berempati di lingkungan keluarga kita, saling menolong dengan saudara saudara kita, atau bergotong royong dengan masyarakan membersikan lingkungan kita atau jika kita mendengar teman atau sahabat kita sedang mengalami kesusahan kita dapat mendoakannya. 

Dengan berempati kita sedikit mengorbankan kesenangan kita, waktu, pikiran bahkan uang saku kita namun itu tidak sebanding dengan kepuasan yang kita dapatkan. Biarlah kita sama sama mengikuti teladan Tuhan Yesus, sehingga ketika orang lain melihat,  dapat terberkati dengan kehidupan kita.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama , menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Filipi 2 : 5

Komitmen :

Ajar kami Tuhan menjadi anak muda yang peduli dengan sesama kami, mengikuti setiap teladanmu dalam kehidupan kami.

KP – SCW