“Tuhan Berhitung”

“Tuhan Berhitung”

Renungan Harian Anak, Rabu 23 Juni 2021

Bahan Bacaan : Amos 2:6-16

Hallo…hallo adik-adik. Selamat pagi, selamat berjumpa kembali. Apa kabar semuanya?? Hari ini kita mau sama-sama merenungkan firman Tuhan ya. Judul Renungan hari ini adalah Tuhan Berhitung. Bacaannya di Amos 2:6-16 ya.

Ayo kakak tanya….siapa yang hari-hari ini telah melakukan perbuatan baik pada adik, kakak atau pada teman? Kira-kira…bisakah adik-adik menghitung berapa perbuatan baik yang telah kalian lakukan setiap harinya? Apakah sampai sepuluh kali seperti sepuluh jari tangan adik-adik? Wah…hebat lho kalian telah banyak melakukan kebaikan hari ini. Adik-adik…coba kalian perhatikan bacaan kita hari ini pada ayat 4

“Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku…”.

Di bacaan kita hari ini Tuhan memberi hukuman atas Israel. Karena Bangsa Israel menunjukkan kesalahan diantaranya yaitu menjual orang benar dan miskin karena uang, tidak melakukan keadilan bagi semua orang, melakukan tindakan kejahatan, bertindak menyimpang dari ajaran Tuhan, tidak menjaga kekudusan hidup,bertindak semaunya sendiri.

Nah ternyata Tuhan menghitung segala perbuatan kita, baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk.

Mengapa Tuhan menghitung setiap perbuatan kita? Karena Tuhan sangat menginginkan kita untuk lebih banyak melakukan kebaikan daripada melakukan keburukan.  Menurut iman Kristen, kita harus berbuat baik bukan karena mengharapkan agar Tuhan membalas perbuatan kita, tetapi karena Tuhan sudah lebih dulu berbuat baik kepada kita, terutama dengan mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita. Selain itu kita harus berbuat baik karena diperintahkan Tuhan kepada semua umatNya agar orang yang melihat perbuatan kita, akan memuji Dia.

Perbuatan baik adalah bagian hidup Kristen kita yang berfungsi untuk mengabarkan dan membagikan kasih Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Berbuat baik adalah bagian dari tugas mengabarkan injil keselamatan, sebagaimana diperintahkan Yesus kepada semua pengikutNya dalam amanat agungNya. Siapa yang ingin membuat Tuhan senang? Kakak yakin kita ingin membuat Tuhan senang. Yuk…kita banyak-banyak melakukan kebaikan agar Tuhan selalu gembira karena kita menyayangi Tuhan dan juga mengasihi sesama kita.

Mulailah dari hal-hal yang kecil dan sederhana kepada orang-orang yang paling dekat dengan adik-adik yaitu keluarga adik-adik semuanya

Ayat hafalan :

Matius 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Komitmen:

Tuhan Yesus, aku sayang pada-Mu, oleh sebab itu aku setiap hari berusaha melakukan kebaikan agar Engkau selalu senang. Tolonglah aku, ya Tuhan, Amin.”

-NJ-GCT

“Not the End”

“Not the End”

Renungan Harian Youth, Rabu 23 Juni 2021

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar  bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,” Filipi 2:12

Suatu saat saya melewati videotron di dekat Alun-alun Kota Batu. Videotron ini menayangkan pesan tenaga kesehatan tentang pentingnya menjaga protokol kesehatan meski pun sudah menerima vaksin Covid 19. Selaras dengan pesan tersebut saya teringat kepada pesan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar masyarakat yang sudah menerima vaksin tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, karena divaksin tidak mengubah seseorang jadi “Superman”.Jangan habis suntik merasa jadi Superman, lebih kuat dari Kapolres atau dari Brimob. Kekebalan itu baru optimal 28 hari sesudah suntik kedua, yang itu tidak mengubah bapak ibu jadi Superman,” Namun, setelah vaksinasi setidaknya seseorang bisa punya kemampuan antibodi lebih tinggi, sehingga ketika virusnya datang, dalam satu sampai dua hari virusnya bisa mati karena udah ada pasukan yang melawan di dalam tubuh. Mengapa pesan ini diberikan? Karena ada gejala yang ditunjukkan masyarakat bahwa mereka tidak lagi secara ketat menerapkan protokol kesehatan setelah menerima vaksin. Ada sebuah tanggung jawab bagi kita untuk tetap waspada dalam rangka mencegah penyebaran Covid 19. Vaksin bukanlah akhir dari perjuangan kita melawan Covid 19. Kita tetap harus menjaga diri kita supaya tidak terpapar virus Covid 19.

Merenungkan pesan ini, saya teringat akan pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi dalam

Filipi 2:12 “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,”.

Kata yang digunakan adalah katergazesye. Kata ini bermakna mengerjakan sesuatu dengan saksama, dan melakukannya dengan berjerih payah.

Perhatikan, kita harus rajin dalam menggunakan segala sarana yang mengarah pada keselamatan kita. Kita tidak boleh hanya mengerjakan keselamatan kita secara asal-asalan, tetapi harus mengerjakannya dengan segala daya upaya, dengan mengerjakan apa saja yang perlu dilakukan, dan bertekun di dalamnya sampai akhir.

Keselamatan merupakan hal besar yang harus kita pikirkan, dan kita harus mengarahkan hati kita kepadanya. Paulus menambahkan, dengan takut dan gentar.

Ibrani 4:1 Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. “Gemetar, karena takut jangan sampai engkau bertindak keliru dan gagal memperolehnya. Lakukanlah segala sesuatu dengan saksama di dalam ibadah dengan cara yang terbaik, dan takutlah jangan sampai di dalam segala keuntungan yang kamu miliki, kamu malah dianggap ketinggalan” (Ibr. 4:1). Rasa takut sangat baik untuk menjaga dan menghindarkan diri dari kejahatan. Keselamatan bagi anak Tuhan bukanlah titik akhir.

Keselamatan yang kita peroleh dalam Kristus Yesus adalah sebuah karunia dan keuntungan bagi kita. Karunia, karena dalam dosa sebenarnya kita tidak layak menerimanya. Keselamatan bukanlah sesuatu yang kita dapatkan atau capai karena usaha kita. Itu semua semata-mata karena kasih karunia Allah. (Efesus 2:8) Keuntungan, karena keselamatan yang Tuhan yang kita nikmati mengandung kepenuhan janji yang bukan saja untuk masa kini namun juga dalam kekekalan. Jangan sampai karunia dan keuntungan yang kita terima membuat kita menjadi pribadi yang sembrono, menganggap bahwa kita bebas melakukan apa saja.

Keselamatan yang kita terima, tidak serta merta membuat kita bebas dari godaan dosa dan tipu daya Iblis.

Selama kita hidup, suka atau tidak, kita akan berhadapan dengan dosa. Keselamatan tidak membuat kita kebal terhadap dosa. Rasul Petrus berpesan,”Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan  akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Perus 3:18a). Selama kita hidup kita harus memastikan bahwa kita tidak kehilangan keselamatan itu dengan sia-sia.

Salvation is not the ending.

Keselamatan bukanlah akhir. Keselamatan adalah sebuah awal yang baru di mana kita beroleh bagian dalam rancanganNya yang ajaib. Anak Tuhan tidak seharusnya berhenti pada kata selamat. Kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Bagaimana caranya?

  1. Stay on the track.
    Tetap hidup dalam keselamatan dengan bertindak hati-hati. Sama seperti seorang pelari yang mengerjakan lombanya, dia akan sampai pada akhir yang benar ketika matanya terarah tetap pada tujuan.
  2. Keep on growing.
    Mengerjakan keselamatan mengandung makna yang aktif. Bertumbuhlah dalam iman, pengharapan, dan kasih lewat pembacaan dan perenungan Firman Tuhan. Bertumbuh semakin serupa dengan Dia (Roma 8:29).
  3. Live in the fear of God.
    Hiduplah dalam takut akan Tuhan. Dalam renungan sebelumnya disampaikan secara gamblang apa maksud hidup dalam takut akan Allah. Hidup dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan. Ibrani 4:1 mengingatkan kita untuk waspada. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bersikap waspadaterhadap pengajaran, terhadap pergaulan kita, terhadap ketamakan, terhadap kemurtadan, dll. Jangan asal-asalan dan sembrono karena kita tidak pernah tahu akan berakhir di mana jika kita tidak bertindak waspada.

Rekan-rekan Youth, mari belajar mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Keselamatan dari Allah adalah potensi yang memungkinkan kita untuk hidup berdampak bagi diri kita dan orang-orang sekitar kita demi kemuliaan namaNya.

Lewat tindakan, sikap, tutur kata kita biarlah nyata karya keselamatan yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita. Mari bertindak dengan bijaksana supaya dalam segala apa yang lakukan, pikirkan, katakan, kita tidak kehilangan keselamatan yang sudah kita terima.

Tuhan Yesus Memberkati dan menyertai kita semuanya

DDO – YDK

“MERAIH KEMENANGAN”

“MERAIH KEMENANGAN”

Renungan harian, Rabu 23 Juni 2021

Bacaan: 1 Samuel 14:1-23

Bacaan Firman Tuhan hari ini mencatat kemenangan yang Allah berikan bagi Israel. Catatan kemenangan yang tentunya akan menjadi jauh lebih spektakuler andaikata Saul menaati firman Tuhan dan Samuel masih bersama-sama dengan dia. Tetapi faktanya Saul gagal mendengarkan firman dan Samuel sudah meninggalkan dia (lihat 1Sam. 13:15, terjemahan alternatif: Kemudian Samuel bangkit dan memisahkan dirinya dari Gilgal ke Gibea Benyamin). Tetapi Tuhan tetap menyertai Israel. Tuhan memberikan kesempatan kepada Saul untuk bertobat dari ketidakpercayaannya dan belajar untuk mengandalkan Allah. Alangkah sabarnya Tuhan. Saul tidak percaya? Dia masih bersedia menunjukkan bukti penyertaan-Nya melalui kemenangan luar biasa yang diperoleh Yonatan, anak Saul. Yonatan mempunyai iman kepercayaan yang sangat besar kepada Allah. Dia berperang dengan hanya disertai satu orang untuk melawan sepasukan Filistin. Bahkan di waktu yang akan datang dia juga akan begitu beriman dengan keputusan Allah menyingkirkan Saul (dan, tentu saja, termasuk dirinya), dan memilih Daud. Bahkan dia mengikat janji dengan Daud seolah-olah Daud sudah benar-benar menjadi raja (1Sam. 20:15-16).

1 Samuel 14:1 mencatat bahwa Yonatan mengajak pembawa senjatanya untuk pergi ke dekat salah satu pasukan Filistin untuk menyerang mereka. Dikatakan juga bahwa Yonatan dan bujangnya itu pergi diam-diam. Mengapa diam-diam? Mungkin karena Saul tidak juga mengambil keputusan mau bertindak seperti apa. Saul mulai menunjukkan diri sebagai pemimpin yang tidak punya keahlian sama sekali selain mempertahankan takhta.

Banyak pemimpin seperti ini. Hanya tahu strategi memenangkan suara, menjaga popularitas dan elektabilitas, tetapi tidak becus memimpin. Hanya tahu menjaga takhtanya dari ancaman orang lain, tetapi tidak tahu menjaga rakyatnya dari kekacauan. Hanya tahu menikmati posisi sebagai penguasa tanpa pernah tahu akan mengarahkan rakyatnya ke mana.

Tetapi Yonatan berbeda dengan ayahnya. Dia tidak mempedulikan namanya ataupun takhtanya. Dia hanya ingin kemenangan bagi umat Tuhan. Maka dia pun bertindak demi umat Tuhan.

Bagaimana Yonatan bisa memperoleh kemenangan?

I. KENALILAH SIAPA ALLAH-MU

Untuk dapat meraih Kemenangan, maka anda harus mengenal siapa ALLAH saudara.

ay.6 Bagi TUHAN tiada yang SUKAR

Besarnya pengenalan anda tentang Allah menunjukkan besarnya KEDEKATAN anda dengan Allah.
Kedekatan anda kepada Allah menunjukkan hubungan anda dengan Allah adalah BAIK.

Yonathan meraih kemenangan untuk Israel karena dia mengenal TUHAN dengan baik.
» DIA adalah Allah pencipta langit dan bumi.
» DIA adalah Allah yang membelah Laut Mati.|
» DIA adalah Allah yang memberi roti Manna selama 40 tahun.
» DIA adalah Allah yang sanggup membuat mujizat.
» DIA Allah yang memberikan Kemenangan bagi umatNya (ay.20)

II. KENALILAH SIAPA SAUDARA

Untuk dapat meraih Kemenangan, maka anda harus mengenal siapa anda. Ditengah himpitan, Jonathan maju berperang dengan penuh keberanian.(ay.1)

Nama “Jonathan” berarti “TUHAN telah memberi” Jonathan tahu dia adalah anak Allah; umat Perjanjian; umat Pemenang.

III. KENALILAH MUSUH ANDA

Untuk dapat meraih Kemenangan, maka anda harus mengenal siapa MUSUH anda. Yonathan mengenal siapa musuhnya. Musuh adalah apa saja yang menginginkan kehancuran anda (dunia, daging, Iblis).

Musuh harus dilawan (1 Petrus 5:8; Yak 4:7) Putuskan segala hubungan dengan lawan, agar anda jangan dihancurkannya.

Yonathan tidak kompromi dengan musuhnya (14, 20) Marilah kita Raih Kemenangan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk Kemuliaan Bapa Surgawi dengan mengenali siapa Allah kita, siapa diri kita dan siapa musuh kita.

Tuhan Yesus memberkati.

TC