Bersyukur Dulu Baru Bahagia

Bersyukur Dulu Baru Bahagia

Renungan Harian Youth, Jumat 15 Oktober 2021

Bahan Bacaan : I Tesalonika 5:18

            Syalooom… selamat pagi teman- teman remaja pemuda ELOHIM. Apa kabarnya hari ini? “Bersyukur dahulu baru bahagia, bukan bahagia dahulu baru bersyukur.” Pernahkah Anda mendengar kalimat tersebut? Ya, kalimat bijak ini dapat dengan mudah ditemui di berbagai media sosial. Kalimat bijak ini sebenarnya ingin menjelaskan bahwa mengucap syukur seharusnya tidak tergantung pada keadaan dan suasana hati. Sudah menjadi rahasia umum, jika orang sering sulit mengucap syukur kepada Tuhan ketika sedang diperhadapkan pada banyak kesulitan, masalah, kesukaran atau kekurangan. Jujur, memang bukan perkara mudah untuk mengucap syukur di tengah situasi yang tidak baik.

I Tesalonika 5:18 mengatakan,”Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulahyang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Pertanyaannya, mengapa kita harus bersyukur? Karena bersyukur adalah tanda kita memuliakan Tuhan. Ucapan syukur tanda ketergantungan hidup kita kepada Tuhan. orang yang suka bersyukur akan berpengaruh kepada semua aspek hidupnya, dan hidup dijalani dengan lebih ringan.

Secara ilmiah, bersyukur juga mempunyai beberapa manfaat antara lain:

Bersyukur dapat meningkatkan kesehatan fisik.

Manfaat bersyukur diungkapkan oleh sebuah studi dalam Personality and Individual Differences 2012 bahwa orang yang bersyukur lebih merasa sehat dan sedikit alami rasa sakit.

Bersyukur juga dapat meningkatkan kesehatan psikologis.

rasa syukur dapat  mengurangi racun dari perasaan emosi, iri, serta dendam. Robert Emmons seorang peneliti terkemuka melakukan banyak penelitian tentang hubungan rasa syukur dan kesejahteraan. Penelitiannya menegaskan  bahwa salah satu manfaat bersyukur secara efektif dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi depresi.

Bersyukur menciptakan kualitas tidur yang lebih baik.

Applied Psychology: Health and Well-Being menerbitkan sebuah studi (2011) yaitu menfaat bersyukur dapat membuat tidur lebih nyenyak. Hal ini dapat dibuktikan dengan melakukan mencatat beberapa perasaan bersyukur 15 menit sebelum tidur.

Bahkan sebuah situs web berita yaitu The Huffington Post yang disingkat juga dengan HuffPost memberitakan bahwa; remaja yang suka bersyukur akan memiliki pandangan hidup lebih baik, mempunyai moral dan tingkah laku yang baik disekolah, ditempat pekerjaan, sehingga mental hidup lebih baik dan membuat hidunya lebih bahagia ketimbang remaja yang tidak suka bersyukur. Selanjutnya, siswa sekolah menengah yang suka bersyukur mempunyai nilai akademis yang lebih besar, jarang mengalami depresi dan tidak mudah cemburu. Selain itu, siswa tersebut juga memiliki integrasi sosial dan kepuasan hidup yang lebih baik ketimbang siswa yang kurang suka bersyukur.

Oleh sebab itu, rekan-rekan youth, marilah kita menjalani hidup kita dengan ucapan syukur, karena itulah yang dikehendaki Allah bagi kita.

Hidup tak selalu sempurna, yang terjadi tidak selalu yang kita suka, tetapi kita bisa selalu bahagia dengan mensyukuri apa yang ada.

Kebaikan Tuhanlah yg menjadi alasan untuk kita bersyukur dalam hidup ini. Seperti ada tertulis dalam

I Tawarikh 16:34,”Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Amin! Jangan Lupa untuk bersyukur

Tuhan Yesus memberkati

MW – TVP

Mengeluh vs Bersyukur

Mengeluh vs Bersyukur

Renungan Harian, Jumat 15 Oktober 2021

Bilangan 11:1 “Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan.”

Shalom…. selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih.

Suatu ketika ada dua orang anak laki-laki yang sedang memakan buah anggur.  Salah seorang dari mereka berkata, “Anggurnya manis, ya?” anak yang satunya menyahut; “Memang, tapi sayang bijinya banyak sekali.”  Sembari berjalan menyusuri kebun, anak yang pertama berseru, “Lihat, mawar-mawar merah yang besar dan indah itu!”  Anak yang satunya berkomentar, “Ah… Mawar-mawar itu penuh duri!”  Kebetulan saat itu hari terasa panas sehingga mereka mampir ke sebuah kedai untuk membeli minuman soda.  Setelah meneguk minumannya beberapa kali, anak yang kedua mengeluh, “Botolku sudah kosong setengah.” Dengan cepat anak yang pertama kemudian menyahut, “Botolku masih berisi setengah!”

Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan banyak orang seperti anak yang berpikiran dalam cerita tersebut.  Mereka yang berpandangan seperti anak yang kedua senantiasa memandang kehidupan ini melalui kaca yang gelap.  Semuanya seperti negatif, tidak ada yang baik dan tidak ada yang menyenangkan.  Seperti halnya orang-orang Israel dalam Bilangan 11:1.  Mereka mengeluh dan bersungut-sungut ketika seharusnya mereka memuji Tuhan atas pemeliharaan-Nya yang murah hati.  Dengan mudahnya mereka melupakan bagaimana Tuhan telah membebaskan mereka secara ajaib dan penuh mujizat dari tangan penindas mereka, yaitu bangsa Mesir. 

Tidaklah demikian dengan pandangan dari orang-orang yang seperti anak pertama.  Mereka penuh ucapan syukur dalam menghadapi keadaan apapun.  Sekalipun bersikap realistis terhadap sisi suram kehidupan, tetapi mereka tidak cemberut ataupun rewel. 

Ketika kita memperhatikan sisi-sisi positif dari peristiwa yang terjadi, maka kita dapat lebih mudah untuk mengucap syukur, sehingga hati kita dipenuhi rasa sukacita dan muka kita tampak ceria dan gembira, dan dengan sendirinya imun tubuh pasti akan lebih baik. 

Sebaliknya ketika kita tidak mengucap syukur, kita cenderung akan mengeluh, sehingga kemudian bersungut-sungut.

Bayangkan bagaimana rasanya ketika Anda harus berjalan dan menghabiskan waktu bersama dengan orang yang terus mengeluh dan bersungut-sungut. Pasti rasanya menjengkelkan dan membuat perasaan diri kita menjadi tidak enak. Demikian pula Tuhan ketika bangsa Israel mengeluh dan bersungut-sungut, sehingga tak heran Tuhan kemudian menghukum mereka.

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih.  Kita dapat mengatasi pikiran yang negatif.  Siapa pun kita dan apa pun keadaan yang kita alami. 

Coba renungkan baik-baik, sebab ada banyak hal yang dapat selalu kita syukuri.  Renungkanlah kasih Tuhan bagi diri kita sendiri, bagi orang-orang yang kita kasihi dan bagi semua orang di sekeliling kita.  Pujilah Dia atas pemeliharaan-Nya

Daripada mengeluh tentang “duri”, lebih baik kita bersyukur atas “mawar” yang indah.  Kehidupan ini memang tidak mudah dan semua orang tahu itu, tetapi janganlah mengeluh seakan-akan hanya kita saja yang menderita.

Sebaliknya mari kita bersyukur karena pasti ada hal yang indah dan baik yang Tuhan sediakan buat setiap kita dalam setiap keadaan.   Orang Kristen yang sejati adalah pribadi yang dapat bersyukur sekalipun menghadapi keadaan yang tidak enak. Amin. 

Tuhan Yesus Memberkati.

DS

“BATU BESAR DAN BATU KECIL”

“BATU BESAR DAN BATU KECIL”

Renungan Harian Anak. Jumat 15 Oktober 2021

Hai..hai..hai.. Selamat Pagi adik-adik Elohim Kids yang dikasihi Tuhan.. Hari ini kembali kita akan membaca dan merenungkan Firman Tuhan..

Dengarkan cerita kakak yaa..

Suatu hari seorang pria datang menemui seorang pendeta. Sambil menangis ia menceritakan daftar dosa-dosa yang telah diperbuatnya.
“Akankah Tuhan mengampuni saya?” tanya pria itu dengan tersedu-sedu di akhir ceritanya.
Sang pendeta lalu mengajak pria itu ke tepi sungai. Ia disuruh mengambil batu besar dan melemparkannya ke air. Pendeta itu mengambil bebatuan kecil dan juga melemparkannya ke air.
Mana dari kedua batu itu yang akan timbul dari dalam air?” tanya sang pendeta. “Tidak ada,” jawab pria itu.
Pendeta itu lalu berkata, “Betul. Begitu juga dosa kita di hadapan Tuhan. Asal kita dengan sungguh-sungguh datang mengaku dosa dan memohon ampun kepada-Nya, besar atau kecil tidak diperhitungkan lagi karena Tuhan sudah menghapusnya.”

Adik-adik batu dalam sepenggal cerita diatas adalah gambaran dosa kita, tidak ada satupun yang bisa menghapus dosa kita kecuali pengampunan dari Tuhan Yesus yang sudah menebus dan membayar dosa semua umat manusia dengan pengorbanan-Nya diatas kayu Salib

Dalam Yohanes 8:1-11, Saat ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang berzinah, Yesus menempelak mereka. Jika mereka tidak berdosa, silakan mereka merajam perempuan itu. Nyatanya tidak ada seorang pun yang mengambil batu, dan satu per satu mereka meninggalkan tempat itu. Adapun Yesus, bukannya menghukum, Tuhan Yesus malah mengulurkan pengampunan, dan memberi perempuan itu kesempatan untuk hidup baru.

Adik-adik dari Kisah Pengampunan Tuhan Yesus ini setidaknya kita dapat belajar bersama dua pesan

Pertama, jangan menghakimi dosa orang lain.

Ingatlah Kita juga berbuat dosa; mengapa kita begitu sombong, menganggap dosa orang lain lebih parah daripada dosa kita? Seperti orang-orang dan para ahli taurat yang mau menghukum Wanita yang berdosa. Ingatlah bahwa setiap kita telah berbuat dosa dan tidak berhak untuk menghakimi orang lain. Karena yang layak untuk menghakimi hanya Tuhan saja.

Kedua, Tuhan tidak membeda-bedakan antara dosa besar dan dosa kecil.

Alkitab tidak mengajarkan dosa besar atau dosa kecil. Yang Namanya dosa adalah dosa yaitu pelanggaran terhadap hukum Allah. Yang penting bukan besarnya dosa kita, namun apakah kita bersedia dengan sungguh-sungguh datang mengaku dosa dan memohon ampun kepada-Nya.

Ada anugerah pengampunan yang Tuhan berikan bagi kita semuanya yang percaya kepada Tuhan Yesus. Mintalah pengampunan ketika adik-adik melakukan kesalahan kepada Tuhan dan seperti kisah perempuan berdosa diatas, kita harus mau untuk bertobat dan meninggalkan hal yang salah itu.

Ayat Hafalan:

1 Yohanes 1: 9, Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Komitmenku hari ini

Bukan tentang besar atau kecil dosa, tetapi yang terpenting adalah besarnya kasih Allah yang memberikan anugerah Pengampunan bagiku

GH – AEP