Renungan Harian Jumat, 14 Mei 2021

Bacaan: 1 Korintus 15:5-9

Pembacaan Firman Tuhan kita pagi ini berisi peristiwa-peristiwa Tuhan Yesus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Beberapa kali Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid-murid-Nya dan salah satu penampakan Tuhan Yesus yang pagi hari ini hendak kita renungkan adalah peristiwa ketika Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus diwilayah Galilea.

Nampaknya pada waktu itu murid Yesus telah sangat banyak, lebih dari 500 orang di Galilea. Hal ini mungkin disebabkan oleh pelayanan Tuhan Yesus sebagian besar terjadi di wilayah ini dan sebagian besar murid-Nya pun berasal dari Galilea.

Hampir dipastikan bahwa peristiwa ini sama dengan peristiwa yang dicatat di dalam Injil Matius 28:16-20. Hal ini berarti bahwa para murid menerima Amanat Agung untuk memberitakan Injil, bukan hanya untuk kesebelas murid, namun untuk semua murid-Nya.

Namun sayangnya ada tokoh-tokoh yang ternyata meragukan kebangkitan Yesus secara historis. Salah satu contohnya adalah Holtzmann yang menganggap bahwa kebangkitan Yesus bukanlah suatu peristiwa yang nyata tetapi merupakan halusinasi dari para murid. Senada dengan Holtzmann, seorang profesor Perjanjian Baru Gerd Ludemann melalui bukunya What Really Happened to Jesus, menuliskan bahwa peristiwa Kebangkitan Yesus tidak memiliki dukungan sejarah. Menurut Ludemann Perjanjian Baru tidak pernah menuliskan Yesus bangkit. Oleh karena itu, kebangkitan Yesus hanyalah iman tanpa bukti historis, dan merupakan produk halusinasi saja.

Saksi mata yang mengalami “sekaligus”

Paulus tidak hanya menekankan jumlah yang banyak dan momen yang berbeda-beda. Ia pun tertarik dengan jumlah yang banyak pada momen tertentu. Di setiap kisah kebangkitan yang ia singgung, selalu terdapat unsur komunal. Ada dua belas murid (ayat 5). Bukan hanya Petrus yang menyaksikan, tetapi semua murid sekaligus. Ada 500 orang saksi mata yang lain (ayat 6). Mereka melihat secara “sekaligus” (ephapax). Ada semua rasul (ayat 7). Penambahan “semua” (pasin) di sini menyiratkan bahwa kisah di ayat 7 dialami oleh semua rasul secara sekaligus. Seandainya yang dimaksud adalah semua rasul tapi pada momen yang berlainan, Paulus pasti sudah menggunakan ungkapan “setiap rasul,” bukan “semua rasul”.

Keterangan ini, sekali lagi, melemahkan teori halusinasi.

Tidak ada halusinasi yang dialami oleh sekelompok orang dalam jumlah besar dan pada momen tertentu yang sama. Halusinasi tejadi pada individu atau segelintir orang saja. Halusinasi biasanya terjadi dan berlangsung singkat hanya beberapa detik, atau menit, atau jam. Tetapi “Halusinasi” yang disaksikan oleh 500 saksi mata tersebut secara bersamaan dan pada tempat yang sama berlangsung selama 40 hari. (Kisah Para Rasul 1:3)

Halusinasi biasanya terjadi hanya satu kali, kecuali bagi yang orang yang tidak waras halusinasi yang dialami dapat berulang-ulang. Penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit terjadi berulangkali kepada orang-orang yang normal (Yohanes 20:19-21:14; dan Kisah Para Rasul 1:3).

Teori halusinasi hanya dapat digunakan untuk mencoba beragumen bahwa kebangkitan Yesus tidaklah benar terjadi, setelah kejadian kebangkitan mulai. Tapi teori halusinasi tidak dapat digunakan untuk berargumen dan menjelaskan bagaimana kubur Yesus kosong, batu penutup pintu kubur Yesus yang terguling sehingga kubur terbuka, dan tidak dapat membuktikan keberadaan tubuh Yesus. Tidak ada teori yang dapat menjelaskan hal-hal tersebut kecuali teori bahwa Yesus Kristus benar-benar bangkit.

Tuhan Yesus benar-benar bangkit dan DIA benar-benar hidup, mari kita penuhi Amanat Agung-Nya:

Matius 28:18-20, “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Tuhan Yesus Memberkati.

CM