“KEMUNAFIKAN”

May 25, 2021 0 Comments

Renungan Harian Selasa, 25 Mei 2021

Ayat bacaan Matius 23 : 1-36
Dalam hidup ini, pasti banyak diantara kita yang pernah bertemu dengan orang munafik. Didepan kita baik, memiliki perhatian dan lain sebagainya, tetapi dibelakang kita justru berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan.

Menurut kamus bahasa Indonesia, kemunafikan artinya kebohongan, berpura-pura percaya atau setia, tetapi sebenarnya tidak dalam hatinya; suka atau selalu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai perbuatannya; dan bermuka dua.

Dalam Perjanjian baru , kata ‘munafik’ diterjemahkan dari bahasa Yunani, yaitu ‘hupokrithes‘, yang mendasari kata bahasa Inggris yakni ‘hypocrite atau munafik. Kata dalam bahasa Yunani tersebut sendiri berarti seorang pemain drama. Dapat kita sebutkan, orang yang munafik itu memakai topeng atau not real (tidak apa adanya). Segala sesuatu dari dirinya cuma tipuan atau muslihat, tidak ada yang benar ataupun transparan, melainkan menutup-nutupi.

Dalam PB, kemunafikan juga sering kali dikaitkan dengan orang-orang Farisi, bahkan disamakan sebagai ular.

Matius 23 : 13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
Matius 23 : 33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

Semasa pelayanan Tuhan Yesus di dunia, Ia menerima & mengampuni orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, wanita yang kedapatan berzinah, maupun lainnya. Namun kali ini didalam Matius pasal 23 ini, Yesus justru mengecam dan mencela para ahli Taurat dan orang orang Farisi. Sebab mereka semua adalah orang yang bermuka dua, atau yang biasa kita sebut munafik.

Mengapa demikian? Apa yang menjadi penyebab Yesus mengecam dan mencela mereka?

1) KEMUNAFIKAN ORANG-ORANG FARISI DISEBABKAN OLEH KEBUTAAN MEREKA TERHADAP KESALAHAN MEREKA SENDIRI

Matius 7 : 5 , Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.

Mereka tidak  pernah menyadari ataupun tidak mau tahu kesalahan mereka sendiri. Kata ‘balok’ berarti ada penghalang di mata mereka. Demikian pun mungkin kita sering kali tidak menyadari kesalahan kita, tetapi kita hanya melihat kesalahan-kesalahan terkecil dari org lain,bahkan membesar-besarkan serta menyebarkannya. Sebaliknya, dosa besar atau masalah kita yang salah serta bertolak belakang dengan firman, kita malah mendiamkan, menganggap kecil, dan menutup-nutupinya. 

2) DENGAN GAYA KEAGAMAAN, MEREKA SEBENARNYA JUSTRU LALAI & BUTA TERHADAP PEKERJAAN PELAYANAN BAGI TUHAN.  

Lukas 12 : 56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Ahli Taurat serta orang Farisi mempelajari & sangat memahami kitab Taurat ataupun memegang hukum-hukum Musa, sehingga semestinya tahu menilai zaman, tetapi itu semua hanya penampilan luar supaya terlihat sebagai imam ataupun rohani, padahal tidak benar-benar peduli firman Tuhan.

3) MEREKA SEBENARNYA TIDAK MENGHIRAUKAN TUNTUTAN-TUNTUTAN DARI ALLAH.

Matius 23 : 14 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Firman Allah pasti berkuasa untuk berbicara kepada manusia, tetapi orang-orang Farisi serta ahli Taurat sesungguhnya tidaklah peduli terhadap firman-Nya dan kebenaran yang ada di dalamnya. Mereka belajar firman, jadi seharusnya mengetahui firman dan mana yang benar, namun justru melakukan apa yang bertolak belakang dengan firman ataupun yang salah. Mereka pun memanfaatkan fasilitas secara egois, mencari keuntungan bagi diri sendiri, serta memperdaya orang lain. Mereka menuntut orang lain melakukan yang harus dilakukan, tetapi tidak mau juga melakukannya sendiri.

4)    MEREKA SANGAT SUKA SEKALI MEMPERTONTONKAN ATAU MENONJOLKAN DIRI SENDIRI. 

Matius 6 : 2 , Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tujuan mereka sering kali hanya karena haus pujian. Mereka akan melakukan apa saja supaya dipuji orang.


Di Jaman yang serba cepat ini, kita pasti sering melihatnya. Apalagi di sosial media, orang orang berbuat kebaikan dengan membuat video dan menyebarkan kemana mana, tujuan hanya satu, yaitu agar mendapat pujian dari orang lain. Bagaimana dengan kita hari-hari ini, saat memberi persembahan kepada Tuhan, menolong orang lain, beribadah, berdoa ataupun berpuasa, apakah melakukannya secara tulus ataukah agar dilihat & dipuji banyak orang saja ? Apakah motivasi hati kita sungguh-sungguh ingin hanya Tuhan yang melihat sekalipun tidak ada orang yang melihat ataupun memuji, ataukah sekadar supaya ada orang lain yang memperhatikan dan menyanjung ?

C. S. Lewis pernah mengatakan Integritas adalah melakukan hal-hal yang benar sesuai firman Tuhan, meskipun tidak ada seorang pun lainnya yang memperhatikan atau melihat kita”.


Standar terbaik serta jalur yang tepat bagi integritas ialah kebenaran firman Tuhan. Ia pun mengenal kekurangan, kelemahan maupun kelebihan dan kemampuan kita, serta siapa kita sesungguhnya.
Hati-hatilah terhadap kemunafikan, bertobatlah, mengakui dosa dan meminta ampun kepada Tuhan, serta bangkit dari kesalahan kita sendiri. Berhentilah menyalah-nyalahkan keadaan ataupun orang lain. Tuhan pasti memiliki rencana & rancangan yang indah bagi kita masing-masing saat kita memiliki integritas dalam kehidupan ini.

Tuhan Yesus Memberkati

YG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *