Ketika Semua Mengecewakan

January 12, 2022 0 Comments

Renungan Harian, Rabu 12 Januari 2022

Bacaan : Habakuk 3:1-19

Nats: Habakuk 3:18, Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku

Syalom Bapak Ibu Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . .

Seorang peneliti bernamaGerhard Gschwandtner (Founder and CEO of Selling Power) pernah mengadakan riset mengenai kekecewaan. Anehnya ia menemukan sesuatu yang paradoks. Ada ribuan judul buku diperpustakaan tentang kesuksesan, sedangkan buku tentang kesedihan dan kekecewaan sedikit. Ini sangat mengherankan Gerhard, karena observasinya menunjukkan bahwa kekecewaan merupakan pengalaman yang lebih akrab dengan manusia ketimbang kegembiraan. Dukacita lebih sering terjadi daripada sukacita. Sedih, kecewa, dan gagal kerap terjadi, sementara sukses dan bahagia yang didamba sepenuh hati sering kali bagaikan “pungguk merindukan bulan”.

Begitulah realitanya. Ada orang kecewa dengan atasan, teman, atau keluarganya. Ada  yang kecewa pada keadaan, lingkungan dan masyarakat. Ada juga orang yang kecewa dengan dirinya sendiri. Bahkan, ada orang yang “kecewa” dengan Tuhan.

Perasaan kecewa sangat wajar dialami oleh setiap manusia. Begitu pula yang dialami oleh Nabi Habakuk. Ketika segala sesuatu tampak mengecewakan, tak terkendali dan di luar rencana. Bagaimana kita menghadapinya? Doa Habakuk ini bukan doa yang nyaman. Realitas hidup Habakuk adalah ketidakadilan, penindasan yang merajalela. Baginya, Tuhan seolah-olah membiarkan semuanya itu. Tidak ada keadilan! (Habakuk 1:2,3). Karenanya Tuhan menghukum Israel dengan perantaraan bangsa lain. Namun, bangsa lain yang menjarah ini kemudian akan berhadapan sendiri dengan murka Tuhan (2:6-20). Suasana benar-benar kelam. Di sinilah puisi doa Habakuk teruntai. Itulah sebabnya doa ini dinyanyikan dalam nada ratapan (ayat 3).

Habakuk memulai puisi ratapan tentang hidup yang mengkhawatirkan dengan merefleksikan kuasa Tuhan yang melebihi kekuatan-kekuatan mitologis (ayat 1-16). Masalahnya, kita sering menganggap kuasa-kuasa lain lebih berjaya daripada Tuhan. Kuasa Tuhan, entah bagaimana, kurang berasa. Di sinilah Habakuk menjadi contoh bagi kita. Perhatikan ungkapan sang nabi di akhir puisi doanya. Pesannya amat kuat dan jelas. Barangkali dapat dibahasakan ulang bahwasanya

Iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita.

Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah … kambing domba terhalau dari kurungan … namun aku akan bersorak-sorak, beria-ria di dalam Allah penyelamatku.”

Kata William Shakespeare, pengharapan merupakan akar dari segala sakit hati. Meski semuanya tampak mengecewakan dipemandangan kita.tetapi saat kita menaruh pengharapan dan  iman kita kepada Tuhan, tdak akan sia-sia. Tetaplah berharap seperti Nabi Habakuk dan kita bisa mengamenkan seperti dalam.

Habakuk 3:19, ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku

 Tuhan Memberkati

TC      

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *