MENCARI PEMBENARAN ALLAH

March 2, 2024 0 Comments

Renungan Harian Youth, Sabtu 02 Maret 2024

Bahan Bacaan     : Lukas 8:9-14

            Syalom, selamat pagi rekan-rekan youth Elohim semuanya. Apa kabarnya hari ini? Semoga sehat selalu dalam lindungan Tuhan. Ada seorang ibu tidak jadi membeli beras karena harganya sangat mahal. ibu itu mengeluh,”Ya Allah, apa pemerintah enggak tau kalau ini terlalu mahal?” Sementara itu calon pembeli yang lain mencibir,”Kamu jangan mengkritik pemerintah. kamu tuh enggak bisa beli karena miskin. kamu miskin karena kamu malas.” Apa yang diucapkan oleh calon pembeli yang sombong diatas adalah sebuah kesalahan berpikir. William Ryan menyebutnya dengan istilah “blaming the victim” atau menyalahkan orang yang sebetulnya sudah menjadi korban.

Faktor terjadinya blaming the victim bisa dari faktor institusional, situasi, maupun individu. Tindakan blaming the victim dapat terjadi melalui verbal, non verbal dan juga media sosial.

            Dalam Injil Lukas 8:9-14 menceritakan sebuah perumpaan yang disampaikan oleh Yesus mengenai orang farisi dan pemungut cukai. Seorang pemungut cukai adalah orang yang memungut pajak dari rakyat Israel atas nama pemerintahan Roma. Mereka sangat dimusuhi oleh orang-orang Israel karena mereka dianggap melayani penguasa Roma, dan dengan demikian adalah pengkhianat bangsa. Mereka dipandang sebagai orang tidak beragama dan tidak memiliki hati nurani, yang tidak peduli pada kesejahteraan rakyat Israel, umat Allah, bangsa mereka sendiri. Di sisi lain, golongan Farisi merupakan pemimpin masyarakat, baik secara politis (yang terpilih sebagai perwakilan Farisi di Sanhedrin) maupun religius (pemuka agama). Jadi, secara status sosial saja, orang-orang Farisi memang memiliki keuntungan daripada para pemungut cukai. Mereka menilai diri mereka dihadapan Allah lebih tinggi daripada para pemungut cukai. Semua kebaikan mereka dapat paparkan untuk membuat Allah terkesan, padahal yang diinginkan Allah bukan hal tersebut, melainkanAllah ingin mereka terkesan dengan semua kebaikan-Nya. Apa yang diucapkan orang farisi tersebut tidak benar di hadapan Allah. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari perumpamaan tersebut :

  • Jangan mencari pembenaran diri sendiri (ayat 9a)

Orang farisi yang ada dalam perumpamaan tersebut sedang mencari pembenaran dirinya sendiri, dengan membandingkan dan menyudutkan orang lain. Tindakan blaming the victim dilakukan oleh orang Farisi tersebut kepada si pemungut cukai. Dari doa yang dipanjatkan oleh orang Farisi terlihat bahwa dia bukan sekadar meyakini kebenarannya sendiri, melainkan memegahkan kebenaran itu di hadapan Allah dan orang lain. Ini bukan sekadar menganggap diri benar; tetapi menyombongkan kebenaran diri. Kesombongan ini diletakkan pada hal-hal rohani, bahkan doanya mengecoh, diawali dengan ucapan syukur, tetapi kemudian mulai menceritakan dirinya sendiri.

Ucapan syukur seharusnya menceritakan apa yang Allah perbuat bagi kita, bukan menyombongkan diri kita sendiri.

Memiliki kebenaran tidaklah salah. Menyadari bahwa kita benar di hadapan Allah juga tidak selalu salah. Bukankah Yesus sendiri mengungkapkan bahwa si pemungut cukai dibenarkan oleh Allah (ayat 14a)? oleh sebab itu janganlah mencari pembenaran diri sendiri, tetapi perkenanan dan pembenaran dari Allah.

  • Jangan memandang rendah orang lain (ayat 9b)

Orang Farisi memandang rendah si pemungut cukai ketika ia berdoa kepada Allah. Orang Farisi menilai diri mereka dihadapan Allah lebih tinggi daripada para pemungut cukai. berbeda dengan si pemungut cukai. Si pemungut cukai menyadari dengan benar bahwa dia tidak benar. Dia berdiri jauh-jauh. Dia merasa tidak layak untuk menjumpai Allah yang kudus. terlihat dari isi doanya sangat singkat dan juga sederhana: “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini”. Pemungut cukai hanya meminta kemurahan Allah. Tidak ada hal yang dia ucapkan untuk membenarkan atau membela diri sendiri. Yang dilakukan pemungut cukai justru tidak memandang rendah orang Farisi yang ada disampingnya.

Rekan-rekan youth yang dikasihi Tuhan. maelalui perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus tersebut mengajarkan kehidupan kita untuk tidak mencari pembenaran diri sendiri dan memandang rendah orang lain. karena hal-hal tersebut adalah bentuk-bentuk kesombongan yang menyebabkan kita berdosa dihadapan Tuhan. Yakobus 4:6,” Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Tuhan memberkati!

PENGUMUMAN

Kami mengundang rekan-rekan semuanya untuk bisa hadir dalam Youth ang akan diadakan pada hari SABTU, 02 Maret 2024 jam 17.00 di Gedung Gereja Elohim Batu

Tema youth celebration kita minggu ini adalah tentang ” HIDUP SEBAGAI SEBUAH PERSEMBAHAN”

Dalam Surat Roma 12:1, Rasul Paulus memberikan nasehat yang berhubungan dengan persembahan. Tuhan berfirman: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Dalam hal ini, kita diingatkan bahwa ibadah tidak hanya sebatas beribadah di gereja pada hari Minggu, namun juga mencakup perilaku keseharian. Perilaku seorang Kristen harus mencerminkan karakter Kristus, di antaranya mengasihi, memaafkan, hidup kudus, dan menyenangkan hati Tuhan Yesus Kristus…

Yuk untuk lebih jelasnya datang dan bergabung Bersama dengan kita semuanya.

Dan jangan lupa Ibadah besok jam 06.00 WIB serta Sekolah minggu jam 08.00 di GPdI Elohim Batu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *