“Saat Semuanya Tidak Berarti”

June 30, 2021 0 Comments

Renungan Harian Rabu, 30 Juni 2021

Syalom Selamat Pagi Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus . . . .

Saat membongkar garasi putra saya, saya menemukan semua trofi yang ia menangkan melalui berbagai macam pertandingan atletik selama bertahun-tahun. Semuanya itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak kardus, dan siap untuk dibuang. Kami mengenang darah, keringat, dan air mata yang mengucur demi mendapatkan semua penghargaan itu. Namun sekarang ia membuangnya. Semuanya itu tidak berharga lagi baginya. Ia adalah mantan pelari tercepat dunia tahun 90-an, Asafa Powell. Saya jadi teringat pada sebuah puisi anak-anak yang aneh karangan Shel Silverstein berjudul “Hector si Kolektor“. Puisi itu mengisahkan tentang semua benda yang dikoleksi Hector selama bertahun-tahun. Ia “menyayangi benda-benda itu lebih dari berlian yang bersinar, lebih dari emas yang berkilauan“. Lalu Hector mengundang semua temannya, “Kemarilah, aku mau membagikan hartaku!” Lalu semua temannya “datang untuk melihatnya, tetapi mereka menyebut barang-barang itu sampah!

Seperti itulah nantinya akhir hidup kita. Semua milik kita, semua benda yang kita perjuangkan di sepanjang hidup kita, menjadi tidak berarti apa-apa kecuali sampah. Saat itulah kita diyakinkan bahwa harta bukanlah hal yang paling berharga dalam hidup ini.

Kenalkah kita dengan Bill Gates, pria 82 tahun ini memiliki nilai aset sebesar 53,5 miliar dolar AS. Bill Gates, pendiri sekaligus Chairman Microsoft, menjadi orang terkaya di Amerika Serikat selama 20 tahun berturut-turut berdasarkan daftar yang dilansir majalah Forbes di tahun 2018. Dia menghabiskan banyak uang untuk kegiatan amal dan berjanji akan menyumbangkan mayoritas kekayaannya, tetapi tahukah kita, Gates bukannya menjadi miskin tetapi justru bertambah kaya. Gates memiliki kekayaan sekitar 72 miliar dolar AS (sekitar Rp 790 triliun) dan kekayaan dari Microsoft hanya sekitar seperlima saja. Kemurah-hatian Gates memang dikenal, terutama dengan usaha donasinya di Giving Pledge, yaitu mengajak orang-orang kaya dunia, untuk mendonasikan mayoritas kekayaan untuk kegiatan sosial publik. Orang ini menjadi contoh bahwa semestinya kita bertindak bijkasana dalam mengolah kekayaan dan semua potensi dalam diri kita.

Mulai saat ini kita akan memiliki cara pandang yang benar, seperti cara pandang Paulus.

“(Filipi 3:7-8)“Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku tela melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus.

Kita harus bersikap wajar terhadap harta milik kita, karena sebenarnya kita telah memiliki harta yang paling bernilai, yaitu pengenalan akan Kristus Yesus Tuhan kita. Karena semua yang menurut kita berharga, pada akhirnya akan kita tinggalkan dan akan hancur tetapi bersama Kristus akan selamanya dan kekal.

Tuhan Yesus Memberkati ….

Kekayaan terbesar kita adalah kekayaan yang kita miliki didalam Kristus

David Roper

TC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *