
Renungan Harian Sabtu, 26 Juni 2021
Bacaan : 1 Korintus 2 : 1 – 5
Syalom Selamat Pagi Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus …
Sebelum mengalami pertobatan di dalam Kristus, rasul Paulus adalah seorañg muda keturunan Yahudi yang memiliki banyak hal yang dibanggakan oleh banyak orang. Ia adalah murid dari guru besar yang bernama Gamaliel, ia kaya, cerdas, taat menjalankan ibadah tetapi itu semuanya dianggap “sampah “ seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam ( Filipi 3 : 8 ). Malahan segala sesuatu kuanggap rugi , karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku lebih mulia dari pada semuanya . Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.
Rasul Paulus menjelaskan bahwa dirinya tidak berarti apa-apa, tidak ada yang Ia mau banggakan selain hanya Kristus yan ingin dia sampaikan kepada jemaat Korintus. Banyak orang-orang Korintus pada waktu itu, termasuk orang-orang Kristen, yang dengan mudahnya terpesona dengan kata-kata yang indah yang mereka dengar padahal berasal dari hikmat duniawi. Paulus menyadari hal itu, sehingga dia memberi penekanan bahwa kedatangannya ke Korintus untuk memberitakan Injil, tidak menggunakan kata-kata yang indah dan hikmat manusia/duniawi, tetapi datang dengan hikmat yang dari Allah. Paulus sendiri menyadari keterbatasannya memahami keadaan orang-orang Korintus, dan dia hanya berfokus pada berita tentang Yesus Kristus yang disalibkan.
Seperti yang tertulis pada 2:1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. 2:2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
Sejak awal ia tidak memakai kata – kata indah / hikmat kecakapan dan pengalamannya sebagai dasar pelayanannya, melainkan Tuhan Yesus Kristus sebagai dasar pemberitaan Injil. Seorang motivator sekuler bisa saja menjadi seorang pengkotbah yang hebat. Demikian seorang pemusik dapat memainkan alat musik yang bagus dan menyanyi dengan suara yang merdu. Tetapi semuanya akan sia-sia jika dilakukan tanpa iman dan bergantung pada kekuatan Roh Allah ( urapan Roh Kudus).
Secara manusiawi, rasul Paulus malah mengakui adanya kelemahan, ketakutan, dan kegentaran di dalam dirinya ketika datang ke Korintus untuk memberitakan Injil
(ay. 3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Sebab itu Rasul Paulus mengandalkan Allah dengan keyakinan akan kekuatan Roh Kudus, agar umat yang dilayani tidak bergantung pada hikmat manusia,),
tetapi kekuatan Allah di dalam Roh Kudus telah memampukan dia untuk pekerjaan atau pelayanan tersebut. Paulus juga menjelaskan bahwa kuasa Roh Kudus mencerahkan pikiran orang-orang percaya maupun yang tidak percaya
(ay. 4-5 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh. 2:5, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.).
Hal ini juga tampak dalam pelayanannya, dimana Paulus mengajak jemaat Korintus untuk melihat pelayanan itu dengan cara yang berbeda, sehingga perlu perubahan pola pikir dan cara pandang atas kehidupan dan pelayanan.
Menurut Paulus, kunci penting dari perubahan ini adalah pada penerangan Roh Kudus dalam pikiran orang-orang percaya. Orang-orang yang mengejar hikmat sejati pun tidak mampu melihatnya, tidak mampu melakukan perubahan dalam diri mereka, kecuali Roh Kudus yang bekerja dan menerangi mereka.
Saudara-saudara melalui renungan ini menunjukkan bahwa SIKAP RENDAH HATI diperlukan dalam melayani Tuhan karena segala apapun yang ada pada kita tanpa Tuhan semuanya tidak ada artinya, sebab itu kita bisa melayaniNya bukan karena kemampuan kita tetapi karena kasih karuniaNya di dalam kekuatan Roh Allah, sebab itu andalkan Allah didalam setiap hal dalam hidup kita. Tanpa Roh Allah kita bukan siapa-siapa ..
Tuhan memberkati kita semua ……
EW
PENGUMUMAN
IBADAH ONSITE GPDI ELOHIM BATU
MINGGU, 27 JUNI 2021
JAM 06.00 WIB
(TETAP DENGAN PROTOKOL KESEHATAN)


A big Amen.For to me to live is Christ.