Renungan Harian Selasa, 10 Oktober 2023
Nats: Mazmur 37:8, “Berhenti marah! Tinggalkan kemarahanmu! Jangan marah—itu hanya akan membawa celaka”.
Syalom Bapak Ibu Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . . .
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat akibat-akibat yang menggemparkan dari “dosa yang agaknya tidak berbahaya ini”. Betapa sering suatu hubungan kasih terganggu oleh karena seseorang merasa jengkel, lalu saling mempersalahkan.
Apa yang dapat membuat kita jengkel? Karena kita tidak bersatu dengan kehendak Allah; karena ego kita sendiri. Segala sesuatu harus sesuai dengan maksud kita. Jika tidak sesuai dengan maksud kita, maka hal tersebut mengacaukan pikiran kita. Kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu, kecil atau besar, yang datang dari manusia sesungguhnya diletakkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apabila pikiran kita menjadi kacau, maka kita memberontak terhadap Tuhan, dan ini mendukakan Dia.
Apakah ini benar-benar suatu dosa, ataukah semata-mata suatu kesalahan kecil dalam diri seseorang yang dapat dilakukan oleh setiap manusia? Firman Allah memberitahukan kepada kita apa yang dapat ditimbulkan oleh hal ini. Matius 15:12 menceritakan tentang bagaimana pekerjaan Tuhan Yesus menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi. Mula-mula mereka “hanya” kesal, akan tetapi betapa hebat akibatnya! Penduduk kota Nazaret, tempat Ia dibesarkan, merasa dihina oleh sabda- Nya. Lalu, mereka menghalau Tuhan Yesus dan berusaha membunuh Dia dengan cara melemparkan Dia dari tebing gunung (Lukas 4:29). Kejengkelan seperti itulah yang menyebabkan Tuhan Yesus sangat menderita, dan mereka yang bersangkutan melakukan kesalahan besar. Pada masa kini, hal tersebut juga mendatangkan akibat yang serupa.
Perasaan jengkel sifatnya sama seperti marah. Jika kita membiasakan hal tersebut menguasai kita, maka kita telah menjadi alat Iblis yang merusak persekutuan kasih. Selain itu, jika kita tidak dapat menguasai diri kita, maka kita telah melakukan tindakan yang berlawanan dengan kehendak Allah.
Jika kita mulai merasa jengkel, kita harus menghadapinya dan berkata, “Tuhan telah menetapkan hal ini. Keadaan ini, kata-kata ini, orang ini, atau apa pun adanya, sesungguhnya didatangkan oleh Tuhan kepadaku. Ini adalah sebagian dari rencana-Nya.” Jika hal itu terjadi dalam suatu situasi yang genting sehingga mengakibatkan kita “meledak” dalam sebuah pembicaraan, segeralah meminta maaf. Hal membenci dosa dan merasa menyesal karena dosa, akan mendorong kita untuk menyelesaikan hal itu dengan Tuhan dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita telah menjadi kesal hati. Jika kita mohon pengampunan kepada Tuhan Yesus, kita juga harus bersedia untuk bertobat secara konkret dan meminta maaf kepada mereka yang kita sakiti.
Perhatian kita sangat mudah teralih oleh masalah-masalah yang ternyata tidak ada artinya pada akhir kehidupan. Daripada jengkel karena banyak hal, dalamilah firman Allah dan terapkan dalam hidup Anda. Berjuanglah untuk bertumbuh dalam hikmat Allah setiap hari. Tetaplah memusatkan perhatian pada nilai-nilai yang jauh lebih berarti. Jadikan hal itu sebagai tujuan Anda, yakni bahwa suatu hari nanti Anda menyambut Sang Juruselamat dengan hati berhikmat, bukan dengan hati yang jengkel
Saudara-saudaraku yang terkasih, perhatikanlah hal ini: Setiap orang hendaknya cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah, karena kemarahan manusia tidak menghasilkan kebenaran Tuhan. (Yakobus 1:19-20)
KEJENGKELAN MEMBUAT MASALAH BESAR DI BELAKANG PERKARA-PERKARA KECIL
Tuhan Yesus Memberkati
TC