Renungan Harian, Sabtu 30 Agustus 2025
Nats: Keluaran 1:17, “ Tetapi bidan-bidan itu takut akan Tuhan dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka dan membiarkan bayi-bayi itu hidup “.
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,
Dalam kehidupan ini, kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihansulit Pilihan-pilihan yang menuntut keberanian, integritas dan pengorbanan. Di satu sisi, ada tekanan dari dunia, tuntutan dari atasan, atau bahkan norma-norma sosial yang mungkin bertentangan dengan apa yang kita yakini benar. Di sisi lain, ada suara hati yang dipempin oleh Roh Kudus, yang mendorong kita untuk setia kepada kebenaran Tuhan !.
Hari ini kita akan merenungkan sebuah kisah luar biasa dari Kitab Keluaran, kisah tentang dua orang bidan yang bernama Sifra dan Pua. mereka adalah wanita biasa yang dihadapkan pada sebuah perintah keji dari penguasa yang paling berkuasa di dunia saat itu. yaitu Firaun. Firaun memerintahkan mereka untuk membunuh setiap bayi laki-laki Ibrani yang lahir. Sebuah perintah yang menempatkan mereka dalam posisi yang sangat berbahaya. Namun respon mereka sungguh mencengangkan, mereka menolak untuk mentaati perintah raja. Mengapa? karena mereka takut akan Allah.
Melalui kisah ini, kita akan melihat bagaimana takut akan Tuhan bukan berarti ketakutan yang melumpuhkan, melainkan sebuah penghormatan yang mendalam dan kasih yang setia kepadaNya. Takut akan Tuhan adalah fondasi yang kokoh yang mendorong kita untuk melakukan apa yang benar, bahkan ketika itu sulit dan beresiko.
Ketakutan yang salah vs ketakutan yang Benar
Di dunia ini ada banyak hal yang bisa membuat kita takut, takut kehilangan pekerjaan, takut tidak dapat pelayanan, takut gagal, takut tidak diterima atau takut menghadapi hukuman. Firaun berusaha menanamkan ketakutan semacamini kepada Sifra dan Pua. Ia menggunakan kekuasaannya sebagai alat intimidasi, logikanya siapapun yang menolak perintah raja akan menghadapi hukuman berat bahkan kematian.
Namun Sifra dan Pua menunjukkan bahwa ada ketakutan yang lebih besar dan lebih kuat dari ketakutan akan manusia yaitu takut akan akan Allah.Mereka menyadari bahwa kekuasaan Firaun terbatas, tetapi kekuasaan Allah tidak terbatas. Jika mereka menaati Firaun dan melanggar perintah Tuhan untuk menghargai kehidupan, mereka akan menghadapi penghakiman yang jauh lebih serius. Mereka memilih untuk takut kepada Dia yang berkuasa atas hidup dan mati.
Contoh : Kita mungkin menghadapi situasi ditempat kerja kita di mana atasan meminta kita untuk memalsukan laporan atau menipu pelanggan demi keuntungan perusahaan. Ketkutan untuk kehilangan pekerjaan bisa jadi sangat nyata. Namun takut akan seharusnya lebih besar. Ketakutan akan Tuhan mendorong kita untuk berkata, Saya tidak bisa melakukan itu, karena integritas saya adalah cerminan dari iman saya kepada Tuhan, kita memilih untuk jujur bahkan jika itu berarti kita harus menghadapi konskwensi yang tidak menyenangkan.
Takut akan Tuhan mendorong Keberanian
Tindakan Sifra dan Pua bukanlah tindakan sembrono. Itu adalah tindakan yang lahir dari keberanian sejati, mereka berani menentang perintah Firaun karena rasa takut mereka kepada Tuhan lebih besar dari pada rasa takut mereka kepada raja. Ketakutan akan Tuhan membebaskan mereka dari belenggu ketakutan akan manusia. Keberanian mereka tidak datang dari kekuatan mereka sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Allah yang mereka takuti adalah Allah yang setia dan peduli, mereka tahu bahwa berpihak pada kebenaran Allah, Allah akan berpihak kepada mereka dan benar di ayat 20 dan 21. Ini adalah bukti bahwa Tuhanmenghargai dan memberkati orang-orang yang menempatkan Dia di atas segalanya.
Takut akan Tuhan menghasilkan Tindakan Nyata
Penting untuk dicatat bahwa ketakutan Sifra dan pua bukanlah sekedar perasaan. ketakutan itu termaterialisasi dalam sebuah tindakan nyata yaitu : mereka membiarkan bayi-bayi itu hidup. Mereka tidak hanya takut kepada Tuhan dalam hati mereka, tetapi mereka juga menunjukkan rasa takut itu melalui ketaatan mereka. Ini adalah inti dari iman yang sejati. Iman yang benar tidak hanya percaya tetapi juga berbuat. Yakobus 2 : 17, “Demikian juga halnya dengan iman, Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” Ketakutan akan Tuhan adalah iman yang hidup yang mendorong kita untuk melakukan kehendakNya dalam setiap aspek kehidupan kita.
Sebab itu dalam kehidupan sehari-hari takut akan Tuhan seharusnya memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang kecil maupun besar yaitu :
Berani jujur meskipun beresiko
Berani membela yang lemah dan tertindas
Berani memaafkan meskipun sulit
Berani bersaksi tentang kebaikan Tuhan kepada orang lain
Berani untuk berkorban waktu dan tenaga untuk melayani sesama
Jadi kesimpulannya
Kisah Sifra dan Pua adalah pengingat yang kuat bagi kita semua. Hari ini kita tidak berhadapan dengan perintah Firaun untuk membunuh bayi, tetapi kita dihadapkan pada “ Firaun2 modern” yang menuntut kita untuk berkompromi dengan kebenaran. Mungkin itu adalah tekanan untuk menipu dalam ujian, untuk berbohong, demi menjaga reputasi atau untuk berdiam diri saat melihat ketidakadilan.
Mari kita berlajar dari Sifra dan Pua. Mari kita tempatkan takut akan Tuhan di atas semua ketakutan lainnya. Jika kita benar-benar takut akan Tuhan, rasa takut itu akan memimpin kita untuk hidup dalam keberanian dan integritas melakukan apa yang benar dan pada akhirnya memberkati orang lain.
Yang menjadi perenungan kita: Apa Firaun dalam hidup kita yang mencoba menekan kita untuk berkompromi dengan kebenaran?Apakah keatkutan kita kepada Tuhan lebih besar daripada ketakutan kita kepada manusia?
Tuhan memberkati
EW