Elohim Ministry youth Sepakat, Seia, dan Sekata

Sepakat, Seia, dan Sekata



Renungan harian Youth, Rabu 01 April 2026

Dalam kehidupan remaja dan pemuda saat ini, kita hidup di tengah banyak perbedaan. Perbedaan pendapat di media sosial, perbedaan cara berpikir di sekolah atau kampus, bahkan perbedaan karakter dalam pergaulan atau pelayanan di gereja. Kadang-kadang hal-hal kecil bisa berubah menjadi perdebatan besar—siapa yang benar, siapa yang salah, atau siapa yang harus menang.

Ada saat-saat dalam hidup kita ketika kita lebih banyak berkecil hati daripada bersemangat. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita semua akan mengalami saat-saat seperti itu, dan sering kali hal ini terjadi saat menghadapi duka yang mendalam atau pengalaman negatif.

Tidak jarang perbedaan itu membuat kita merasa kesal, kecewa, bahkan menjauh dari orang lain. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya seharusnya berbeda.

Rasul Paulus menuliskan: Roma 15:5 “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus.”

Ayat ini mengajarkan bahwa kesatuan di antara orang percaya bukan sekadar hasil usaha manusia, tetapi merupakan karya Allah yang bekerja di dalam hati kita.

1. Perbedaan Itu Nyata, Tetapi Tidak Harus Memecah

Di jemaat Roma pada waktu itu ada dua kelompok orang percaya:

  • Orang Yahudi yang masih menjaga aturan makanan dan hari-hari tertentu.
  • Orang non-Yahudi yang merasa bebas dari aturan tersebut.

Perbedaan ini membuat mereka saling menghakimi dan tidak menerima satu sama lain (Roma 14). Ada yang merasa lebih rohani, ada yang merasa lebih benar. Roma 15:5 berbicara tentang Allah sebagai sumber ketekunan dan penghiburan, yang mampu membuat orang percaya hidup seia sekata sesuai dengan Kristus. Melalui ayat ini, Paulus mengingatkan bahwa kesatuan bukan sekadar hasil usaha manusia. Kesatuan sejati berasal dari Allah yang memberikan ketekunan untuk tetap sabar dan penghiburan untuk tetap mengasihi.

Hal yang sama sering terjadi dalam kehidupan remaja dan pemuda sekarang. Kita bisa berbeda dalam cara berpikir, kebiasaan, latar belakang keluarga  dan cara mengekspresikan iman. Namun perbedaan itu tidak harus menjadi alasan untuk bertengkar atau saling merendahkan. Tuhan memanggil kita untuk belajar hidup bersama di tengah perbedaan.

2. Seia Sekata Berarti Memilih Kasih daripada Ego

Ungkapan “seia sekata” (atau sehati sepikir) memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tidak bertengkar. Rasul Paulus memakai ungkapan ini untuk menggambarkan kesatuan hati yang lahir dari sikap seperti Yesus Kristus.

“Seia sekata” juga berarti kerendahan hati untuk saling menerima. Dalam konteks Roma 14–15 yang kuat dalam iman tidak merendahkan yang lemah, dan yang lemah tidak menghakimi yang kuat.

Kesatuan ini lahir ketika orang percaya lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Paulus tidak meminta semua orang untuk makan makanan yang sama atau merayakan hari yang sama.

Yang Paulus tekankan adalah kasih dan penerimaan. Seia sekata berarti:

  • memilih kasih daripada ego
  • memilih pengertian daripada penghakiman
  • memilih persatuan daripada kemenangan pribadi

Kesatuan sejati terjadi ketika kita belajar memikirkan orang lain, bukan hanya diri sendiri.

Ini bukan hal yang mudah, terutama di usia muda ketika kita ingin didengar, dihargai, atau dianggap benar. Tetapi justru di situlah kita belajar memiliki hati seperti Kristus.

3. Meneladani Hati Kristus

Teladan kita adalah Kristus. Ia tidak mencari kepentingan diri sendiri, tetapi datang untuk melayani dan menyelamatkan manusia. Ketika kita belajar memiliki sikap hati seperti Kristus—rendah hati, sabar, dan penuh kasih—maka kita dapat hidup rukun dengan sesama.

Kesatuan tidak berarti semua orang harus sama, tetapi berarti hati kita diarahkan kepada tujuan yang sama: memuliakan Tuhan. Kesatuan ini tidak menghapus perbedaan, tetapi mengubah cara kita memperlakukan perbedaan—dengan kasih, kerendahan hati, dan tujuan yang sama untuk memuliakan Tuhan.

Kesatuan dalam kehidupan orang percaya bukan berarti menghilangkan semua perbedaan, tetapi belajar memiliki hati yang sama seperti Kristus. Tuhan memanggil kita untuk hidup dengan kasih, kerendahan hati, dan kesabaran sehingga kita dapat saling menerima satu sama lain. Ketika kita memilih untuk membangun sesama daripada memenangkan ego kita sendiri, kita sedang menunjukkan kasih Kristus kepada dunia. Kesatuan seperti inilah yang menjadi kesaksian bahwa kita benar-benar hidup di dalam Tuhan.

Refleksi Renungan

Melalui firman Tuhan ini kita diingatkan bahwa dalam kehidupan kita sebagai remaja dan pemuda, perbedaan dengan orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kita mungkin memiliki cara berpikir, kebiasaan, atau pandangan yang berbeda. Namun Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk menjauh atau saling menghakimi. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memiliki hati seperti Kristus—rendah hati, sabar, dan penuh kasih. Ketika kita belajar menerima dan mengasihi satu sama lain, kita sedang membangun kesatuan yang memuliakan Tuhan.

Hikmat Hari Ini

Kesatuan bukan berarti kita sama dalam segala hal, tetapi kita memiliki hati yang sama untuk mengasihi dan memuliakan Tuhan bersama. ✨

Tuhan Yesus memberkati

TM – GA

JOIN GRUP

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Anda juga bisa mengikuti saluran Renungan Harian Kristen Elohim.id di WhatsApp dengan klik tautan berikut:
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7dcZJL7UVRcABBMw1f

Atau klik tombol dibawah ini >>>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *