Elohim Ministry umum “Aku Tidak akan melupakan engkau”

“Aku Tidak akan melupakan engkau”



Renungan Harian Kamis, 20 Oktober 2022

Bacaan : Yesaya 49

Ayat Pokok : Yesaya 49:15-16 “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku”

Shalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. 

Jika kita bicara tentang berapa besarnya cinta memang tidak ada ukurannya yang pasti. Setiap manusia memiliki ukurannya masing-masing dalam hal urusan cinta. Ada banyak orang yang mengungkapkan cinta mereka dengan ukuran yang sangat sulit untuk dijangkau orang lain, tetapi ada juga yang mengatakan hal-hal sederhana dan mudah dilakukan oleh orang lain tetapi ternyata meninggalkan kesan yang mendalam.

Ada sebuah “quote” yang berkata: menikahi orang yang kau cintai itu biasa, tetapi tetap mencintai orang yang kau nikahi adalah luar biasa.

Quote ini menggambarkan kualitas cinta yang tak pernah pudar, walau sudah lama menikah. Kita juga pernah mendengar pepatah yang mengatakan: cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang masa. menunjukan kualitas cinta orang tua kepada anak-anaknya.

Bapak, ibu dan saudara terkasih, pertanyaan terbesarnya sekarang adalah seberapa besarkah cinta Tuhan kepada kita? Bisakah kita mengukur dan membandingkan cinta Tuhan kepada kita dengan cinta kualitas cinta manusia? Ayat pokok kita di atas menuliskan denvan jelas kepada kita bahwa cinta Tuhan kepada kita melebihi cinta seorang ibu kepada anaknya. Persoalannya adalah seringkali kita meragukan bahwa Tuhan mencintai kita, apalagi jika kita sudah melakukan kebenaran Firman Tuhan tetapi kita tetap mengalami hal yang tidak baik.

Kita harus ingat bahwa kecenderungan manusia biasanya bisa menilai dan mengukur cinta Tuhan bila mereka mengalami keadaan yang baik, kalau keadaannya secara fisik semakin baik, pekerjaan semakin lancar maka berarti Tuhan makin mengasihinya. Namun, benarkah kadar cinta Tuhan itu berubah-ubah dan tergantung apa yang kita lakukan dan tergantung dengan apa yang kita alami? jawabannya; tentu saja tidak.

Cinta kasih Tuhan kepada kita tidak berubah. Ia adalah Allah Maha Kasih dan kasih-Nya abadi.

Kitab Ibrani justru mengatakan demikian; “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?  (Ibrani 12: 6,10-11).

Ingatlah bahwa kasih sejati Tuhan seharusnya dapat dipahami saat kapan pun, bukan hanya saat suka tapi juga saat duka.

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih,

inilah ukuran cinta Tuhan yang hakiki. Bukan hanya janji indah semata, tapi juga DISIPLIN yang tidak nyaman, namun IA melakukan itu dengan tujuan untuk melatih kita agar kita melakukan apa yang benar dan supaya kita beroleh bagian di dalam kekudusan-Nya.  Amin.

Tuhan Yesus Memberkati.

DS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *