Elohim Ministry umum Kualitas sebuah Persembahan

Kualitas sebuah Persembahan



Renungan harian Jumat, 07 Juni 2023

Anak yang dikorbankan Abraham: Ishak atau Ismael?

Umat Islam dan Kristiani sama- sama menghormati dan mengenal Abraham, namun keduanya berbeda pandangan tentang siapa anak yang dikorbankan oleh Abraham. Umat Islam menganggap bahwa yang dikorbankan adalah Ismael, sedangkan umat Kristiani menganggap Ishak-lah anak yang dikorbankan.

Kej 22:2; Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Dari Perjanjian Lama itu sendiri kita ketahui bahwa anak perjanjian itu adalah Ishak:

  • ·         Ishaklah yang menjadi anak satu-satunya yang dijanjikan Allah, sebab Allah berjanji bahwa anak perjanjian itu akan lahir dari Sarah- bukan wanita yang lain (lih. Kej 17:15-21).
  • ·         Tuhan berjanji bahwa keturunan Ishaklah yang akan mewarisi tanah yang dijanjikan kepada Abraham (Kej 13:14-18; 15:18-21; 28:13-14).

Bahkan dalam Perjanjian Barupun tertulis

  • “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal…” (Ibr 11:17)
  • •         “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (Yak 2:21)

Tuhan Memerintahkan Abraham untuk Mempersembahkan Ishak

Tuhan berjanji kepada Abraham, bahwa melalui Ishak maka keturunan Abraham akan seperti pasir di pantai dan seperti bintang di langit. Namun ketika Tuhan memberikan Ishak kepada Abraham dan Sara, selanjutnya Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Tuhan Tidak Peduli Jikalau Manusia dianggap “Bodoh” oleh dunia, Dia Hanya Meminta agar karena kasihnya, Manusia itu Taat dengan Benar

Selanjutnya, mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan kepada Abraham.

Dalam Kejadian 22:2, Tuhan memberikan perintah berikut ini kepada Abraham: “Ambillah anak lelakimu, anak lelakimu satu-satunya, Ishak, yang engkau kasihi, bawalah dia ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran, di salah satu gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Maksud Tuhan jelas: Dia menyuruh Abraham untuk mempersembahkan anak laki-laki satu- satunya, Ishak, yang dia kasihi, sebagai korban bakaran.

Memandang hal ini pada zaman sekarang, apakah perintah Tuhan tersebut masih bertentangan dengan pemikiran manusia? Ya! Semua yang dilakukan Tuhan pada waktu itu sangat bertentangan dengan cara berpikir manusia; itu tidak dapat dipahami manusia. Ketika seseorang tidak percaya, dan menganggapnya mustahil, Tuhan memberikan kepadanya seorang anak laki-laki, dan setelah dia memperoleh anak laki-laki, Tuhan memintanya untuk mengorbankan anaknya.

Bukankah ini sama sekali tidak masuk akal! Apa yang sebenarnya ingin dilakukan Tuhan?

Apa maksud Tuhan yang sebenarnya?

Dia memberikan seorang anak kepada Abraham tanpa syarat, tetapi Dia juga meminta Abraham untuk memberikan korban persembahan tanpa syarat. Apakah ini berlebihan? Namun Abraham sendiri tidak merasa bahwa Tuhan meminta terlalu banyak. Meskipun dia memiliki sedikit pendapatnya sendiri tentang hal itu dan meskipun dia sedikit curiga akan Tuhan, dia tetap siap untuk memberikan persembahan itu.

Pada titik ini, kita melihat bukti bahwa Abraham bersedia mempersembahkan anaknya? Apa yang dikatakan dalam kalimat-kalimat ini? Teks aslinya memberikan catatan sebagai berikut: “Maka Abraham bangun pagi-pagi benar dan memasang pelana keledainya lalu membawa dua orang bujang bersamanya dan Ishak anaknya; dia juga membelah kayu untuk korban bakaran itu lalu berangkatlah dia dan pergi ke tempat yang diperintahkan Tuhan kepadanya” (Kejadian 22:3).

“Tibalah mereka ke tempat yang Tuhan tunjukkan kepadanya, lalu Abraham mendirikan mezbah di sana, menyusun kayu dan mengikat Ishak, anaknya dan membaringkannya di mezbah itu, di atas kayu. Lalu Abraham mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anak lelakinya” (Kejadian 22:9-10).

Ketika Abraham mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anak laki-lakinya, apakah tindakannya itu dilihat oleh Tuhan? Ya. Keseluruhan proses—dari awal, saat Tuhan meminta agar Abraham mempersembahkan Ishak, hingga saat Abraham benar-benar mengangkat pisaunya untuk menyembelih anak laki-lakinya—menunjukkan kepada Tuhan hati Abraham, dan terlepas dari kebodohan, ketidaktahuan, dan kesalahpahaman Abraham sebelumnya akan Tuhan, pada waktu itu, hati Abraham untuk Tuhan adalah benar dan jujur, dan dia benar-benar akan mengembalikan Ishak, anak laki-laki yang diberikan kepadanya oleh Tuhan, kepada Tuhan.

Di dalam diri Abraham, Tuhan melihat sikap hati yang berkenan dihatiNya, ketika Abraham memberikan PERSEMBAHAN yang terbaik bagi Tuhan

Prinsip persembahan dalam era sebelum Kemah Suci berdiri dalam Perjanjian Lama, yakni: Persembahan merupakan respon si pemberi persembahan akan kasih, berkat, penyertaan dan perlindungan TUHAN.

Persembahan diberikan berdasarkan hubungan pribadi si pemberi persembahan dengan TUHANnya. Prinsip ini seharusnya menjadi blueprint, menjadi teladan dan semangat kita dalam memberikan korban persembahan kepada Tuhan. Bagi manusia, Tuhan melakukan banyak hal yang tidak dapat dipahami dan bahkan tidak masuk akal. Sementara itu, Abraham mampu menunjukkan ketaatan dalam dirinya kepada Tuhan, yang merupakan KUALITAS terbaik, dan yang mampu memuaskan hati Tuhan.

Pada saat itulah, ketika Abraham mampu menaati Tuhan, ketika dia mempersembahkan Ishak, Tuhan sungguh-sungguh merasakan kepastian kasih Abraham, yang menempatkan Tuhan diatas segalanya, bahkan melampaui hal hal yang tidak dapat dimengerti oleh cara berpikir manusia.

Tuhan Yesus memberkati

Pdt. Budi Wahono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *