FOLLOW ME



Renungan Harian Youth, Senin 02 Oktober 2023

Lukas 9:23, Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Tidak bisa dipungkiri, dan tidak bisa dihindari kita hidup d izaman dimana teknologi telah masuk disemua segi, kalau dulu … info dari tv, Koran, mulut ke mulut tapi sekaarng … Hal ini menjadi pengaruh terbesar dalam dunia remaja kita. Menurut survey Menkominfo: usia 9-19 peringkat 2, kecenderungannya untuk reel yang singkat tapi tidak dirasa lama  dan mereka bisa sajikan hal-hal yantidak serupa yang sering kita buka. Disinilah msk nya berbagai pengaruh dari dunia yang ditawarkan dan udah pasti mempengaruhi kita, KONTEN apa yang disukai. Apa lagi remaja itu masih rapuh dan labil, setia kawan sampe yang salah dan yang dosa jg ikutan setia. . seperti:  dari life stylee, fashion, game, apa yang trend, Kalo kita gak segera sadar maka ARUS pengaruh dunia akan mempengaruhi anak Tuhan  (kl mau dicek berapa lama kita habis untuk pengaruh yang baik, yaitu bisa dengan firman Tuhan, merenungkannya, dan berdoa) dan bisa jadi saat kita yang sesuai kebenaran malah dianggap jadul, kaku, gak asik, ketinggalan zaman, lebih jauh lagi anak yang hidup benar dibilang aneh…, ikut Tuhan gak bebas, gak boleh ini itu.

Rekan-rekan youth,

Menjadi pengikut Yesus bukan hanya sekedar datang, duduk, diam, dengar terus pulang, namun ada tanggungjawab di sana.

Dalam renungan kita pagi ini, kita dapat melihat suatu arahan Yesus kepada murid-murid-Nya. Bagaimana Dia menyampaikan Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia

Yesus dengan tegas mengatakan sesuatu yang harus dikerjakan oleh setiap murid-Nya tentang bagaimana menjadi Pengikut-Nya yang sejati.  Apa saja yang dimaksu oleh Tuhan Yesus?

  • Sangkal Diri 

Satu pertanyaan penting mengenai perihal tuntunan Tuhan ini, “Mengapa kita perlu menyangkal diri?” Jawabannya sederhana, karena penyangkalan diri merupakan tindakan iman yang menyatakan komitmen kita setelah lahir baru sebagai pengikut dan milik Kristus.

Dasar dari penyangkalan diri adalah pemahaman bahwa keselamatan hanya berasal dari Tuhan, tidak bisa dilakukan dengan cara sendiri. Setelah diselamatkan, orang-orang Kristen memahami bahwa Tuhanlah yang menjadi penguasa (tuan) di dalam kehidupan mereka. Oleh sebab itu, mereka tidak melakukan apa yang menjadi keinginan dirinya sendiri, tetapi keinginan Tuhan. Versi BIMK menerjemahkan dengan frasa “melupakan kepentingannya sendiri.”

Orang-orang Kristen harus mengesampingkan apa yang menjadi kepentingannya sendiri demi mengarahkan kehidupannya pada apa yang menjadi kepentingan Kerajaan Allah.

  • Pikul Salib  

Memikul salib berarti sebuah panggilan untuk hidup seperti Kristus. Suatu kehidupan baru yang siap untuk menderita, dihina, dicemooh, ditolak, bahkan dalam batasan anugerah tertentu, “salib” berarti bersedia menjadi martir bagi Kristus.

Memikul salib. Pada zaman Romawi, seseorang yang dijauhi hukuman salib akan dipaksa untuk memikul sendiri salibnya dari tempat dia dijatuhi hukuman sampai ke tempat penyaliban. Dengan cara demikian dipertontonkan bahwa dia telah berrsalah pada negara dan tunduk pada negara, yang telah menjatuhkan hukuman mati pada mereka.

Gambaran ini digunakan oleh Lukas untuk menyatakan bahwa orang Kristen harus menjalani hidup seolah-olah telah dijatuhi “hukuman mati,” yaitu mati terhadap nilai-nilai dunia yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan tunduk pada nilai-nilai dalam Kerajaan Allah. Apa yang orang-orang Kristen lakukan harus selaras dengan apa yang dikehendaki Allah. Sebagaimana orang-orang yang dijatuhi hukuman mati pada masa itu, orang-orang Kristen juga harus rela kehilangan harta benda dan nama baiknya. Dan jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, mati di sini pun berarti siap mati secara fisik demi menjadi pengikut Tuhan.  Lukas menuliskan bahwa menyangkal diri dan memikul salib ini harus siap kita lakukan setiap hari. Dengan cara itulah, berita tentang keselamatan di dalam Kristus akan menyebar ke dalam dunia.

Salib adalah tempat dimana Yesus mati di atasnya. Demikian juga dengan salib kita adalah sesuatu yang memungkinkan kita mati di atasnya. Itulah tempat kita menyerahkan nyawa kita. Kita mati bagi diri sendiri. Sebagaimana Kristus mengorbankan hidupnya bagi kita, kini Ia menuntut agar kita mati bagi diri sendiri untuk mengalami kehidupan baru yang telah Ia sediakan(Lukas 9:24).  Perlu diketahui, salib kita bukanlah pertengkaran dengan suami atau isteri kita, bukan juga pertengkaran orang tua dan anak. Salib juga bukanlah sakit-penyakit yang menimpa kita dan yang sampai sekarang tidak sembuh-sembuh juga.

Yang dimaksudkan sebagai salib kita adalah saat kita mengambil keputusan untuk berhenti menyenangkan diri sendiri.

  • Ikut Aku 

Kata ikut/mengikut, merupakan suatu perintah yang berarti memerlukan tindakan tak putus-putus. Setiap hari, di manapun kita mengikut dan menjadi pengikut Yesus. Kita membawa nama itu dan menjadi misionaris-misionaris Allah di dalam pekerjaan, sekolah, di rumah, di lingkunagn sosial. Dimanapun kita berada, jangan pernah lupa bahwa kita adalah pengikut Yesus.

Mengikut Aku. Jika ditinjau dari segi bahasa Yunani Koine, mengikut di sini menggunakan kala kini (present tense-form), berbeda dengan menyangkal diri dan memikul salib yang menggunakan kala aorist. Dengan ini, Lukas ingin menekankan bahwa mengikut Yesus merupakan proses yang terus menerus, seperti terjemahan BIMK, “terus mengikuti Aku.”

Mengikut Tuhan bukan sekadar komitmen yang dilakukan sekali saja, namun dilakukan seumur hidup.

Menjadi murid Tuhan Yesus berarti harus melakukan ketiga hal ini. Menyangkal diri (mengesampingkan identitas duniawi dan fokus pada identitas sebagai pengikut Tuhan) dan memikul salib (mati terhadap ambisi duniawi dan mengarahkan pada keinginan Tuhan) setiap hari harus menjadi komitmen orang-orang yang mau mengikut Kristus. Walaupun secara duniawi mungkin akan mengalami kerugian, tetapi para pengikut Kristus percaya bahwa dengan itu justru mereka akan menikmati hal yang lebih besar lagi di surga. Bahkan jika dengan menjadi pengikut Kristus mereka harus sampai kehilangan nyawa pun, itu bukan merupakan kerugian karena “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 9:24).

Terkadang ikut Tuhan kita nggak ngerti dng hdp ini, knp ini tjd Tuhan pdhal aku sdh seti tapi percayalah ia bersama kita sorti seorang sahabat yang tdk bejrln didpn atau diblkng tapi ia akan jln bersama2

Kuncinya, kita harus dilahirbarukan oleh Roh Kudus, sehingga bisa membedakan mana kehendak Allah yang menuntun kita pada “kehidupan” atau nafsu yang menuntun kita pada “kematian.” Roh Kudus akan mengubah cara pandang kita sehingga fokus kita ada pada pengharapan akan kemuliaan kekal di surga dan bukannya kesenangan sesaat di dunia.

Menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah karena membutuhkan totalitas, komitmen yang teguh, serta daya tahan yang kuat, karena hal ini berlangsung seumur hidup kita dan dalam setiap keadaan. Tentu saja secara manusia kita tidak akan mampu, namun karena penyertaan dan karya Allah, maka kita dimampukan untuk dapat tekun mengikut Kristus sampai di garis akhir kehidupan kita.

Setelah diselamatkan, setiap orang Kristen wajib menjalani kehidupan menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Menyangkal diri artinya berkata “tidak” pada kehendak diri sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.  Sedangkan memikul salib artinya rela menderita karena melakukan kehendak Tuhan. Kedua hal ini harus terus menerus dilakukan “setiap hari”. Keduanya adalah syarat utama bagi kita dalam mengikut Kristus setiap hari.

Salib yang kita pikul hari ini adalah melakukan firman Allah, yang adalah kehendak-Nya, dan meninggikannya di atas kehendak kita sendiri dalam setiap keadaan yang kita hadapi setiap hari.

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

EYC 30092023-YDK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *