Renungan Harian Youth, Rabu 04 Oktober 2023
Ibrani 13:7, Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.
Ibrani 13 berisi nasihat serta ajakan untuk berbagi kasih dalam hidup keseharian orang percaya. Sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan yang diberikan kepada kita, maka sebagai orang percaya sudah selayaknya kita memiliki keinginan dan tujuan untuk hidup menyenangkan hati Tuhan dan berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah.
Rekan-rekan youth, Mereka yang telah menjadi orangtua menyadari benar bahwa anak-anak belajar lebih cepat dengan mengobservasi serta meniru tingkah laku orang dewasa, bukan dengan mendengarkan perintah atau nasihat mereka. Begitu pula dengan kehidupan orang Kristen. Pertumbuhan iman dan karakter orang Kristen sangat dipengaruhi oleh teladan iman di dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, penulis kitab Ibrani menasihatkan orang-orang Kristen untuk mengingat pemimpin-pemimpin mereka, yakni orang-orang yang telah mengabarkan Injil, mengajarkan kebenaran firman, serta membentuk jemaat gereja.
Orang Kristen diundang untuk memerhatikan hidup dan mencontoh iman dari umat Tuhan dan pemimpin di zaman gereja mula-mula.
Apa yang perlu diingat, diperhatikan, dan dicontoh dari para pemimpin rohani seperti ini? Kita perlu mengingat kesetiaan mereka dalam memberitakan Injil serta firman. Firman Tuhan yang mereka beritakan, berbuah dalam gaya hidup mereka. Bukan hanya pemikiran, tetapi sikap hidup mereka juga patut menjadi perhatian. Penulis kitab Ibrani meminta jemaat untuk mengobservasi dengan seksama serta merenungkan teladan para pemimpin tersebut.
Ajakan ini bukan sekadar untuk mengenang atau mengenang mereka, tetapi untuk mempertimbangkan dengan hati-hati pesan yang mereka bagikan dan teladan yang mereka berikan.
Secara khusus dalam pasal 13 ini, penulis memberikan nasihat tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai orang-orang yang hidup berdasarkan kemurahan Allah. Dengan kata lain, penulis surat Ibrani mau memberikan nasihat atau pengajaran bahwa kehidupan Kristen yang sejati bukan hanya bicara soal iman atau hubungan pribadi dengan Tuhan tetapi iman yang sejati juga nampak dalam kehidupan sehari-hari, nampak dalam hidup persekutuan. Disamping itu penting bagi setiap kita untuk memperhatikan teladan hidup dan iman dari para pemimpin rohani. Sadar atau tidak sadar selalu ada sesuatu yang kita bisa pelajari dari para pemimpin rohani kita, dan suatu saat hal-hal yang keras dari suatu prinsip yang dipegang oleh pemimpin rohani kita berdampak besar bagi kita ketika kita sudah terjun dan menjalani kehidupan di dalam masyarakat luas yang penuh dengan dinamika.
Karena itu, supaya nasihat yang diberikan ini bukan hanya berhenti pada teori atau hanya sekedar kata-kata saja maka penulis memberikan contoh konkrit yang dapat diteladani oleh jemaat yaitu yang dapat kita baca pada ayat 7-8 dan ayat 17. Para pemimpin ini telah memberikan berbagai hal yang dapat diteladani oleh jemaat dari apa yang telah mereka lakukan dalam pelayanan, bahkan sampai mereka sudah tidak ada lagi.
Apa yang harus diteladani dari mereka ? yaitu kesetiaan, ketekunan, ketaatan mereka, karena itu teladanilah iman mereka.
Ayat emas di atas mengundang kita untuk mencontoh sesuatu yang baik. Kata “contohlah” pada ayat tersebut dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “emulate”. Kata “emulate” lebih daripada sekadar meng-copy. Secara definisi, “to emulate” berarti to match or surpass (a person or achievement), typically by imitation, ini bisa berarti meniru, menyamai, bahkan menandingi atau melebihi pencapaian mereka. Jika memungkinkan, saat mencontoh teladan kehidupan para pemimpin rohani kita, jadilah lebih daripada mereka yang telah mendahului memberikan teladan kepada kita. Ini dimungkinkan karena kita memiliki iman kepada Tuhan yang sama dengan mereka, yaitu iman kepada Kristus Yesus. Ingatlah bahwa Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini, dan sampai selama-lamanya (ay. 8).
Selain mengingat, orang beriman diperintahkan untuk taat dan tunduk kepada mereka yang memimpin mereka dalam perjalanan spiritual mereka. Ketundukan ini bukanlah ketaatan buta melainkan pengakuan rendah hati atas peran pemimpin spiritual dalam membimbing, mengajar, dan mengawasi jiwa kawanan mereka.
Ini juga merupakan pengingat bahwa para pemimpin ini bertanggung jawab kepada Tuhan atas penatalayanan mereka.
Dalam konteks hari ini, ajaran ini menjadi pengingat akan pentingnya bimbingan rohani dan komunitas dalam perjalanan iman kita. Kita diingatkan untuk menghargai, menghormati, dan belajar dari mereka yang membimbing kita dalam iman, mengenali peran mereka dalam pertumbuhan dan kedewasaan rohani kita.
Rekan-rekan youth, pada praktik hidup yang kita kerjakan, kita harus tetap, saling menguatkan, saling memeperlengkapi, saling menopang, dan saling menghidupkan satu dengan yang lain, supaya dengan demikian kitapun secara bersama-sama bertumbuh menjadi orang-orang Kristen yang memiliki iman yang kuat dan teguh, dan kita harus tetap saling menasihati dan saling mendoakan supaya kitapun mampu melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita.
Jika Allah dengan kerinduan-Nya ingin melihat kita menjadi pribadi yang kuat di dalam iman kepada-Nya, sangat mungkin bagi kita untuk mencontoh iman para pemimpin rohani, para penginjil atau pahlawan iman.
Yesus yang kita sembah yang akan memampukan dan memberi hikmat serta kekuatan bagi kita untuk menyampaikan firman dan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal-Nya. Kita diminta tidak hanya berkata dan bersikap baik saja, tapi juga membantu orang yang memerlukan pertolongan kita, sebab dengan menolong orang lainlah kebaikan tersebut dapat dirasakan nyata secara nyata. Melakukan perbuatan kasih kepada sesama dan berbuat baik, antara lain dengan menolong atau meringankan beban orang lain, adalah bagian dari ibadah yang berkenan kepada Allah yang dampaknya dirasakan oleh sesama.
Tetap semangat dan latihlah hidup kita untuk semakin taat dan beriman.
Amin, Tuhan Yesus memberkati
RM – NDK