Renungan Harian Anak, Rabu 13 Desember 2023
Syalom selamat pagi Elohim kids apa kabarnya hari ini? Kakak berharap adik-adik semua dalam keadaan sehat.
Adik-adik Pernahkah kamu ingin menjadi yang pertama dalam antrean? Mungkin untuk naik wahana di taman hiburan, mendapatkan makanan, atau dipilih dalam sebuah permainan atau perlombaah. Menjadi yang pertama bisa menyenangkan, dan terkadang terasa penting juga ya. Namun ternyata kita juga harus melatih hati kita supaya tidak mementingkan diri kita sendiri dan tidak peduli kepada orang lain.
“Hey kamu yang salah kok. Enak aja aku harus minta maaf duluan!! Kata Dani penuh emosi. “Ayo Dan mengalah kan tidak apa-apa” Joko berusaha mendamaikan. “Kamu nggak perlu ikut campur, deh “ujar Dani sambil mengacungkan jarinya tepat didepan wajah Toni. Dan akibatnya Dani dan Toni saling bermusuhan.
Kita pasti pernah kesal dengan orang yang membuat kita jengkel. Kita lebih mempersoalkan siapa yang benar dan salah. Siapa yang lebih besar dan kecil. Siapa yang lebih hebat. Setiap anak pasti ingin lebih unggul dari yang lainnya. Alkitab hari ini memberitahu kita tentang “menjadi pertama” yang berbeda. Ini tentang menjadi yang pertama dalam apa yang benar-benar penting, yaitu mengikuti Yesus.
Dalam Injil Matius 3:13-17, Justru Yohanes merasa harusnya ia yang dibaptis oleh Yesus. Karena Yohanes tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah. Tapi Yesus meskipun Anak Allah ,Yesus tidak mempersoalkan siapa yang lebih besar, lebih hebat. Ia tetap minta dibaptis oleh Yohanes, karena memang demikian kehendak Allaj dan kebenaran Firman harus digenapi. Artinya melakukan apa yang Allah inginkan dari kita, bahkan ketika itu tidak mudah atau nyaman. Itu berarti menempatkan Tuhan di urutan pertama dalam hidup kita, sebelum apa pun.
Adik-adik apa yang paling penting dalam hidupmu, apakah menjadi yang paling unggul adalah keinginan terbermu dan kamu mau mengalahkan semua sainganmu. Tidak salah ketika kita berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, namun kalo hati kita dikuasai dengan kesombongan dan keserakahan ini yang tidak boleh. Karena bisa jadi kita memakai cara yang salah bahkan tidak baik untuk menjadi yang paling hebat.
Ayo belajar dari bapak Yohanes, yang dengan rendah hati menyadari bahwa dirinya bukan yang terutama namun yang paling penting adalah Sang Mesias Yesus Kristus yang dimuliakan. Mari kita mengutamakan untuk melakukan apa yang benar dan kehendak Allah. Seperti kisah Dani yang marah karena tidak mau meminta maaf. Kita harus belajar seperti Yesus yang penuh kasih. Memaafkan terlebih dahulu, itu jauh lebih indah. Karena Teladan Yesus itu harus jadi “YANG PERTAMA” dalam hidup kita.
Ingat, menjadi yang pertama tidak selalu tentang menjadi yang tercepat atau yang terbaik. Ini tentang menjadi yang pertama dalam mengasihi Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Ketika kita menempatkan Tuhan di tempat pertama, hidup kita akan penuh sukacita, kemenangan, dan kasih.
Ayat Hafalan
Yohanes 3:30 Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.
Komitmenku hari ini
Jadilah yang Pertama, dalam mengasihi dan setia kepada Tuhan. Ketika Tuhan Yesus menjadi yang pertama maka hidup kita penuh sukacita, kemenangan, dan kasih
YNP – GCT