Renungan harian Senin, 02 Juni 2025
Ayat Utama: “Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.”
(Kisah Para Rasul 1:11)
Bayangkan jika kita adalah para murid Yesus yang menyaksikan Guru yang mereka kasihi ditangkap, disiksa, dan disalib. Harapan runtuh, rasa takut menyelimuti, dan masa depan seolah tak jelas. Itulah yang terjadi saat Yesus meninggalkan murid-murid-Nya untuk pertama kalinya — melalui kematian-Nya.
1. Saat Yesus “Meninggalkan” Mereka untuk Pertama Kali
Ketika Yesus ditangkap dan mati, para murid mengalami guncangan iman:
- Mereka melarikan diri (Markus 14:50-51)
- Petrus menyangkal Yesus (Matius 26:69-75)
- Semua dipenuhi ketakutan dan bersembunyi (Yohanes 19:38; 20:19)
Mengapa mereka demikian takut?
Karena mereka belum sepenuhnya mengerti dan hidup dalam firman-Nya (Lukas 24:5-12; Yohanes 20:9). Mereka telah mendengar perkataan Yesus, tapi belum memahami makna sebenarnya, sehingga saat ujian datang, mereka goyah.
2. Kuasa Kebangkitan yang Mengubahkan
Namun, keadaan berubah total setelah mereka mengalami sendiri kebangkitan Kristus:
- Mereka menjadi saksi mata kebangkitan (Lukas 24:48)
- Mereka mendapat pencerahan rohani – pikiran mereka dibukakan untuk mengerti isi Kitab Suci (Lukas 24:45)
- Mereka hidup dalam firman – bukan lagi hanya mendengar, tetapi menghayati dan melakukannya
Kebangkitan Kristus bukan hanya membawa harapan baru, tetapi juga kuasa untuk mengubah hidup. Para murid yang dulu penuh ketakutan kini siap menjadi pemberita Injil yang berani.
3. Saat Yesus Naik ke Surga (Meninggalkan Mereka Kedua Kali)
Ketika Yesus naik ke surga, para murid tidak lagi takut. Mereka tidak merasa ditinggalkan. Justru:
- Mereka bertekun dan sehati dalam doa (Kisah Para Rasul 1:12-14)
- Mereka dipenuhi sukacita dan pujian (Lukas 24:52-53)
- Mereka menjadi saksi yang aktif memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 2 dan seterusnya)
Apa bedanya?
Kini mereka memiliki firman yang hidup dalam hati mereka. Mereka memahami janji-Nya, dan percaya bahwa Yesus akan kembali.
Bagaimana dengan Kita Hari Ini?
Janji itu juga berlaku untuk kita: “Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kisah Para Rasul 1:11)
Namun ada pertanyaan yang menggelitik dari Lukas 18:8: “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Pertanyaannya bukan kapan Yesus akan kembali, tetapi apakah kita tetap setia dan beriman sampai Dia datang?
Kita hidup di zaman yang penuh tantangan dan godaan. Dunia menawarkan banyak hal yang bisa melemahkan iman kita — kesenangan sesaat, tekanan dari lingkungan, kesibukan hidup, bahkan penderitaan dan kekecewaan. Di tengah semua itu, kita harus berjuang untuk mempertahankan iman kita kepada Tuhan.
Iman bukan hanya untuk diucapkan, tetapi dijaga dan diperjuangkan setiap hari melalui doa, firman, dan persekutuan dengan sesama orang percaya.
Mari kita meneladani para murid yang terus bertekun dalam firman, sehati dalam doa, dan bersukacita dalam pengharapan — walau Yesus tidak lagi terlihat secara fisik, mereka tetap hidup dalam kuasa-Nya.
Demikian juga kita: meskipun belum melihat Dia, kita percaya dan mengasihi-Nya (1 Petrus 1:8), dan hidup menantikan kedatangan-Nya kembali.
Renungan ini mengajak kita untuk tidak hidup dalam ketakutan seperti para murid sebelum kebangkitan, tetapi hidup dalam pengharapan, iman, dan keberanian seperti para murid setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus.
Yesus akan kembali.
Mari kita hidup dalam firman-Nya, bertekun dalam doa, dan menjadi saksi-Nya di dunia yang penuh kegelapan ini.
Jangan sampai ketika Ia datang, Ia tidak menemukan iman dalam diri kita.
✨ Doa Penutup:
Tuhan Yesus, terima kasih atas pengorbanan-Mu dan janji kedatangan-Mu kembali. Tolong kami untuk hidup dalam iman yang teguh, memahami firman-Mu, dan menjadi terang di dunia ini. Biarlah saat Engkau datang kembali, kami didapati setia. Amin.
Rangkuman Khotbah
Pdt. Benoni D Kurniawan