Elohim Ministry umum Mengasihi Sesama seperti Mengasihi Diri sendiri

Mengasihi Sesama seperti Mengasihi Diri sendiri



Renungan Harian Rabu, 16 Juli 2025

Ayat Pokok : Yakobus 2:8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.

Syalom… Selamat Pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.

Ada seorang pemimpin Quaker [kelompok Kristen Protestan yang dikenal memiliki keyakinan pada cahaya batin yaitu keyakinan bahwa setiap orang memiliki hubungan langsung dengan TUHAN] Amerika yang hidup pada abad 18 bernama J. Woolman, adalah orang yang sangat peduli terhadap orang lain. Ia ingin memahami orang lain agar ia dapat membantu mereka. Woolman pernah dengan sengaja menaiki perahu yang sangat tidak nyaman dan murah untuk menyeberangi Atlantik.

Kabin yang gelap, suasana yang penuh sesak dan kotor itu, membuatnya hampir tak tahan  lagi, beberapa malam ia hampir tidak bisa bernapas hingga tengah malam. Ia harus bangun dan berdiri hampir satu jam ia mendekatkan wajah saya ke palka untuk menghirup udara segar… “Namun, saya sangat senang memiliki pengalaman ini.” ujarnya. Ia juga berkata ; “Ribuan orang yang juga diciptakan oleh Tuhan sering menderita rasa sakit seperti ini, bahkah lebih dalam dari saya.” Woolman dikirim untuk bekerja di antara orang-orang Indian. Ia harus membawa beban berat seperti seorang budak. Ia harus menahan lalat, rasa lapar dan haus, hutan yang pengap, dan terik matahari. Namun hatinya dipenuhi dengan kegembiraan karena ia merasakan sendiri rasa perbudakan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi diri dengan kehidupan sesama agar bisa membantu mereka.

Alkitab mencatat dalam Lukas 10:25-37 perumpamaan Tuhan Yesus tentang kisah orang Samaria yang baik hati. Suatu hari ada ahli Taurat yang datang kepada Yesus dan bertanya kepada-NYA, apakah yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Lalu Yesus membawa ahli taurat tersebut kepada hukum yang terutama dalam Taurat tentang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Setelah mendapatkan jawaban tersebut, ahli taurat tersebut melanjutkan dengan bertanya; siapakan sesamaku manusia?? Kemudian Yesus menjawab dengan memberikan perumpaan tentang orang Samaria yang baik hati – bapak, ibu dan saudara bisa membaca secara lengkap kisah tersebut kisah ini memberikan contoh bagi kita pelajaran penting tentang kepedulian kepada sesama tanpa memandang latar belakang atau status mereka.

Identifikasi diri terbesar yaitu inkarnasi dari Yesus Kristus.

Injil Matius 20:28 menuliskan bahwa ; “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” DIA datang ke dunia ini untuk melayani dan selama 3,5 tahun DIA melayani, mengerjakan apa yang diperintahkan Bapa-NYA. Bukan hanya melayani bahkan memberikan nyawa-NYA menjadi tebusan bagi banyak orang. 

lnilah tanggung jawab kita sebagai Pengikut Kristus

[1 Yohanes 3:16-18, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu bagaimanakah kasih Allah dapat tetap didalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Apakah mudah??? Tentu saja tidak bapak, ibu dan saudara terkasih. Kita harus bergumul dengan daging kita dan keinginannya yang selalu fokus pada keinginan diri. Namun 1 Petrus 2:19, 21 menuliskan; “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”  Ini adalah panggilan Allah yang merupakan kasih karunia bagi kita, karena Kristus telah memberikan teladan terlebih dahulu bagi kita dan marilah mengikuti jejak-NYA.

Bapak, ibu dan saudara terkasih. Oleh karena apa yang telah kita pelajari bersama hari ini, maka kita juga memiliki tanggung jawab untuk tidak mengisolasi diri dari sesama melainkan mengidentifikasi diri kita dengan mereka, serta mau berbagi dan turut merasakan penderitaan mereka. Bukan hanya bersimpati saja melainkan ikut berempati, turut terlibat dan merasakan pegumulan yang dialami dan mengulurkan tangan untuk memberikan pertolongan.

Bukan hal yang mudah, tetapi marilah kita mengijinkan Roh Kudus untuk berkarya dalam hidup kita, memberikan kemampuan kepada kita untuk bisa mengerjakan apa yang menjadi kehendak Kristis dalam hidup kita. Dan kiranya kasih karunia-NYA dilimpahkan senantiasa dalam hidup kita.

Puncak dari identifikasi diri dan kasih sejati ada pada inkarnasi Yesus Kristus yang datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya bagi banyak orang. Rasul Yohanes dan rasul Petrus menegaskan bahwa kasih harus diwujudkan dalam perbuatan dan kebenaran, meskipun itu berarti harus menanggung penderitaan demi kehendak Allah. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk tidak hidup terisolasi dari sesama, tetapi masuk dalam penderitaan mereka, mengulurkan tangan, dan menjadi saluran kasih Allah. Hal ini tidak mudah, tetapi melalui pertolongan Roh Kudus dan kasih karunia-Nya, kita dimampukan untuk mengikut jejak Kristus.

Hikmat Hari Ini:

Kasih sejati tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Mengasihi sesama berarti keluar dari kenyamanan diri, masuk dalam penderitaan mereka, dan mencerminkan kasih Kristus yang telah lebih dahulu menyerahkan diri-Nya bagi kita.

Amin.

TUHAN memberkati.

DS

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

1 thought on “Mengasihi Sesama seperti Mengasihi Diri sendiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *