Elohim Ministry youth HAVE A FAITH AND HOPE

HAVE A FAITH AND HOPE



Renungan Harian Youth, Rabu 13 Desember 2025

ROMA 15 : 13

Dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup, wajar jika kita menaruh pengharapan pada pertolongan Tuhan atau orang lain. Namun, kita perlu berhati-hati agar pengharapan itu tidak membuat kita pasif dan hanya menunggu. Pengharapan sejati harus disertai tindakan nyata. Mujizat Tuhan sering kali dinyatakan melalui usaha, kerja keras, dan langkah iman yang kita ambil sesuai perintah-Nya.

Tuhan memberkati ketika kita mau bergerak, berjuang, dan bertindak, bukan sekadar menunggu tanpa usaha. Misalnya, jika kita ingin memiliki teman yang baik, kita pun harus bersikap ramah dan suka menolong. Inilah iman yang hidup—iman yang menghasilkan tindakan. Tuhan menghendaki kita untuk tidak hanya percaya, tetapi juga taat bertindak di tengah kesulitan. Karena itu, kita harus berdoa, lalu melakukan bagian kita dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menolong dan mencukupi kebutuhan kita.

One might think it is understandable that self-centred, unconverted people find it difficult to get along with each other, but surely when people are born-again and have become new creatures in Christ, such problems can never arise. For, after all, when God is the centre of one’s life and service, what possible room can there be for the petty problems that besiege others?

Setiap orang membutuhkan pengharapan, terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang. Itulah sebabnya Alkitab menempatkan pengharapan sejajar dengan iman dan kasih sebagai tiga hal utama dalam kehidupan orang Kristen. Ketiganya disebut para teolog sebagai kebajikan teologis, yaitu kebajikan tertinggi yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap orang percaya. Kebajikan teologis ini menjadi dasar yang mengarahkan serta mengatasi kebajikan-kebajikan utama lainnya seperti kesabaran, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri.

Karena itu, pengharapan adalah kebajikan yang mulia dan sangat penting. Lalu, bagaimana cara memilikinya—terutama di zaman ketika pengharapan terasa hampir mustahil? Jawabannya justru mengejutkan: dalam masa-masa tersulit, pengharapan yang berakar pada iman kepada Allah dapat bertumbuh dengan subur dan teguh. Abraham menjadi teladan—ketika secara manusia mustahil baginya berharap memiliki anak, ia tetap berharap, melawan segala kemungkinan, karena yakin Allah sanggup memenuhi janji-Nya. Demikian pula, di tengah penderitaan dan aniaya, orang percaya justru ditempa menjadi tekun, teruji, dan semakin bertumbuh dalam pengharapan.

The Cross on which Jesus died had two planks – a vertical one and a horizontal one: Jesus came to bring peace not only between man and God (vertically) but also between man and man (horizontally). The vertical and the horizontal relationships go hand in hand. You cannot have the former if you ignore the latter

Bagaimana mungkin kesulitan besar justru menjadi lahan subur bagi tumbuhnya pengharapan? Kesulitan hidup sering kali menjatuhkan semua pegangan dan andalan kita, memaksa kita mencari sumber pengharapan yang sejati dan dapat diandalkan—yaitu Allah sendiri. Inilah sebabnya Paulus menuliskan berkat yang begitu indah kepada jemaat di Roma, yang hidup di tengah ancaman aniaya: “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam imanmu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan”. ROMA 15 : 13 Karena orang percaya telah dibenarkan oleh Kristus, diperdamaikan dengan Allah, dan dipersatukan dengan-Nya dalam kematian serta kebangkitan, maka mereka dipanggil untuk menjalani cara hidup yang baru—hidup yang berakar pada pengharapan ilahi yang tidak terguncang oleh keadaan.

once a person has understood and “seen” this truth of the Church being the Body of Christ, he should long to walk in humility, gentleness, patience, forbearance, love, unity and peace with his fellow-believers. When a Christian does not walk like that, it indicates that he hasn’t seen the Body of Christ.

Hidup yang baru digambarkan seperti mempersembahkan diri di atas mezbah. Dalam Perjanjian Lama, kurban adalah binatang yang mati, tetapi dalam Perjanjian Baru, orang percaya mempersembahkan kurban yang hidup—seluruh kehidupan yang dikhususkan untuk menyenangkan Allah. Wujudnya adalah hidup seturut firman-Nya: mata dijaga dari melihat hal-hal yang tidak patut, lidah digunakan hanya untuk perkataan yang membangun, dan perilaku mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Pembaruan ini bukan sekadar perubahan di permukaan, melainkan transformasi hingga ke kedalaman hati. Perbedaan hidup orang yang telah diperbarui bukan hanya terletak pada gaya hidup yang berbeda dari dunia, tetapi pada hakikatnya ia memang telah diubahkan.

Dalam hidup yang baru, orang percaya belajar rendah hati dan berperan aktif di dalam tubuh Kristus melalui pelayanan. Allah pun memberikan karunia-karunia rohani untuk melayani dan membangun jemaat. Jika kita telah diperbarui oleh Kristus, berarti kita telah menerima anugerah yang mengubah seluruh aspek hidup untuk tujuan-Nya yang mulia. Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan tekun dan setia, menjadi persembahan yang kudus dan berkenan di hadapan Allah.

Tuhan Yesus memberkati

LW – IFM

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800

Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *